Macron, Napoleon dan Sekularisme ala Perancis

Oleh: Beggy Rizkiansyah, kolumnis Kiblatnet

KIBLAT.NET – Emanuel Macron, Presiden Perancis, mungkin menjadi salah satu di antara pemimpin negara di Barat yang saat ini rajin menuai kecaman dari umat Islam sedunia. Ia memang bukan sejenis Putin yang terlibat langsung dengan aksi berdarah yang menelan korban umat Islam di Suriah. Macron bahkan awal kemunculannya dengan gerakan En Marche di tahun 2016, ia dianggap sebagai salah satu harapan baru di Eropa.

Tetapi Macron sepertinya mulai menunjukkan watak aslinya yang islamofobik. Dalam pidatonya di Les Mureaux, dekat Paris, 2 Oktober kemarin. Macron dalam pidatonya menunjuk Islam sebagai “agama dalam krisis di seluruh dunia saat ini.” Tidak cukup sampai di situ, ia menyebut akan membebaskan Islam di Perancis dari pengaruh asing. Macron, bertekad untuk melindungi nilai-nilai sekularisme Perancis.

Pernyataan Macron ini tentu saja sontak menuai kecaman. Salah satunya datang dari Presiden Turki, Erdogan. Erdogan menyebut Macron sebagai “kasar.” “Siapa Anda berbicara merestrukturisasi Islam?,” tukas Erdogan.

“Pernyataan Macron mengenai ‘Islam dalam krisis’ di sebuah kota di mana adalah mayoritas melampaui rasa tidak hormat dan sebuah provokasi yang nyata,” tegas Erdogan.

Macron belum berhenti disitu. Ia kemudian dianggap mengundang kebencian ketika turut menyokong penayangan gambar karikatur yang menghina Nabi Muhammad Saw yang diproyeksikan ke sebuah gedung balai kota pemerintah Perancis di kota Montpellier dan Toulouse selama beberapa jam dan dihadiri oleh Macron.

BACA JUGA  Kyai Said Aqil Siroj Positif Covid-19

Penayangan gambar karikatur tersebut dianggap sebagai satu tindakan simbolis untuk mengenang Samuel Paty, seorang guru yang dibunuh setelah sebelumnya menampilkan gambar kartun tersebut di kelasnya. Macron bahkan menganggap Paty sebagai “Pahlawan dalam senyap” yang meresapi nilai republik Perancis.

Sikap Macron ini sendiri mungkin dapat ditarik sedikit pada bulan September 2020. Ketika itu menjelang peringatan peristiwa Charlie Hebdo, Macron menolak untuk mengutuk kartun yang menghina Nabi Muhammad Saw. Menurut Macron, “Di Perancis terdapat kebebasan untuk menista agama yang menjadi bagian dari kebebasan hati nurani. Saya di sini untuk melindungi semua kekebasan. Di Perancis, semua orang bisa mengkritik presiden, gubernur, atau melakukan penistaan agama (blaspheme).”

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat