Perundingan Damai Taliban-Afghanistan Kembali Dilanjutkan

Perundingan damai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan pimpinan Ashraf Ghani kembali dilanjutkan di ibu kota Qatar, Doha. Pembicaraan tersebut berlangsung setelah penundaan selama beberapa pekan. Selama penundaan, kekerasan dilaporkan meningkat di Afghanistan. Di

KIBLAT.NET, Doha – Perundingan damai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan pimpinan Ashraf Ghani kembali dilanjutkan di ibu kota Qatar, Doha. Pembicaraan tersebut berlangsung setelah penundaan selama beberapa pekan.

Selama penundaan, kekerasan dilaporkan meningkat di Afghanistan. Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden sedang melakukan perombakan jajaran diplomatnya.

Juru bicara Taliban, Mohammad Naeem pada Senin (22/02/2021) malam mengatakan dimulainya kembali pembicaraan merupakan kelanjutan dari kesepakatan antara pihaknya dan AS pada bulan Februari 2020 di Doha.

Tetapi pemerintahan Joe Biden tampaknya meninjau kembali perjanjian yang bertujuan untuk mengakhiri perang terpanjang yang pernah dijalani AS. Taliban telah bertempur melawan pasukan gabungan pemerintah Kabul yang didukung Barat dan pasukan asing sejak pemerintahan mereka digulingkan dalam invasi pimpinan AS ke Afghanistan pada 2001.

Pekan lalu, Taliban dalam sebuah surat terbuka meminta AS untuk sepenuhnya mematuhi perjanjian Doha. Termasuk penarikan semua pasukan internasional, dengan mengatakan pihaknya telah berkomitmen pada poin kesepakatan untuk mengamankan kepentingan keamanan AS di negara yang dilanda perang.

Washington sedang meninjau perjanjian perdamaian Doha yang ditandatangani pemerintahan Trump sebelumnya dengan Taliban ketika banyak saran di Washington bahwa penundaan tenggat waktu penarikan pasukan diperlukan. Namun, Taliban penundaan walau hanya sebentar.

Penundaan penarikan diduga ada hubungannya dengan pergerakan kelompok yang mengklaim sebagai afiliasi ISIS yang semakin aktif dan mematikan di Afghanistan timur.

BACA JUGA  Ahli Pidana: SP3 Pengawal HRS untuk Tutupi Kesalahan Polisi Sendiri

Baik Washington maupun NATO hingga saat ini belum mengumumkan keputusan tentang nasib sekitar 10.000 tentara asing, termasuk 2.500 tentara Amerika yang masih ditempatkan di Afghanistan.

Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg mengatakan pekan lalu bahwa pasukan dari aliansi transatlantik itu tidak akan mundur dari Afghanistan sebelum waktunya tepat, seraya menambahkan bahwa Taliban harus berbuat lebih banyak untuk memenuhi persyaratan perjanjian dengan AS.

Solusi Politik

Pemerintahan Biden, yang telah menekankan solusi politik untuk konflik yang berkepanjangan, mempertahankan diplomatnya Zalmay Khalilzad yang merundingkan perjanjian AS dengan Taliban. Tetapi sampai sekarang menghindari pernyataan definitif tentang jalan ke depan di Afghanistan.

Dimulainya kembali pembicaraan di Doha terjadi setelah aktivitas diplomatik yang sibuk, termasuk menjangkau para pejabat Pakistan dan Panglima Angkatan Darat, Jenderal Qamar Javed Bajwa.

Pakistan dipandang penting untuk membawa Taliban kembali ke meja perundingan, dan dapat menggunakan pengaruhnya untuk menekan Taliban agar mengurangi kekerasan di Afghanistan.

Pekan lalu, kepala Komando Pusat AS, Jenderal Kenneth F McKenzie, berada di Islamabad, begitu pula utusan Rusia untuk Afghanistan, Zamir Kabulov dan utusan khusus kementerian luar negeri Qatar, Mutlaq Bin Majed Al Qahtani.

Utusan khusus Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, Umar Daudzai dijadwalkan tiba di Islamabad pada hari Rabu.

Sementara rincian pertemuan itu masih samar, namun para pejabat yang akrab dengan pembicaraan tersebut mengatakan topik pengurangan kekerasan dan akhirnya gencatan senjata akan mendominasi.

BACA JUGA  Kerumunan Itu Berbeda dengan Kerumunan

Sumber: Al Jazeera
Editor: Rusydan Abdul Hadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat