Kiblatorial: Usut!

Apa yang selama ini kita khawatirkan akhirnya terjadi. Kemelut hubungan negara dengan sebuah ormas, merenggut nyawa.

KIBLAT.NET – Apa yang selama ini kita khawatirkan akhirnya terjadi. Kemelut hubungan negara dengan sebuah ormas, merenggut nyawa.

Enam orang pengawal Habib Rizieq Syihab (HRS) meninggal secara misterius. Awalnya FPI mengabarkan mobil mereka ditembaki orang tak dikenal.

Keberadaan enam orang tersebut tidak diketahui. Sampai akhirnya polisi umumkan mereka tewas didor karena menyerang petugas terlebih dahulu, dengan cara ditembak.

Sejumlah barang bukti digelar. Sayang, saksi atau bukti penguat bahwa barang itu milik korban, untuk melakukan serangan tidak atau belum ada. Pola yang mirip dengan alur cerita penangkapan terduga teroris.

Gayung bersambut. Munarman selaku Sekjen FPI langsung menangkisnya sebagai tuduhan. Anggota FPI dilarang menggunakan sajam dan senpi. Tak mungkin mereka menembak petugas.

Mereka juga tidak mungkin mengenali polisi karena tak ada atribut resmi saat peristiwa terjadi. Selain sebagai kelompok tak dikenal yang mencoba membuntuti rombongan mereka.

Peristiwa ini menebalkan ingatan publik atas perlakuan “aneh” negara terhadap FPI. Mulai dari rekayasa chatting (maaf) mesum, hingga pemerkaraan luar biasa pelanggaran protokol kesehatan.

Tak heran bila kemudian beberapa tokoh dan lembaga berkomentar. Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Ustadz Abdul Shomad, Aa Gym sudah bersuara. Muhammadiyah, KontraS hingga Komnas HAM pun demikian.

Mereka mengecam tindak kekerasan yang dilakukan dalam peristiwa Senin berdarah itu, siapapun pelakunya. Selain juga mendorong dilakukan pengusutan yang terbuka, tuntas dan transparan.

Pesan ini tentu bukan sebuah perkara ringan bagi polisi. Sebagai alat negara dengan segala kekuatannya, polisi harus membuktikan alasan mereka membunuh enam orang tersebut, sah secara hukum.

BACA JUGA  Amien Rais Minta Masyarakat Tetap Kawal Penembakan Laskar

Sekadar pengakuan internal atau jawaban klise, bahwa aparat mengambil tindakan tegas dan terukur menghadapi tindakan yang mengancam nyawa mereka saja, tentu belum cukup.

Kronologi, rekaman video, saksi pihak ketiga dan hal-hal lain yang membuat publik tidak lagi ragu dan bingung dengan statemen yang saling bertolak-belakang tentu diperlukan.

Sebab di luar kasus ini sudah berulang peristiwa serupa terjadi. Siyono di Klaten, Pendeta Yeremias Zanambani di Papua, atau yang belum lama terjadi pada kematian Qidam Al-Fariski di Poso.

Sambil menunggu hasil investigasi pihak-pihak yang berkompeten, kita tidak boleh putus berdoa agar kasus ini segera menemukan titik terang. Siapa pun yang bersalah, harus dihukum seadil-adilnya.

Sebab, jika masalah ini dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin peristiwa Senin, 07 Desember 2020 dini hari kemarin beranak pinak, melahirkan masalah baru yang semakin pelik.

Kita juga harus tetap pandai menjaga diri dengan terus memfilter informasi yang sampai pada kita. Dengan tetap merujuk pada sumber-sumber yang jelas dan tepercaya.

Hasrat ingin membagi informasi paling awal tanpa melakukan tabayyun, hanya akan menjadi mangsa empuk tangan-tangan kotor yang ingin menjerumuskan kita pada situasi yang lebih buruk.

Semoga Allah SWT menjaga umat Islam dan bangsa ini dari berbagai mara bahaya dan rencana keji dari iblis, baik dari golongan jin maupun manusia.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat