Kiblatorial: Minta Maaf dan Revolusi Akhlak HRS

Di balik gegap gempita penyambutan HRS, ada masyarakat yang terganggu hak publiknya.

KIBLAT.NET – Kepulangan Habib Rizieq Syihab (HRS) kembali ke tanah air mendapat sambutan sangat meriah. Jadwal kepulangan ini bertepatan dengan tanggal 10 November, yang diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sengaja atau kebetulan, Wallahu a’lam.

Dalam sebuah tayangan video yang beredar, bukan hanya lautan masa putih-putih saja yang menyambut haru. Sejumlah ground-marshall yang memandu pesawat dengan nomor penerbangan SV-816 itu juga terdengar melantunkan takbir dan shalawat.

Namun di samping gegap-gempita dan haru-bahagia massa penjemput, muncul keluhan dari masyarakat lain. Akses ke bandara lumpuh. Calon penumpang banyak yang terlambat. Sebagian maskapai membatalkan penerbangannya.

Di jagat Twitter, selain trending topik keharuan menyambut HRS, tagar #nyusahin juga naik. Kita boleh saja berasumsi tagar tersebut ditumpangi mereka yang kurang senang dengan kehadiran kembali HRS di tanah air.

Namun sebagai seorang muslim, kita harus tetap adil, atau obyektif dalam memandang hal ini. Jalan dan bandara adalah fasilitas umum yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Mulai dari sekadar plesir, bekerja atau mereka yang dikejar waktu untuk berobat.

Semua masyarakat berhak menggunakan fasilitas itu. Alih-alih memandang keluhan publik dengan kacamata konspiratif, kita harus sensitif memandang terhalangnya hak tersebut sebagai sebuah kezaliman -entah disengaja maupun tidak.

Sebagian masyarakat Indonesia meyakini kepergian dan kepulangan HRS, tak bisa dilepaskan dari kezaliman yang menimpanya. Namun, itu bukan alasan untuk menimbulkan kezaliman kepada pihak lain, apalagi publik yang tidak terkait dengan kasusnya.

BACA JUGA  Slamet Maarif: Reuni 212 Tahun Ini Ditunda

Maka, seiring dengan tema besar “Revolusi Akhlak” yang mengiringi kehadiran kembali HRS, sudah selayaknya FPI atau siapapun yang mewakili simpatisan HRS untuk meminta maaf atas terganggunya akses ke bandara dan pembatalan sejumlah penerbangan kemarin.

Selain meminta maaf, apresiasi juga perlu disampaikan kepada pihak maskapai yang memberikan kelonggaran para calon penumpang yang terdampak untuk melakukan re-schedule tanpa ada biaya tambahan. Demikian pula pihak Kemenhub selaku regulator.

Rasanya, bawah alam sadar semua masyarakat Indonesia hari ini pun menyakini bahwa kedatangan HRS adalah sebuah peristiwa besar. Peristiwa itu, pasti akan membawa dampak besar yang kadang tidak diduga sebelumnya.

Namun, dengan menunjukkan sifat rendah hati untuk meminta maaf—meskipun untuk sebuah kesalahan yang tak disengaja, akan menjadi kredit poin tersendiri bagi HRS dan FPI. Menambah sentimen positif bila dipadu dengan predikat sebagai korban kezaliman yang sebelumnya telah melekat terlebih dahulu.

Akhirul kalam, selamat datang kembali Habibana Rizieq Syihab. Semoga Allah senantiasa melindungimu; dan menjadikan kehadiranmu sebagai wasilah rahmat Allah bagi Islam dan kaum Muslimin, serta menghapus kezaliman-kezaliman di negeri kita, Indonesia. Amin Ya Rabbal ‘alamin

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat