Lemban Tongoa dan Problem Penanganan Radikalisme

Masyarakat Poso tidak sekedar membicarakan kerukunan, namun terdepan dalam mempraktekannya.

Oleh: Ari Fahry, M.I.Kom*

KIBLAT.NET – Jum’at, 27 November yang lalu bangsa ini kembali berduka, kabar itu datang dari Lemban Tongoa, desa kecil di pegunungan Sigi, Kecamatan Palolo. Lemban Tongoa sendiri berdekatan dengan Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso. Di sekitaran pegunungan Sigi – Poso inilah ditenggarai saat ini tengah berada kelompok Gunung Biru (dulu dipimpin Abu Wardah alias Santoso).

Peristiwa mengenaskan ini bukan pertama kali terjadi dalam upaya pengejaran kelompok Gunung Biru yang saat ini dipimpin oleh Ali Ahmad. Di tahun sebelumnya, menjelang akhir tahun seperti ini tepatnya pada tanggal 13 Desember 2019, satgas Tinombala diserang oleh kelompok Ali Kalora di Desa Salubanga, Kabupaten Parigi Moutong. Penyerangan itu mengakibatkan tewasnya satu anggota Satgas bernama Bharatu Saepul Muhdori.

Sebelumnya lagi, di sekitaran Desember 2018, kelompok yang sama memutilasi satu orang warga di Dusun Salubanga Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong. Peristiwa tersebut juga mengakibatkan tertembaknya dua personel aparat keamanan Andrew Maha Putra dan Bripka Baso.

Bila ingin dirunut semuanya, masih banyak lagi korban yang meninggal selama upaya pencarian Kelompok Gunung Biru yang tidak kunjung berakhir ini, baik korban yang meninggal akibat pembunuhan kelompok tersebut, maupun korban sipil yang meninggal akibat tertembak pihak keamanan.

Refleksi Operasi Tinombala

Perburuan kelompok Santoso lebih kurang telah memakan waktu delapan tahun. Dalam masa itu, berbagai operasi telah dilakukan di Poso. Mulai dari Camar Maleo, hingga Operasi Tinombala yang berjilid-jilid ini.

Lamanya waktu pengejaran kelompok ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat luas. Logika masyarakat belum dapat menerima bahwa puluhan sipil bersenjata yang berdiam di belantara Hutan Poso, dengan persediaan dan peralatan tempur yang sangat terbatas dapat merepotkan negara dengan segala kelengkapan personel, persenjataan, bahkan anggaran yang jumlahnya tentu jauh lebih besar dari kelompok yang saat ini dikabarkan tinggal berjumlah 13 orang itu. Inilah episode pengejaran teroris terlama di Indonesia.

Komite Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) pada tahun 2017 telah meminta dilakukannya evaluasi dan akuntabilitas anggaran, terkait operasi Tinombala yang berlangsung di Wilayah Sulawesi Tengah. Disebutkan, Operasi Tinombala minim koreksi dan akuntabilitas dalam pemberantasan terorisme.

Operasi Tinombala seharusnya berakhir pada tanggal 30 September 2020 setelah diperpanjang pada 26 Juni yang lalu. Pasca peristiwa Lemban Tongoa operasi ini kemudian diperpanjang kembali hingga tanggal 31 Desember. Publik patut bertanya tentang evaluasi operasi ini sebelum kemudian diperpanjang kembali, mengingat operasi Tinombala menggunakan anggaran negara yang tidak sedikit.

BACA JUGA  Dewan Dakwah Beri Penghargaan Pilot SJI82 Sebagai Pilot Teladan

Konsekuensi Hukum pada Korban Salah Tembak

Pada bulan April dan Mei tahun ini, 3 orang warga menjadi korban penembakan oknum aparat kepolisian. Di Bulan April, remaja bernama Qidam Alfariski tewas tertembak sebab diduga merupakan bagian dari Kelompok Gunung Biru. Remaja berusia 19 tahun itu meninggal di Desa Membuke, berdekatan dengan pos penjagaan aparat. Sebulan kemudian 2 orang pekebun asal Kilo juga meninggal tertembak aparat.

Bila pada peristiwa Lemban Tongoa serta aksi-aksi kekerasan lainnya pemerintah mengutuk dan mendesak aparat untuk menangkap pelaku, bagaimana dengan korban salah tembak ? Siapa yang akan mendesak dan meminta aparat untuk mengungkap dan menangkap pelaku penembakan? Siapa yang bertanggungjawab dan apa konsekuensi hukum dari peristiwa itu ?

Delapan bulan berselang dari peristiwa penembakan aparat pada warga masyarakat tersebut, belum ada perkembangan berarti yang dapat memuaskan rasa keadilan warga dan keluarga korban. Sampai saat ini, ayah dan ibu korban menanggung beban psikologis yang luar biasa sebab keluarganya tertembak karena dituduh bagian dari jaringan teroris.

Tidak hadirnya keadilan pada peristiwa-peristiwa semacam ini dapat menjadi bibit radikalisme, masyarakat yang putus asa dapat menempuh caranya untuk mendapatkan rasa keadilan menurut versinya sendiri. Radikalisme tidak bisa berhenti hanya dengan dogma dan penegakan hukum, tapi juga perlu dibarengi dengan menghadirkan keadilan di tengah-tengah masyarakat.

Semangat mencari kelompok Gunung Biru yang menggebu-gebu saat ini senatiasa perlu dibarengi dengan sikap profesionalitas aparat, agar tidak ada lagi korban salah tembak dengan dalih menumpas buronan teroris. Kita menghargai dan menaruh hormat pada langkah-langkah aparat, tapi juga tak boleh menutup mata pada sejumlah peristiwa yang perlu menjadi bahan evaluasi dan refleksi Satgas Tinombala.

Radikalisme dan Realitas Sosial

Beralut-larutnya pengejaran terhadap kelompok Ali cs juga dapat memicu ketegangan di tengah-tengah masyarakat. Sesama warga pada akhirnya dapat saling mencurigai dan memberi label pada kelompok-kelompok masyarakat yang kebetulan memiliki style berpakaian yang sama. Mereka yang bercelana cingkrang, bercadar, memelihara jenggot, pada akhirnya menjadi kelompok yang paling sering tertuduh menjadi bagian dari kelompok teroris. Padahal, bisa jadi mereka juga memiliki dasar keyakinan atas ajaran agama dimana kita semua tentu perlu untuk saling menghormati atas pilihan-pilihan itu.

Kita bersyukur, masyarakat Poso saat ini sudah semakin dewasa menyikapi setiap peristiwa yang terjadi. Relasi masyarakat Muslim-Kristen di daerah yang pernah dilanda konflik itu sudah semakin cair dan berjalan sebagaimana biasanya. Letupan-letupan seperti ini semakin meyakinkan masyarakat bahwa ada problem dalam penanganan terorisme ini. Sebab pada kenyataannya Muslim dan Kristen dapat hidup bersama-sama di bumi Sintuwu Maroso itu. Kita dapat menyaksikan bagaimana kekerabatan antar warga Kawende, Desa yang mayoritas berpenduduk Kristen, dapat hidup berdampingan dengan Desa Kalora, desa berpenduduk mayoritas Muslim, daerah yang juga sering dilekatkan pada nama Ali Kalora.

BACA JUGA  Buktikan Cintamu untuk Gempa Majene & Mamuju Sulbar

Bahkan sedikit berjalan ke arah utara, kita juga bisa melihat bagaimana keragaman dapat disaksikan dengan indah di Desa Tambarana. Di sana ada Muslim, Hindu, Kristen, yang hidup tanpa konflik di kampung yang sama. Isu intoleran, radikalisme, atau narasi-narasi serupa yang lebih sering diseminarkan itu mungkin perlu dievaluasi untuk bisa melihat lebih kontekstual kohesi sosial masyarakat, terutama apa yang terjadi di Poso.

Evaluasi Materi Deradikalisasi

Dalam materi-materi deradikalisasi sering disebutkan bahwa radikalisme ada di semua agama, tetapi saat sampai pada contoh-contoh tindakan radikal, contoh yang sering muncul selalu datang dari contoh-contoh Islam. Jarang, atau bahkan tidak pernah pemateri deradikalisasi memberikan contoh radikalisme dari luar Islam.

Hemat penulis, kondisi ini lebih pada aspek psikologi pemateri, sebab pemateri-pemateri radikalisme rerata mayoritas muslim. Enggan dan tidak elok rasanya menarik kesimpulan dari doktrin agama lain, bahkan bisa jadi akan dicap intoleran. Maka, perlu juga mendatangkan pemateri dari luar Islam, untuk membentengi semua masyarakat dari penafsiran yang keliru atas ayat-ayat agama.

Materi-materi deradikalisasi mestinya dapat berevolusi memberikan spirit pencerahan, semangat berprestasi di kalangan pemuda, serta pentingnya sikap beragama dipegang teguh untuk menjadi pemandu jalan kebaikan.

Menatap Masa Depan Poso

Masyarakat Poso telah lelah bertikai. Bertahun-tahun masyarakat Poso menjadi korban konflik dan korban penanganan konflik yang tidak ada ujungnya. Sampai saat ini masyarakat takut berkebun, dampaknya, perekonomian mereka terbengkalai, apalagi bila hasil kebun adalah satu-satunya mata pencaharian.

Melihat hubungan sesama masyarakat di Poso, kita dapat optimis daerah ini dapat berkembang ke depan. Dengan satu syarat, hilangkan stigma kekerasan yang selama ini melekat pada Poso. Masa depan Poso adalah masa depan bangsa ini. Poso adalah contoh di mana kerukunan itu tidak sekedar dibicarakan, tapi telah dipraktekan oleh masyarakat di sana. Daerah ini kaya dengan keindahan alamnya juga keramahan masyarakatnya. Percayalah, dan datanglah ke Poso.

*Penulis adalah Dosen KPI Universitas Muhammadiyah Palu

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat