Phobia Cadar dan Kontribusi Media

Phobia cadar terkadang tidak lepas dari pengaruh media.

KIBLAT.NET – Miskin, radikal, tertindas, dicuci otak. Mungkin (baca: pasti) itulah asumsi sebagian orang ketika melihat muslimah bercadar. Pertanyaannya, apakah asumsi tersebut sepenuhnya benar?

Noshin Bokth, editor The Muslim Vibe untuk wilayah Amerika Utara dalam tulisannya Is the niqabi woman honoured or oppressed? menegaskan bahwa pada kenyataannya orang-orang yang berasumsi negatif tentang cadar bahkan tidak pernah bercakap-cakap dengan seorang muslimah, apalagi yang bercadar.

Andai mereka meluangkan waktunya, lanjut Bokth, niscaya akan mendapati kenyataan bahwa asumsi mereka sama sekali tak berdasar.

Bokth pun berkisah, pada 2015, dirinya sedang duduk di halte bus dan seorang gadis sekolah menengah duduk di sebelahnya. Setelah menatapnya beberapa saat, gadis tersebut dengan sangat malu-malu mengatakan bahwa ia berpikir Bokth pasti telah dipaksa mengenakan cadar.

Tentu saja, setelah itu Bokth memberitahunya bahwa menggunakan cadar itu adalah murni pilihannya secara pribadi. Reaksi gadis tersebut benar-benar syok ketika tahu wanita bercadar juga punya kebebasan yang sama. Dia secara jujur mengakui pikirannya terpesona.

“Sungguh luar biasa bagaimana yang dibutuhkan hanyalah satu percakapan untuk mengubah perspektifnya,” ujar Bokth.

Menurut Bokth, mungkin ada beberapa wanita yang dipaksa mengenakan cadar oleh ayah atau suaminya. Tetapi pada dasarnya Islam tidak mengijinkan pemaksaan seperti itu. Mengenakan cadar adalah sebuah pilihan individu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bukan semata-mata hanya untuk membantu pria mengendalikan hasrat seksual mereka di ruang publik di mana hal tersebut sejatinya adalah tanggung jawab mereka sendiri.

Bokth juga menjelaskan bahwa cadar bukanlah tabir bagi kecerdasan dan kepribadian pemakainya, Ketika muslimah mengenakan cadar, tidak lantas ia menutup diri dari segalanya dan mengabaikan peluang-peluang untuk mengembangkan diri menjadi manusia yang lebih baik.

Muslimah bercadar ada yang menjadi dokter, pengacara, penulis, seniman, dan dosen. Cadar yang mereka kenakan senantiasa mengingatkan bahwa segala yang mereka lakukan hanya diniatkan untuk beribadah.

BACA JUGA  Jejak Dakwah Habib untuk Bangsa

Di sisi lain, selembar cadar akan “memaksa” dunia untuk lebih menghargai wanita. Publik mau tidak mau harus menilai pendapat, karya, dan kreatifitas seorang wanita tanpa harus memandangi terlebih dahulu bentuk tubuh, kesempurnaan kulit, dan ukuran bibirnya.

Kontribusi Media

Pertanyaan selanjutnya, jika Bokth benar maka darimana datangnya asumsi-asumsi tak berdasar itu?

Jawabannya yang paling mungkin tentu saja media. Karena media -terlebih di era percepatan informasi- dapat membuat seseorang tampak tahu tentang segala sesuatu yang belum pernah ia jumpai. Media memungkinkan seorang anak di Bekasi Jawa Barat bercerita tentang detail bangunan Masjidil Haram tanpa harus berhaji.

The Muslim Council of Britain pada Juli tahun lalu mengeluarkan publikasi yang menyimpulkan bahwa sebagian besar liputan media Inggris tentang Islam dan muslim telah memberi kontribusi besar pada perkembangan Islamophobia di Inggris.

Publikasi tersebut menyebut bahwa Mail on Sunday berada di peringkat terburuk, dengan 78% ceritanya selalu menampilkan muslim dan Islam dengan penggambaran negatif. The Muslim Council of Britain sendiri telah menganalisis lebih dari 11.000 artikel dan siaran berita dan menemukan bahwa New Statesman, the Observer, dan the Guardian adalah yang paling kecil persentasenya dalam menggambarkan muslim secara negatif.

“Anda perlu memastikan bahwa ketika menulis cerita negatif, itu adil dan reflektif dan tidak menggeneralisasi tentang semua muslim dan lantas dimasukkan ke dalam narasi sayap kanan. Apakah kita hanya meliput muslim terburuk di luar sana?” ujar juru bicara The Muslim Council of Britain, Miqdaad Versi.

Publikasi tersebut juga menemukan bahwa stasiun televisi, yang diatur oleh  kode penyiaran, lebih kecil kemungkinannya daripada surat kabar untuk menggambarkan muslim atau Islam secara negatif. Outlet berita memiliki kecenderungan besar untuk menggeneralisasi dan membuat sensasi cerita secara berlebihan, sering kali memajang gambar seorang wanita bercadar pada sebuah cerita tentang teroris; meskipun keduanya tidak saling berkaitan.

BACA JUGA  Tak Masuk Kepengurusan MUI, Din: Saya Memang Mau Berhenti

Publikasi ini sendiri muncul di saat yang tepat, yaitu ketika Islamophobia mendominasi pemikiran Partai Konservatif. Jajak pendapat YouGov menemukan bahwa 60% anggota Partai Konservatif percaya bahwa Islam secara umum merupakan ancaman bagi peradaban Barat dengan lebih dari 50% dari mereka percaya bahwa Islam merupakan ancaman bagi cara hidup Inggris. Ketika para politisi di puncak pemerintahan memiliki pandangan yang sangat mengkhawatirkan tentang agama tertentu, penelitian seperti ini memberi penjelasan penting tentang gejala dan penyebab Islamophobia.

“Cara media memberitakan Islam dan muslim berperan dalam Islamophobia. Ini bukan tentang sensor, ini tentang transparansi,” lanjut Miqdaad.

Miqdaad memahami jika fakta tidak boleh diubah, namun menurutnya diksi saat bercerita juga perlu diperhatikan. Diksi kebencian yang mencolok dan fokus terus menerus pada sisi yang salah berkontribusi besar pada peningkatan Islamophobia.

Kesimpulan

Tak ada yang salah ketika seseorang curiga terhadap sesuatu yang baru dijumpainya. Yang salah adalah ketika dia terus menerus curiga tanpa ada usaha mencari tahu tentang sesuatu yang baru tersebut. Manusia yang normal adalah manusia yang menggunakan akal sehatnya semaksimal mungkin untuk mencari tahu sejauh mana hal baru tersebut bermanfaat untuk dirinya. Proses tersebut dinamakan belajar. Dan proses tersebut akan membawa manusia pada pilihan perlukah dia mengadopsi hal baru tersebut atau sekedar menerima dan hidup berdampingan secara damai.

Namun di sisi lain, temuan Miqdaad juga tidak bisa diabaikan. Terkadang bisikan-bisikan pihak ketiga yang seharusnya membantu justru menganggu proses belajar dan membuat orang terus curiga dan semakin tenggelam dalam asumsi-asumsi bodohnya.

Dan sialnya, asumsi-asumsi bodoh tersebut kini sedang dan telah tersebar ke hampir seluruh penjuru dunia. Nasalullahaladzim

Penulis: Azzam Diponegoro

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat