Ujaran Kebencian Macron Berbalas Seruan Boikot, Relevankah?

KIBLAT.NET – Sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang memberikan dukungan moral terhadap pembuat karikatur yang menghina Nabi Muhammad SAW memicu reaksi yang cukup keras dan tegas dari masyarakat Islam internasional. Berbagai unjuk rasa digelar umat Islam di berbagai negeri, bahkan tak sedikit yang menyerukan boikot terhadap produk-produk “berbau” Prancis yang beredar di negeri mereka.

Unjuk rasa dan boikot sejatinya adalah dua hal yang selalu menjadi bahan perdebatan dalam internal umat Islam; terkait boleh atau tidak boleh. Unjuk rasa selalu menjadi topik yang jika dituliskan tak akan cukup satu artikel panjang, karena itu saya memilih tak membahasnya.

Lalu soal boikot produk, juga memicu perbedaan pendapat di kalangan ulama kontemporer. Sebabnya adalah tak ada contoh yang plek ketiplek di masa Rasulullah SAW. Sepengetahuan penulis, Tsumamah bin Utsal RA adalah satu-satunya pelaku boikot di masa Nabi SAW. Posisi Tsumamah pada saat itu kurang lebih pemasok tunggal gandum Yamamah. Dan ketika masuk Islam, dia mengatakan kepada kaum kafir Quraisy di Makkah bahwa mereka tak akan bisa menikmati gandum Yamamah hingga diijinkan Rasulullah SAW.

Dalam konteks Tsumamah dia adalah pemilik produk, masalahnya dalam konteks kekinian umat Islam adalah pembeli produk. Dan terkadang aksi boikot tak terlalu berpengaruh pada pemilik produk, bahkan dalam beberapa kasus umat Islam malah tak bisa menemukan produk alternatif ketika memboikot.

Di titik inilah, silang pendapat terjadi dan pertanyaan paling mendasar “relevankah aksi boikot?” menemukan jawaban yang kelewat beragam.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjadi salah satu yang tidak sepakat, beliau bersandar pada kisah Rasulullah SAW pernah membeli makanan dari seorang Yahudi untuk keluarganya, lalu tatkala beliau meninggal dunia, baju besinya masih tergadai pada orang Yahudi tersebut. Menurut beliau, seruan boikot produk malah membuat umat kehilangan hal-hal yang sebenarnya bisa memberi banyak manfaat.

BACA JUGA  HRS Center: Habib Rizieq Tak Bisa Dipidana Karena Langgar PSBB

Begitupun Syaikh Shalih bin Fauzan, menurut beliau boikot hanya wajib dilaksanakan ketika ulil amri memerintahkan saja. Adapun jika hanya seruan dari person-person tertentu, maka hal ini dikhawatirkan akan menjerumuskan pada mengharamkan apa yang dihalalkan.

Berbeda dengan mereka berdua, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani memberikan ilustrasi yang sangat gamblang terkait boikot. Beliau mengungkapakan bahwa andaikan orang-orang Bulgaria menyembelih hewan dengan penyembelihan yang benar-benar syar’i, sebaiknya umat Islam tidak mengimpornya. “Bahkan wajib bagi kita untuk memboikot mereka sampai mereka berhenti menumpahkan darah saudara kita kaum Muslimin,” ungkap Syailkh Albani dalam Silsilah al Huda wan Nur.

Senada dengan Al Albani, Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini bahkan mengatakan boikot produk orang kafir itu disyariatkan dalam artian sesuai dengan dalil-dalil syar’i. Meskipun demikian, beliau tidak mewajibkannya dan tidak lantas menghukumi orang yang tidak memboikot sebagai fajir atau pendosa.

Secara lahiriah, silang pendapat tersebut memang tampak membuat pusing. Namun sejatinya kita bisa mengkompromikan pendapat mereka menjadi batasan-batasan syar’i aksi boikot. Yang pertama, boikot harus diniatkan sebagai sebuah sikap perlawanan terhadap perilaku orang kafir. Kedua, aksi boikot jangan sampai menjerumuskan pelakunya pada mengharamkan apa yang dihalalkan. Poin aksi boikot adalah pada perilaku orang kafir bukan semata-mata pada produknya, jadi zat produk yang diboikot tetaplah halal. Dan ketiga, pelaku boikot sebaiknya tidak memandang muslim lain yang tidak melakukan aksi serupa sebagai pendosa.

BACA JUGA  Yuk, Ikuti! Serial Webinar: Kiat Selamat Meski Hirup Udara Hoaks

Selain itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian teman-teman yang melakukan aksi boikot. Jika melihat paparan pendapat ulama, maka pilihan untuk memakai produk orang kafir yang sedang menyatakan permusuhan terhadap Islam hukumnya adalah makruh.

Makruh seringkali dimaknai sebagai sesuatu yang jika ditinggalkan mendapat pahala, namun jika dilakukan tidak mendapat dosa. Namun, tahukah kamu? Jika para ulama membubuhkan kata “imtitsalan” dalam definisi makruh. Kata imtitsal berarti melaksanakan perintah. Maka anda tidak bisa mendapatkan pahala hanya dengan mendeklarasikan diri sebagai pemboikot. Namun anda harus mempunyai keterikatan dengan produk tersebut sebelumnya.

Saya beri contoh mudah, rokok misalnya. Bagi anda yang sejak lahir tak pernah merokok maka anda tak akan mendapat pahala meninggalkannya sampai kapanpun. Namun bagi seorang perokok berat, berhenti satu hari saja dengan niat mentaati Allah SWT maka dia mendapat pahala.

Maka kesimpulannya, relevansi aksi boikot dalam tataran individu bisa jadi sangat relatif. Ia tak bermanfaat bagi seseorang yang tak punya keterikatan dengan produk yang diboikot. Namun bagi orang yang punya keterikatan kuat, maka hal itu akan menjadi ladang pahala baginya.

Namun dalam tataran kolektif umat Islam sebagai sebuah kesatuan, aksi boikot tetap berpotensi menjadi kekuatan perlawanan yang efektif dan relevan bagi siapapun yang mengusik kehormatan agama Islam.

Penulis: Azzam Diponegoro

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat