Dua Versi Kronologis Penembakan Laskar FPI, Mana Lebih Kuat?

KIBLAT.NET – Dua versi kronologis terkait penembakan enam anggota FPI menyeruak di tengah masyarakat. Pertama versi Polisi yang menyebut pihaknya diserang, dan kedua versi FPI yang membantah Polisi.

Dalam konferensi pers, Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran langsung mengklaim bahwa pihaknya mengalami penghadangan saat melakukan penyelidikan. Memang sekilas pernyataan tersebut dapat dibenarkan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa mobil polisi dihadang?

Sekretaris FPI, Munarman menegaskan bahwa ketika kejadian, Polisi tidak berseragam dan mencoba menerobos barisan. Maka wajar jika para pengawal mengambil langkah proteksi. Terebih, selama kejadian Polisi tak mengeluarkan kartu identitas.

Lalu soal tembak menembak. Polisi mengklaim bahwa anggota FPI menodong senjata ke petugas, kemudian dilakukan penembakan. Namun Polisi tak merinci tentang kronologis tembak-menembak. Siapa menodong siapa, siapa yang memegang pistol, siapa yang memegang samurai, semua masih abu-abu.

Padahal, urutan peristiwa hukum ini perlu dijelaskan supaya publik tidak salah mengambil informasi. Jika memang terjadi perlawanan dari FPI, kenapa tidak ada foto jenazah mereka dan olah TKP? Biasanya, ketika ada kejadian polisi langsung memasang police line di TKP.

Di konferensi pers terakhir, Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo menyebut bahwa penggunaan senjata api dibuktikan dengan adanya jelaga di tangan anggota laskar. Tangan siapa, lagi-lagi Polisi tak mengungkapkan.

Kapolda Metro Jaya juga menyebutkan bahwa ada 10 Orang dalam peristiwa tersebut. Enam meninggal dan empat orang berhasil kabur. Pengacara FPI, Aziz Yanuar pun membantah bahwa kabar itu tak benar. Sebab, dalam satu mobil hanya berisi enam orang.

BACA JUGA  Komnas HAM: Penembakan Laskar Bukan Pelanggaran HAM Berat

Pengalihan penanganan kasus dari Polda Metro Jaya ke Mabes Polri pun dipertanyakan. Kalau hanya alasan locus delicti (lokasi kejadian) yang berada di Karawang, Jawa Barat, kenapa sejak awal Polda Metro Jaya yang melakukan penyelidikan?

Untuk saat ini, wajar jika masyarakat mengarahkan telunjuknya ke Polri sebagai yang bersalah. Sebab, bukti-bukti yang dibeberkan Polisi belum mampu memuaskan publik. Polri justru banyak berargumen yang di luar konteks. Misalnya, Polisi menyebut tidak ada kelompok atau ormas yang menempatkan diri di atas negara.

Sementara itu, FPI mampu membantah semua statemen Polisi. Dari mulai penghadangan hingga tuduhan tembak menembak. Dan Polisi tak ada bantahan bahwa saat kejadian, pihaknya tak berseragam, tak mengendarai mobil polisi dan tidak mengeluarkan kartu identitas. Maka, bagi saya versi FPI masih lebih kuat dari versi Polisi.

Penulis: Taufiq Ishaq

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat