Kiblatorial: Menakar Revolusi Akhlak HRS

Masih tentang revolusi akhlak HRS.

KIBLAT.NET – Kedatangan Habib Rizieq Syihab (HRS) kembali ke tanah air bertaut dengan slogan Revolusi Akhlak. Sepertinya Sekretaris Umum FPI, Munarman-lah yang pertama kali menyampaikan slogan tersebut ke media, jelang kepulangan HRS, Selasa (10/11/2020) lalu.

Korupsi, berbohong, berkhianat dan menipu adalah contoh kezaliman yang, menurut Munarman, akan diobati dengan gerakan Revolusi Akhlak. HRS pun menyambut serius. Dia akan keliling Indonesia bersama jajaran DPP-FPI untuk sosialisasi gerakan revolusi ini.

Entah bagaimana ceritanya akhlak menjadi narasi penting dan titik tolak perjuangan HRS sekembalinya ke tanah air. Yang jelas pemilihan itu sangat tepat, mengingat akhlak menjadi center of gravity banyak masalah di negeri ini.

Akhlak juga menjadi barang vital yang hilang bagi para penyelenggara pemerintahan di negeri kita hari ini. Tebang pilih kasus dalam soal hukum. Tamak dan rakus yang dipertontonkan dalam drama korupsi dan pengelolaan sumber daya alam. Atau rendah mental di hadapan pemilik modal.

Inilah saat yang tepat. Kalau HRS mampu mengemudikan gerakan moral ini dengan baik, ia bukan lagi tokoh yang hanya dimiliki FPI atau sebagian umat Islam Indonesia saja. Simpati kepadanya akan meluas, meski tetap mustahil meniadakan haters sama sekali.

Bertarung di wilayah ini, HRS punya modal lebih dari cukup. Kapasitasnya sebagai tokoh Islam, tentu sangat mumpuni untuk memberikan teladan akhlak yang baik. Massa FPI yang banyak dan sangat loyal padanya, bisa menjadi role model penerapan revolusi akhlak itu sendiri dalam praktik nyata.

BACA JUGA  KH Miftachul Akhyar Terpilih Menjadi Ketua Umum MUI 2020-2025

Belum lagi massa Muslimin di luar FPI-secara atribut maupun struktural. Meski mungkin belum cukup untuk dibilang mayoritas, namun jumlahnya sangat besar. Cukup efektif untuk menjadi pelaku gerakan yang mudah dilihat dan dirasakan, sehingga memberikan efek influence bagi kelompok lain.

Masalah akhlak sebenarnya bukan perkara rumit untuk dipraktikkan. Spektrumnya juga luas tak terbatas. Ajari umat bagaimana etika bersosial media sesuai adab-adab Islam. Atau bagaimana seharusnya etika saat berkendara di jalanan.

Penting juga untuk mengedukasi umat terkait perbedaan pendapat dalam keluarga besar Ahlussunnah wal Jamaah, seperti polemik Asy’ariyah-Salafiyah. Memahamkan umat tentang perbedaan praktik ibadah dan jalan juang, agar tak terjebak dalam narasi pecah-belah musuh.

HRS cukup menjadi copy-paste Nabi Muhammad SAW dalam batas maksimal yang ia mampu. Misalnya, memberikan contoh bagaimana dahulu Nabi SAW berinteraksi dengan keluarga, tetangga, sahabat, hingga bahkan musuh-musuhnya.

Untuk sementara, abaikan haters dan buzzeRp sebelah yang sepertinya memang lahir dan diciptakan untuk bernarasi negatif. HRS harus fokus kepada kepentingan yang lebih besar, yaitu harapan bagi kehidupan umat dan bangsa yang lebih harmonis dengan nilai-nilai Islami.

Beberapa kekhilafan yang muncul sebelumnya harus menjadi catatan penting untuk dikaji. Agar ke depan komunikasi publik yang disampaikan efektif, bukan malah memecah ombak—meminjam istilah pengamat Sosmed, Ismail Fahmi terkait respon atas komentar wanita berinisial NM.

BACA JUGA  Yuk, Ikuti! Serial Webinar: Kiat Selamat Meski Hirup Udara Hoaks

Jika revolusi akhlak HRS seperti apa yang dijelaskan oleh Munarman, maka menjadi tanggungjawab kita bersama untuk menyukseskannya. Termasuk mengawal HRS untuk tetap konsisten dalam perjuangan ini.

HRS, selain sosok yang ditokohkan oleh banyak umat Islam di Indonesia, siapapun dia, adalah saudara seiman kita. Bukankah sesama saudara seiman itu terikat dalam tali ukhuwah, saling menguatkan dalam kesabaran dan nasehat-menasehati dalam kebaikan?

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat