Menlu Saudi: Biden Akan Membuat Hubungan Saudi-AS Semakin Baik

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan optimis hubungan antara Riyadh dan Washington akan sangat baik di bawah kepemimpinan Joe Biden.

KIBLAT.NET, Riyadh – Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan optimis hubungan antara Riyadh dan Washington akan sangat baik di bawah kepemimpinan Joe Biden.

Dalam wawancara yang disiarkan di TV Al-Arabiya pada hari Kamis (21/01/2021), Pangeran Faisal bin Farhan juga mengomentari penunjukan pemerintahan Biden. Ia mengatakan Biden menunjukkan pemahaman yang sama tentang masalah umum antara kedua negara.

“Kami optimistis memiliki hubungan baik dengan AS di bawah pemerintahan Biden,” kata Faisal.

Arab Saudi memiliki hubungan yang hangat dengan pemerintahan Trump, Washington berulang kali membela Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman terkait pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi dan juga soal blokade terhadap Qatar.

Namun, menjelang pemilihan, dalam kampanye Biden berulang kali berjanji untuk menilai kembali hubungan Washington dengan Riyadh, dan mengatakan pemerintahan Biden akan mendorong pertanggungjawaban atas pembunuhan Khashoggi dan mengakhiri perang di Yaman.

Koalisi yang didukung AS yang dipimpin oleh Arab Saudi dan UEA melakukan intervensi di Yaman pada Maret 2015 setelah Houthi, sebuah kelompok yang secara tradisional berbasis di utara negara itu, menggulingkan pemerintah yang diakui secara internasional.

Sejak saat itu, koalisi telah melakukan lebih dari 20.000 serangan udara, dengan sepertiga menyerang situs non-militer, termasuk sekolah dan rumah sakit, menurut Yemen Data Project.

Konflik yang berkepanjangan telah memicu apa yang disebut PBB sebagai “krisis kemanusiaan terburuk di dunia” dengan sekitar 24 juta orang terpaksa bergantung pada bantuan, sementara 10 juta hampir kelaparan.

BACA JUGA  Iran: Serangan AS di Suriah Memicu Aksi Terorisme

Sementara Trump memveto beberapa upaya kongres untuk mengakhiri dukungan AS terhadap perang di Yaman. Biden mengatakan dia berencana untuk mengakhiri bantuan Washington untuk koalisi.

“Pemerintahan Biden akan melihat bahwa kami memiliki tujuan yang sama berkaitan dengan situasi di Yaman,” kata Pangeran Faisal dalam wawancara, sebelum membenarkan keputusan pemerintahan Trump untuk menunjuk Houthi sebagai organisasi teroris.

Awal pekan ini, Tony Blinken, Menteri Luar Negeri AS yang baru mengatakan bahwa presiden baru akan mengakhiri dukungan AS untuk kampanye militer yang dipimpin Saudi.

“(Biden, red.) telah menjelaskan bahwa kami akan mengakhiri dukungan kami untuk kampanye militer yang dipimpin oleh Arab Saudi di Yaman, dan saya pikir kami akan mengerjakannya dalam waktu yang sangat singkat,” katanya.

Pemerintah Saudi baru-baru ini membual tentang sejumlah reformasi, termasuk penurunan eksekusi 85 persen dibandingkan dengan tahun lalu, dan pengurangan hukuman dua tahanan terkemuka.

Adam Coogle, Wakil Direktur Timur Tengah untuk Human Rights Watch memuji reformasi tersebut tetapi mengatakan Saudi masih melakukan pelanggaran HAM.

“Ada banyak reformasi yang bagus untuk digembirakan, tetapi tidak adanya kebebasan berekspresi apa pun dan tindakan keras politik yang berkelanjutan telah memitigasi Arab Saudi mendapatkan lebih banyak pujian untuk perubahan ini,” kata Coogle kepada New York Times.

Kelompok HAM mengkritik Riyadh karena terus menahan aktivis politik, jurnalis, cendekiawan, dan pembangkang.

BACA JUGA  Ahli Virologi: Covid-19 Bukan Senjata Biologi

Sumber: Middle East Eye
Editor: Rusydan Abdul Hadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat