Surat Terbuka untuk Macron: Abrahah Pun Dulu Meremehkan Kakbah

KIBLAT.NET – Kepada Presiden Prancis, Emanuel Jean Frederic Macron. Surat terbuka ini merupakan tanggapan atas pernyataanmu yang mendukung perilaku sebagian wargamu yang menghina Nabi kami yang mulia: Muhammad SAW.

Kami memang tak pernah melihat Nabi kami. Ia lahir dan wafat lebih dari 1.400 tahun sebelum kami mengenal dunia ini. Namun kami tetap mampu mencintai dan mengagungkannya. Keagungan itu membuat gambar atau lukisan siapapun tak sanggup mewakili wajah beliau sesungguhnya.

Kami tak pernah mendengar langsung suaranya ketika berbicara. Semua yang ia ucapkan kami dengar secara berantai dan turun temurun dari pembawa hadits tepercaya. Perjuangan, kejujuran dan ketulusan sesepuh ulama kamilah yang mencatat semua itu, hingga dapat kami “dengar” saat ini.

Kami tak pernah melihat bibirnya bergerak, atau tangannya mengacung tanda sebuah perintah. Tapi kami akan langsung bergegas melaksanakan perintah itu, sampai batas akhir kemampuan kami. Kami yakin, ada pahala besar menanti di balik sebuah perintah atau sunnahnya.

Kami tak pernah melihat ia menoleh ketika orang memanggilnya Muhammad. Tapi kami yakin itu namanya, dan kami bangga menyematkan nama itu untuk anak-anak kami. Kami selalu menyebut-nyebut namanya saat shalat, saat di mana kami sangat dekat dengan Pencipta kami.

Kami tak pernah menerima uang atau jabatan darinya. Tapi dengan agama yang dibawanya, kami menjadi manusia terbaik, yang mempunyai cita-cita tinggi tentang akhirat dan hari pembalasan. Karenanya, kami tak henti-henti mendoakan kebaikan sebaliknya, yang kami sebut: sholawat.

BACA JUGA  Slamet Maarif: Reuni 212 Tahun Ini Ditunda

Kami tak pernah melihat dirinya hadir bersama-sama manusia yang kami pergauli setiap hari. Tapi tuntutan dan ajarannya tentang adab dan pergaulan, membuat kami bisa saling menghargai sesama manusia. Kami hidup rukun, saling mengasihi, saling memberi dan mencintai.

Kami tidak pernah melihat langsung sosok tubuhnya. Tapi begitu ada yang melecehkannya dalam sebuah kartun, api amarah kami tak akan pernah padam. Kami akan lakukan apapun yang kami bisa untuk membalas pelecehan tersebut.

Kami juga tidak tahu, bagaimana ada rasa cinta begitu dalam dan hebat dalam diri kami padanya. Hanya, dahulu sebelum masuk Islam Abu Sufyan pernah berkata, “Aku tidak pernah menjumpai manusia yang cintanya kepada manusia lain melebihi kecintaan shahabat-shahabat Muhammad kepada dirinya.”

Kami tahu, itulah misteri cinta kami kepada Nabi kami, wahai Macron. Misteri yang kau dan orang-orang kafir sepertimu mungkin akan selalu gagal memahaminya. Itu karena Muhammad hanya hadir dalam agama kami. Tak ada dalam agamamu dan agama lainnya.

Kami tahu, kamu tidak tidak pernah merasakan kecintaan seperti kecintaan kami kepada Muhammad. Itu karena kamu tak pernah punya Nabi, pemimpin dan panutuan sebagaimana kami punya Muhammad.

Bisa jadi kamu anggap kami ini kecil, remeh dan tak punya kuasa apa-apa. Mungkin ada benarnya apa yang kau kira itu, Macron. Tapi kamu lupa, ada iman di dada kami. Iman yang membuat hal yang sebelumnya mustahil, begitu mudah kami lakukan.

BACA JUGA  Tak Masuk Kepengurusan MUI, Din: Saya Memang Mau Berhenti

Dan kamu sudah mulai membuktikan itu, wahai Macron. Di internet kau dihujat. Seruan untuk memboikot barang-barangmu, membumbung tinggi. Kau mulai membuktikan sebagian kecil dari efek pedang kami terhunus untuk penghina Nabi kami.

Kami mungkin lemah dan tak berdaya. Tapi sebagaimana Kakbah, Muhammad itu ada Rabb yang memilikinya. Ketika Abdul Muthallib tak kuasa menahan kepongahan Abrahah dan pasukan gajah saat itu, maka Rabb pemilik Ka’bah akhirnya turun sendiri membereskan mereka semuanya.

Dengan penuh kesabaran kami akan menunggu pembalasan atas dirimu, Macron. Entah melalui perantaraan tangan kami, atau langsung oleh tangan-Nya.

Penulis: Hamdan

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat