Memotret Habib, Memotret Ulama

Perlukah mendukung seseorang yang digelari habib?

KIBLAT.NET – Menjelang akhir tahun, kata “habib” kembali menjadi kata yang sering diucapkan dalam keseharian umat Islam di Indonesia. Entah yang dibawakan dengan diksi negatif ataupun positif, mulai dari obrolan warung kopi hingga debat kusir di lini masa sosmed tak lepas dari tema habib.

Baik atau buruk? Bermanfaat atau tidak? Penulis tidak tahu, namun yang pasti pembicaraan tentang habib masih sebatas pilihan tentang mendukung atau memusuhi. Jarang sekali terdengar diskusi yang lebih mendalam seputar subtansi objek yang dibicarakan. Padahal diskusi semacam itu -menurut subjektifitas penulis- sangat fundamental sebelum memutuskan untuk mendukung ataupun memusuhi sesuatu.

Karena itu, tulisan ini -semoga bisa- dimaksudkan sebagai pemantik diskusi tersebut.

Assistant Professor IIUM Malaysia, Alwi Alatas menjelaskan bahwa istilah habib sendiri berasal dari kata hub (cinta). Maka habib berarti orang yang dicintai. Gelar tersebut biasanya digunakan atau diberikan kepada ulama dari kalangan sayyid atau allawiyin.

Sayyid, lanjut Alwi, merupakan sebutan bagi orang-orang yang dikenali sebagai keturunan Rasulullah SAW baik dari jalur Sayyidina Hasan ataupun Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib.

“Adapun allawiyin merupakan lingkaran yang lebih khusus di kalangan sayyid. Jadi allawiyin ini merupakan sayyid yang berasal dari keturunan Ahmad bin Isa Al Muhajir yang keturunannya ini ada di Hadramaut, Yaman,” ujarnya dalam “Ngobrol bareng Sejarah dengan tema ‘Jejak Dakwah Habib dan Keturunan Arab di Nusantara’” yang diselenggarakan oleh komunitas Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) pada Sabtu, 21 November 2020.

Alwi juga menjelaskan Ahmad bin Isa dijuluki Al Muhajir karena hijrah ke Hadramaut. Beliau sendiri hijrah pada awal abad keempat hijirah atau kesepuluh masehi. Adapun asal mula istilah allawiyin, diambil dari nama cucu pertamanya yang lahir di Hadramaut. Yaitu Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir.

Keturunan Alwi inilah mayoritas keturunan Arab yang menyebar ke berbagai wilayah termasuk Indonesia, Malaysia, dan sekitarnya.

“Di antara para sayyid ataupun allawiyin ada beberapa orang yang belajar dengan sungguh-sungguh hingga menjadi ulama. Mereka inilah yang biasanya mendapat sebutan habib,” tutur Alwi.

Memotret ulama

Jika menyimak penuturan Alwi, maka bisa kita simpulkan bahwa membicarakan habib berarti membicarakan ulama. Karena habib dan ulama sejatinya dua hal yang sama. Hanya status “bawaan lahir” saja yang membuatnya digelari berbeda.

Ulama sendiri, jika kita menyimak Adabul ‘Alim wa al-Muta’allim yang ditulis KH. Hasyim Asy’ari kita mendapat penjelasan bahwa ulama bukanlah sekedar orang yang memiliki kedalaman ilmu, namun juga harus mempergunakan ilmunya bukan untuk kepentingan duniawi.

“Jadi, tidaklah termasuk di dalamnya mereka (para ulama) yang menggunakan ilmunya demi semata-mata mencari kesenangan-kesenangan duniawi, seperti mencari kedudukan, kekayaan, reputasi, pengaruh, jabatan, dan lain sebagainya.” (Asy’ari, KH. M. Hasyim (2007). Etika Pendidikan Islam, Petuah KH. M. Hasyim Asy’ari untuk para guru (kyai) dan murid (santri). Yogyakarta: Tiara Wacana.)

BACA JUGA  Front Persaudaraan Islam Instruksikan Anggotanya Bantu Korban Bencana Alam

Beliau menyebutkan bahwa ulama adalah orang-orang yang senantiasa mengamalkan ilmunya dengan landasan ketakwaan kepada Allah SWT, mengharap ridho-Nya, serta demi mendekatkan diri kepada-Nya. (Ibid)

Ketika seorang ulama sudah berlaku seperti itu, maka dia akan mendapatkan keistimewaan yang hanya diberikan kepadanya oleh Allah SWT. Keistimewaan tersebut berupa ditinggikannya derajat dirinya di antara para manusia oleh Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Mujadilah ayat 11,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Hasyim Asy’ari menerangkan bahwa maksud redaksi ayat di atas adalah, “Allah akan mengangkat derajat para ahli ilmu (ulama) yang senantiasa mengamalkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki.” (Ibid)

Tak lupa, KH. Hasyim juga merinci perihal setinggi apa derajat yang akan didapatkan oleh para ulama. Beliau mengutip sebuah hadits yang bersumber dari sahabat Ibnu Abbas RA yang berbunyi: “Perbandingan antara derajat ulama atas orang-orang mukmin yang lain adalah 1 berbanding 700, di mana antara derajat yang satu dengan yang lainnya ditempuh selama 500 tahun.”

KH. Hasyim juga menekankan bahwa derajat ulama sangatlah luhur, sebagaimana bunyi hadits yang sangat terkenal “ulama adalah pewaris para Nabi”. Terkait hadits tersebut, beliau menjelaskan:

“Kedudukan ulama sebagai pewaris para nabi sebagaimana dinyatakan dalam hadits di atas sangat menjelaskan kepada kita betapa luhurnya derajat mereka di sisi Allah SWT. Bagaimana tidak, mengingat derajat para nabi merupakan derajat paling luhur di sisi Allah SWT. Maka tentunya tidak ada satu pun derajat atau kemuliaan lain setelahnya yang lebih baik daripada derajat dan kemuliaan mereka (ulama) sebagai satu-satunya pewaris nabi.” (Ibid)

Potret Ulama

Abu Hafs Sufyan Al-Jazairy dalam tulisannya yang berjudul Ashnaful Ulama wa Awshofuhum membagi tipe-tipe ulama menjadi tiga, yaitu ulama kondang, ulama pemerintah, dan ulama agama. (Al-Jazairy, Abu Hafs Sufyan (2011). Potret Ulama: Antara yang Konsisten dan Penjilat. Solo: Jazera.)

Yang dimaksud dengan ulama kondang di sini bukanlah sekedar ulama yang banyak dikenal orang namun lebih kepada perilaku mereka yang senantiasa berusaha untuk mewujudkan apa yang diinginkan oleh orang banyak.

“Dia bekerja keras untuk memenuhi keinginan mereka dan senantiasa berusaha untuk mewujudkan apa yang diinginkan oleh orang banyak.” (Ibid)

Ulama kondang, lanjut Al-Jazairy, dalam dirinya hanya terbersit niatan untuk selalu mendapat pengikut yang menggemarinya sebanyak-banyaknya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat marah para pengikutnya. Pada akhirnya, ia harus menuruti hawa nafsu pengikutnya dan terpaksa menyelisihi dalil-dalil yang ia hafalkan selama ini. (Ibid)

BACA JUGA  Wanita Palestina Keguguran Akibat Serangan Gas Air Mata Israel

Sungguh merugi ulama yang berlaku demikian. Dikarenakan orang yang bekerja untuk kepuasan manusia pada hakikatnya sedang melakukan perbuatan sia-sia. Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan kemurkaan manusia, maka Allah akan ridha kepadanya dan akan membuat manusia ridha kepadanya. Sedangkan orang yang mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan akan membuat manusia murka kepadanya.” (HR Ibnu Hibban)

Lalu tipe yang kedua adalah ulama pemerintah, mereka selalu taat kepada semua perintah penguasa. Kerja mereka membungkam kritik terhadap penguasa, memperkuat posisi politik, serta menyokong kekuasaannya.

Al-Jazairy mengungkapkan “ciri khas” ulama tipe kedua yaitu senantiasa mengkampanyekan wajibnya mentaati ulil amri versi mereka serta larangan melawannya berdalilkan perkataan salaf. Namun mereka melupakan satu hal, yaitu fakta bahwa para salaf senantiasa berhati-hati ketika mendapuk seorang pemimpin sebagai ulil amri. Tidak serampangan, siapapun yang berkuasa lantas digelari ulil amri. Mengingat konsekuensi yang berat akan mengiringi gelar tersebut. (Ibid)

Adapun tipe ketiga yaitu ulama agama merupakan ulama yang konsisten dalam mengikuti dalil. Mereka mengamalkan ilmunya demi mencari ridha Allah. Mereka senantiasa berusaha untuk mencari kebenaran.

Al-Jazairy menyebutkan ulama agama setidaknya mempunyai tujuh karakteristik, yaitu:

  • Merupakan manifestasi sifat ilmu.
  • Mengamalkan ilmunya.
  • Mendakwahkan kebenaran seperti yang ia pahami dan ajarkan.
  • Selalu merasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
  • Berani menyampaikan kebenaran ketika dibutuhkan.
  • Tidak melalaikan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar demi tujuan duniawi.
  • Memimpin dan mengarahkan umat manakala mereka kehilangan pemimpin dan imam.

Ulama agama, tegas Al-Jazairy, mereka senantiasa berupaya menghapus segala bentuk penyimpangan orang-orang yang terlalu berlebihan, serta mematahkan segala argumen orang yang membantah dan menakwilkan secara keliru. Mereka tidak akan sekalipun merasa menderita atas ulah orang-orang yang memusuhi mereka. Karena mereka telah menyerahkan segala sesuatu yang berkaitan dengan hasil akhir hanya kepada Allah SWT, sang penguasa alam semesta. (Ibid)

Kesimpulan

Kembali ke penjelasan Alwi, jika memang habib adalah gelar yang diberikan kepada ulama dari kalangan sayyid dan alawi. Maka sebelum memutuskan untuk memberi dukungan, kita perlu dengan penuh kesadaran jiwa dan pikiran untuk memastikan bahwa yang bersangkutan adalah ulama agama.

Bukan ulama kondang yang kerjanya hanya menyenangkan pengikutnya, ataupun ulama pemerintah dalam artian kerjanya hanya mengeluarkan fatwa yang menjadi “pelicin” segala  kebijakan pemerintah.

Kita perlu memastikan sosok habaib yang akan kita dukung adalah orang-orang yang senantiasa mengamalkan ilmunya dengan landasan ketakwaan kepada Allah SWT, mengharap ridho-Nya, serta demi mendekatkan diri kepada-Nya.

Penulis: Azzam Diponegoro

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat