Macron, Napoleon dan Sekularisme ala Perancis

Macron kini bukan saja terlibat perang kata-kata dengan beberapa pemimpin negara lain seperti Erdogan dan Imran Khan, tetapi juga umat Islam di berbagai belahan dunia. Seruan memboikot produk perancis hingga demonstrasi mengguncang berbagai belahan dunia di tengah pandemi. Macron memang tidak bergeming. Beberapa pihak menilai Macron sedang memainkan kartu ‘nilai-nilai Perancis’ untuk mendongkrak suara menjelang pemilu Perancis di tahun 2022.

Bukan isapan jempol jika pemerintahan Macron berulang kali diguncang isu domestik terutama demonstrasi besar berjilid-jilid dari gerakan demonstrasi rompi kuning (yellow vest) dengan isu utama tentang kesulitan ekonomi dan lapangan pekerjaan. Demonstrasi ini bahkan meluas ke berbagai kota di Perancis dan terjadi berkali-kali dan berujung kerusuhan. Terakhir demonstrasi ini terjadi pada 1 September 2020 dan ditanggapi dengan sangat represif oleh pihak kepolisian hingga memakan korban luka.

Maka bukan mustahil memainkan kartu yang menyudutkan umat Islam sebagai jalan keluar Macron untuk mengerek kembali suara publik yang mulai menyurut pada dirinya. Sebelum pandemi, dukungan suara untuk Macron menyusut hingga 33%, dari 60% suara saat ia memenangi pemilihan presiden 2017 silam. Apalagi dalam pemilu 2018 silam, lawan politik terberat Macron adalah Marine Le Pen dari sayap kanan yang menjual isu islamofobia dan anti-imigran. Maka Macron tampaknya berusaha untuk menarik suara mereka dengan turut menjual isu islamophobia dan membenturkan Islam dengan nilai-nilai Perancis.

Lewat retorika Macron, Islam kerap dibentur-benturkan secara politis dengan nilai-nilai Perancis. Dan bukan hanya Macron yang melakukannya. Itu sebabnya, isu islamofobia membelit hampir seluruh pemimpin Perancis beberapa dekade belakangan dan dari berbagai latar belakang politik. Macron jelas bukan politisi dari sayap kanan seperti Marine Le Pen. Begitu pula Presiden Perancis sebelumnya, Francois Hollande. Hollande bahkan dikenal sebagai politisi berlatar sosialis. Sebelumnya lagi, Nicholas Sarkozy adalah politisi dari Partai UMP yang berhaluan kanan tengah. Mereka semua menjual isu yang sama: umat Islam yang bermasalah, dan berbenturan dengan nilai-nilai Perancis.

BACA JUGA  Yuk, Ikuti! Serial Webinar: Kiat Selamat Meski Hirup Udara Hoaks

Lewat berbagai wacana yang berbeda mereka memainkan lagu yang sama. Hollande, misalnya, menolak usul Sarkozy yang berkaitan dengan cara berpakaian Muslimah, tetapi ia dengan halus menyebutkan bahwa Islam dapat bergandengan tangan dengan sekularisme dan hendak mengembangkan Islam ala Perancis dengan tiga kebijakan, pertama meneguhkan kembali badan untuk Islam, pembentukan asosiasi nasional untuk membiayai pembangunan Masjid dan pelatihan imam di Perancis.

Maka Macron kini hanya meneruskan warisan dari para pendahulunya. Kita boleh saja menilai para elit ini menuai keuntungan elektoral dari retorika mereka terhadap Islam, tetapi kita juga patut menelaah nilai-nilai Perancis yang mereka gaungkan dan dampaknya terhadap (umat) Islam terutama di Perancis.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat