Turki Setujui Penggunaan Vaksin Covid-19 Sinovac

Otoritas Turki memberikan lampu hijau untuk penggunaan darurat vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh China Sinovac Biotech Ltd. pada hari Rabu (13/01/2021).

KIBLAT.NET, Ankara – Otoritas Turki memberikan lampu hijau untuk penggunaan darurat vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh China Sinovac Biotech Ltd. pada hari Rabu (13/01/2021).

Hal itu membuka jalan untuk peluncuran program vaksinasi Turki yang dimulai dengan petugas perawatan kesehatan dan kelompok berisiko tinggi lainnya.

Menteri Kesehatan Turki, Fahrettin Koca dan anggota dewan penasihat ilmiah negara akan menjadi penerima pertama dan disiarkan  secara langsung di televisi.

Koca mengatakan program vaksinasi Turki akan dimulai pada Kamis, dimulai dengan petugas kesehatan. Dia mendesak semua warga untuk divaksinasi, dengan mengatakan itu adalah cara paling menjanjikan untuk mengalahkan pandemi.

Vaksin Sinovac telah dipelajari di Turki, Brasil, dan Indonesia, dan ada ketidakpastian tentang seberapa protektifnya.

Para peneliti di Brazil pekan lalu efektifitas vaksin sebesar 78%. Namun, pekan ini mereka mengumumkan data yang menunjukkan secara keseluruhan, efektivitas hanya di atas 50%.

Para peneliti di Turki dan Indonesia telah mengumumkan tingkat efektivitas yang lebih tinggi – masing-masing 91% dan 65% – tetapi studi tersebut terlalu kecil untuk dapat disimpulkan. Otoritas kesehatan global mengatakan vaksin apa pun yang setidaknya 50% efektif akan berguna.

Pengiriman pertama vaksin Sinovac, terdiri dari 3 juta dosis, tiba di Turki akhir bulan lalu. Turki dijadwalkan menerima total 50 juta dosis.

Turki sebelumnya juga telah mengumumkan bahwa mereka telah setuju untuk mendapatkan 4,5 juta dosis vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer dan BioNTech, dengan opsi untuk mendapatkan 30 juta dosis lagi nanti, meskipun Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Senin (11/12/2021) bahwa pembicaraan dengan BioNTech sedang berlangsung.

BACA JUGA  Kemenag Siapkan Asrama Haji untuk Isolasi Pasien Covid-19

Turki telah melaporkan sekitar 2,34 juta infeksi dan sekitar 23.000 kematian.

Negara itu telah memberlakukan pembatasan akhir pekan dan jam malam malam untuk melawan lonjakan kasus tersebut.

Sumber: AP
Editor: Rusydan Abdul Hadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat