Jejak Dakwah Habib untuk Bangsa

Menelusuri kiprah para habaib dalam perkembangan dakwah di Indonesia.

Oleh: Alwi Alatas (Assistant Professor IIUM Malaysia)

KIBLAT.NET – Membicarakan habib serta keturunan Arab di Indonesia akan menjadi pembahasan yang luas karena memang banyak yang belum dibahas.

Dari segi istilah habib berasal dari kata hub (cinta). Maka habib berarti orang yang dicintai. Gelar tersebut biasanya digunakan atau diberikan kepada ulama dari kalangan sayyid atau allawiyin.

Sayyid sendiri dari segi bahasa berarti tuan, adapun allawiyin berarti kaum allawi atau bani allawi terkadang disingkat baalwi. Sayyid merupakan sebutan bagi orang-orang yang dikenali sebagai keturunan Rasulullah SAW baik dari jalur Sayyidina Hasan ataupun Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Keturunan Hasan menggunakan nama Al Hasani, mereka tersebar di kawasan ke arah barat dunia Islam, dari Timur Tengah ke arah Afrika Utara seperti Maroko. Sedangakan Al Huseini banyak tersebar di kawasan Timur.

Di antara salah satu Al Hasani yang masyhur yang menjadi guru bagi banyak ulama dan santri dari Indonesia adalah Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani yang berkedudukan di Mekkah, Hijaz.

Adapun allawiyin merupakan lingkaran yang lebih khusus di kalangan sayyid. Jadi allawiyin ini merupakan sayyid yang berasal dari keturunan Ahmad bin Isa Al Muhajir yang keturunannya ini ada di Hadramaut, Yaman.

Ahmad bin Isa dijuluki Al Muhajir karena hijrah ke Hadramaut. Beliau sendiri hijrah pada awal abad keempat hijirah atau kesepuluh masehi. Adapun asal mula istilah allawiyin, diambil dari nama cucu pertamanya yang lahir di Hadramaut. Yaitu Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir.

Keturunan Alwi inilah mayoritas keturunan Arab yang menyebar ke berbagai wilayah termasuk Indonesia, Malaysia, dan sekitarnya.

Di antara para sayyid ataupun allawiyin ada beberapa orang yang belajar dengan sungguh-sungguh hingga menjadi ulama. Mereka inilah yang biasanya mendapat sebutan habib.

Siapa Ahmad bin Isa?

Ahmad bin Isa hijrah pada tahun 317 H/929 M berangkat dari Bashrah, Iraq membawa  puluhan anggota keluarganya.

Penyebab beliau hijrah adalah banyaknya fitnah di Bashrah ketika itu, banyak konflik sosial dan banyak kelompok keagamaan yang menyimpang.

Pada awalnya beliau hijrah ke wilayah Hijaz. Namun ketika itu kondisi Hijaz pun tak lebih baik. Kota suci Makkah pada saat itu dalam keadaan tanpa hajar aswad menempel di dinding Kakbah. Kelompok Qaramithah, salah satu sekte cabang dari syiah ismailiyah menyerang Kakbah, mencongkel hajar aswad, dan membawanya ke daerah mereka.

Ahamad bin Isa sendiri menetap di Hijaz kurang lebih satu tahun. Mungkin ada beberapa orang Hadramaut yang beliau temui di Hijaz sehingga mendorong keputusannya untuk hijrah.

Hadramaut merupakan sebuah wilayah yang terletak di Yaman Selatan. Wilayah yang cukup luas dengan Tarim sebagai ibu kotanya. Tarim sendiri merupakan daerah yang sejak awal masyarakatnya sudah memeluk Islam.

Wilayah Hadramaut juga berbatasan dengan pantai, dengan pelabuhannya yang terkenal yaitu Mukalla.

Ahmad bin Isa sampai di Hadramaut pada tahun 319 H/931 M. Sempat dikatakan pada masa itu banyak pengikut Khawarij yang tinggal di Hadramaut, tapi sejak kedatangan beliau perlahan-lahan masyarakat di sana berubah hingga akhirnya mayoritas masyarakat menganut fikih madzhab Syafii.

Paham Kalangan Habaib

Kalangan habaib sendiri menganut paham ahlussunnah wal jamaah. Secara fikih madzhab syafii, secara teologi Asy’ari dan mereka berpegang pada tasawwuf yang dikenal dengan tariqah allawiyah.

Tariqah allawiyah ini agak berbeda dengan tariqah lainnya yang terkenal seperti tariqah qadiriyah ataupun tariqah naqsabandiyah. Perbedaannya pada ikatan antara guru dengan murid yang lebih cair.

BACA JUGA  Sejumlah Tokoh Bentuk TP3, Advokasi Kasus Penembakan Laskar

Maka terkadang mungkin ada orang-orang seperti di Indonesia contohnya banyak yang mengamalkan sebuah amalan namun dia tidak menyadari bahwa amalan tersebut bagian dari tariqah allawiyah. Misalnya di masjid-masjid tertentu orang-orang membaca ratib – di antara yang paling populer adalah ratib haddad dan ratib al attas- atau dzikir-dzikir tertentu yang diajarkan oleh gurunya.

Jadi mereka ini berpegang pada tasawwuf, berpegang pada imam Ghazali, di antara rujukan utamanya adalah Imam Ghazali.

Hal ini membantah asumsi yang menyatakan bahwa kalangan habaib merupakan orang-orang syiah. Tetapi memang ada terutama beberapa tahun belakangan terutama setelah Revolusi Iran, beberapa dari mereka terpengaruh syiah namun hanya sebagian kecil.

Pedagang versus Ulama

Orang-orang Hadramaut nampaknya memang mempunyai tradisi hijrah bahkan sampai sekarang. Mereka menyebar dan bepergian ke banyak tempat untuk banyak alasan seperti menyebarkan agama dan berdagang.

Catatan terkait kedatangan generasi awal di Indonesia memang samar-samar mungkin karena mereka tidak mencatatnya namun jejaknya cukup jelas. Bahkan konon katanya walisongo adalah keturunan Ahmad Al Muhajir.

Adapun generasi yang belakangan, kedatangan mereka jejaknya lebih nampak karena lebih dicatat termasuk oleh pihak penjajah Belanda.

Pada abad ke 18-19, catatan tentang kehadiran mereka lebih menonjol dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya terutama karena kedatangan orang-orang dari Hadramaut ke Indonesia ini lebih banyak.

Kenapa lebih banyak? Karena ekonominya di Indonesia menarik. Mayoritas yang datang memang merupakan pedagang.

Tetapi kita perlu ingat, banyak orang yang terlalu mendikotomikan bahwa Islam tersebar oleh para pedagang seolah-seolah kita membayangkan pedagang itu ya pedagang, tidak bisa berdakwah.

Kita jangan salah, pada zaman dahulu itu kita tidak bisa terlalu mendikotomikan antara profesi pedagang dan profesi ulama. Karena zaman dahulu rata-rata orang menempuh pendidikan kuttab, artinya mereka itu walaupun pedagang tapi tetap belajar agama. Pendidikan mereka tidak sekuler seperti sekarang.

Jadi setelah selesai menempuh pendidikan di kuttab, ada sebagian yang melanjutkan belajar agama hingga menjadi ulama dan ada juga yang tidak melanjutkan lalu menjadi pedagang. Maka meskipun mereka berdagang, mereka tetap mempunyai kapasitas ilmu agama yang mumpuni.

Di sisi lain, ulama pada masa dahulu -bahkan hingga abad 20- adalah orang-orang yang tidak mencari uang dari mengajar dan dakwah. Maka di samping mengajar, mereka biasanya berdagang juga meskipun tidak full, sekedar untuk kebutuhan sehari-hari.

Di Indonesia, kita mengenal Ali Al Habsyi Kwitang. Beliau mempunyai toko di kawasan Tanah Abang. Toko hanya buka setengah hari, selebihnya beliau mengajar.

Maka bisa disimpulkan sejatinya tidak ada dikotomi antara pedagang, pendakwah, dan ulama pada masa lalu. Banyak pedagang yang mempunyai kapasitas agama mumpuni dan juga banyak ulama yang berdagang.

Banyak pendatang dari Hadramaut yang mungkin sudah bercampur menjadi bagian tak terpisahkan masyarakat Indonesia. Tetapi pada masa belakangan, ada yang masih mempertahankan identitasnya terutama yang datang pada abad 19 sampai sekarang. Biasanya mereka mengirim anak-anaknya ke Hadramaut untuk belajar.

Jamiat Kheir

Menjelang abad ke 20, jumlah pendatang Hadramaut ke Indonesia semakin banyak. Banyak dari mereka yang jadi pedagang sukses dan mereka mempunyai peranan yang cukup penting nantinya di akhir abad 19 dan di awal abad 20.

Pada awal abad ke 20, mereka mendirikan sekolah Jamiat Kheir sebagai sebuah upaya untuk membangkitkan kembali umat. Mereka saat itu terpengaruh oleh ide-ide Pan Islamisme.

BACA JUGA  Peristiwa 21-22 Mei dan Penembakan Laskar Dibawa ke ICC

Pada akhir abad 19, mereka mengirim anak-anaknya ke Turki. Bekerjasama dengan konsul-konsul Turki Utsmani di Indonesia, anak mereka belajar di Istanbul. Ada 17 orang -terbagi dalam tiga angkatan- yang dikirim, beberapa dari mereka menyandang nama Alatas dan Bin Shahab.

Namun karena ongkos perjalanan yang berat sehingga tidak semua anak bisa dikirim ke Turki. Akhirnya mereka mendirikan organisasi Jamiat Kheir kemudian medirikan sekolah pada 1906 di Pekojan, Jakarta.

Jamiat khoir bisa dibilang sebagai sekolah Islam modern pertama di Indonesia. Meskipun didominasi oleh orang-orang keturunan Arab baik yang sayyid maupun yang bukan tetapi mereka juga melibatkan masyarakat setempat yang muslim. Posisi pengurus organisasi juga dibuka untuk muslim non Arab seperti KH Ahmad Dahlan dan HOS Tjokroaminoto.

Kiprah di Sarekat Islam

Pada masa awal ketika Sarekat Islam berdiri, peranan orang-orang Hadrami dan keturunan Arab cukup besar.

Ada yang menjadi penasehat agama di SI Jakarta, di antaranya adalah Abdullah bin Alwi Alatas. Beliau merupakan seorang pedagang besar, rumahnya di kawasan Petamburan. Rumah beliau hari ini dijadikan museum tekstil oleh Pemerintah Indonesia.

Bangunan museum tekstil awalnya merupakan bangunan  prancis yang dibeli oleh konsul Turki yang pertama ditunjuk di Indonesia yang bernama Abdul Aziz Al Musawi Al Baghdadi. Beliau adalah mertua dari Abdullah bin Alwi Alatas.

Rumah tersebut pernah menjadi tempat pertemuan para tokoh-tokoh Islam pada tahun 1920, salah satu yang hadir adalah HOS Tjokroaminoto.

Bangunan lain yang memiliki keterikatan dengan keturunan Arab adalah RS Cikini yang pada awalnya merupakan rumah Raden Saleh. Raden Saleh sendiri merupakan keturunan Arab: bin Yahya. Beliau membangun rumah seperti kastil di Cikini, lalu dibeli oleh Abdullah bin Alwi Alatas kemudian dijual lagi dan dibeli oleh Yayasan Belanda kemudian dibuat jadi rumah sakit.

Abdullah bin Alwi meninggal tahun 1929. Dia termasuk orang yang mengirim anak-anaknya sekolah ke Turki. Kemudian beliau juga terlibat dalam pendirian Jamiat Kheir, ketika wafat terdapat pandu Jamiat Kheir di antara yang mengiringi.

Selain menjadi pengurus SI Jakarta. Pada tahun 1916 -17, ketika SI dalam kongresnya berencana membentuk komite untuk mendirikan sekolah untuk guru. Beliau menjadi ketua komite tersebut dengan HOS Tjokroaminoto sebagai wakilnya.

Contoh lainnya ada Ali bin Ahmad bin Shahab yang dikenal sebagai Ali Menteng. Beliau merupakan tuan tanah dan juga termasuk pendiri Jamiat Kheir

Ada juga Abdullah bin Husain Alaydrus. Nama beliau selalu disebutkan dalam rapat-rapat SI, beliau duduk sebagai direktur. Pada salah satu kesempatan beliau mendorong SI untuk membuka sekolah di cabang-cabangnya. Dan pada tahun tersebut, tercatat muncul pergerakan adanya pendirian sekolah-sekolah baru dari SI.

Puncak hubungan antara keturunan Arab dan SI terjadi pada tahun 1919, ketika Tjokroaminoto membentuk gerakan TKNM. Tetapi setelah itu mulai terjadi kerenggangan, ketika SI mengalami pergeseran platform dari Islam ke nasionalisme.

Di sisi lain, pada saat itu mereka juga dihadapkan pada masalah internal keluarga.

NB: Tulisan ini merupakan transkip materi yang disampaikan Alwi Alatas dalam “Ngobrol bareng Sejarah dengan tema ‘Jejak Dakwah Habib dan Keturunan Arab di Nusantara'” yang diselenggarakan oleh komunitas Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) pada Sabtu, 21 November 2020 dengan sedikit penyesuaian.

 

 

 

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat