Arab Saudi, Visi 2030, dan Sportswashing

KIBLAT.NET – Saya yakin siapapun anda apapun profesi anda tetap tidak percaya bahwa antara Arab Saudi dan event olahraga modern terlebih yang melibatkan atlet perempuan -tentunya dalam perspektif syariat mengumbar aurat- akan bersatu dalam bentuknya yang paripurna.

Tapi maaf-maaf, di tangan magis seorang Mohammed bin Salman (MBS) hal tersebut bisa terwujud. Tepatnya pada Oktober tahun lalu, dua pegulat wanita dari World Wrestling Entertainment (WWE) yaitu Natalya dan Lacey Evans saling beradu dalam pertunjukan WWE Crown Jewel yang berlangsung di Stadion Internasional Raja Fahd, Riyadh.

Sebagai informasi tambahan, dalam pertunjukan kali ini mereka berdua diberitakan oleh media mengenakan pakaian sopan, versi barat tentunya.

Olahraga memang menjadi sebuah landasan utama dari Visi 2030 yang digulirkan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Sebagai bagian dari upaya diversifikasi ekonomi Arab Saudi dan menarik pariwisata serta investasi asing.

Dimulai dari laga final Supercopa Italia 2018 & 2019, pertandingan tinju dunia antara Anthony Joshua dan Andy Ruiz, Formula E, hingga yang akan segera digelar: Formula 1, turnamen golf wanita, dan Spanish Super Cup.

Tak puas menggelar event olahraga internasional, MBS juga mencoba mengikuti langkah para pengusaha Qatar dan UEA yang membeli kepemilikan klub sepakbola top eropa. Beberapa bulan terakhir media disibukkan dengan proses pembelian Newcastle United, klub sepakbola asal Inggris oleh MBS yang pada akhirnya gagal.

MBS tentu saja cerdas, percuma menggelar event bertaraf internasional jika tak ada yang menonton. Maka dalam upayanya menghias diri menjadi tempat wisata internasional yang menarik, ia harus mengendurkan sedikit demi sedikit nilai-nilai serta idealisme yang selama ini menjadi trademark Arab Saudi. Wanita diperbolehkan menyetir, boleh datang ke stadion, industri hiburan mulai diijinkan masuk, dan bioskop diijinkan berdiri.

Hasilnya cukup terasa, pada pertengahan Desember 2018 BBC melaporkan para perempuan mempraktikkan kebebasan yang baru mereka peroleh untuk berkendara sendiri. Mereka pun datang ke kota pinggiran Diriyah yang menjadi venue Formula E dengan menyetir mobil-mobil sports mewah.

Semua memang nampak indah dan cerah, namun ternyata malah berujung ironi. Alih-alih mendapat pujian, beberapa pihak malah menuding MBS melakukan sportswashing. Event-event tersebut dianggap sebagai upaya pencitraan MBS demi menutupi kejahatannya di mata dunia.

BACA JUGA  Kiblatorial: Menakar Revolusi Akhlak HRS

Kejahatan yang dimaksud tentu saja perang Yaman, penahanan terhadap tokoh agama, pembunuhan terhadap pihak-pihak yang berpotensi mengganggu kekuasaan seperti Jamal Khasoggi salah satunya.

Awal tahun lalu, Adam Coogle, peneliti di Human Right Watch mengatakan kepada Middle East Eye bahwa Arab Saudi sedang membangun industri hiburan untuk membangun reputasi internasionalnya.

“Arab Saudi sedang berusaha mengubah citra negara sebagian dengan mengembangkan industri hiburan dan mengadakan konser artis terkenal, tetapi tidak ada konser publik yang dapat menutupi penurunan dramatis ruang untuk kebebasan berekspresi di Arab Saudi sejak Mohammed bin Salman menjadi putra mahkota,” ujar Coogle.

Di sisi lain, atlit dan artis yang tampil pun terkena dampaknya. Mereka dikritik habis-habisan di negaranya. Dan ada beberapa yang akhirnya menolak tampil meskipun diimingi bayaran tinggi. Tiger Woods pada tahun 2019 menolak kesempatan tampil di turnamen golf internasional di Riyadh meskipun dibayar tiga juta dolar.

Begitu pun Rory Mcllroy menegaskan dia tidak akan tampil di Arab Saudi. Juara dunia empat kali tersebut menolak bayaran sebesar 2,5 juta dolar. Ia mengungkapkan hal tersebut tak membuatnya bergairah dan dirinya juga mempertimbangkan aspek moralitas.

“Saya lebih suka bermain di depan penggemar golf fanatik dan bermain di turnamen yang benar-benar menggairahkan saya,” katanya kepada Golf Channel tahun lalu.

Petinju Inggris Anthony Joshua juga harus menghadapi kritik atas keputusannya tampil di Arab Saudi. Ia menerima bayaran sebesar 60 juta poundsterling. Menghadapi kritikan, Joshua membela diri bahwa dirinya datang hanya untuk tinju tidak lebih tidak kurang.

Petinju Inggris Anthony Joshua berfoto dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman. (Foto: ARoyalAgency)
Petinju Inggris Anthony Joshua berfoto dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman. (Foto: ARoyalAgency)

Begitu pun dengan dua pegulat wanita Natalya dan Lacey Evans, partisipasi mereka dikecam oleh pengguna media sosial, yang menggambarkan pertandingan tersebut sebagai “tabir asap” yang menutupi penderitaan wanita lokal dan berpendapat bahwa acara tersebut sebenarnya adalah penindasan.

Awal Mula Istilah Sportswashing

Dikutip dari BBC, istilah sportswashing muncul pada tahun 2015 dan saat itu mengacu kepada Azerbaijan. Negara kaya minyak tetapi juga memiliki catatan pelanggaran hak asasi manusia, termasuk penyiksaan, seperti yang dicatat oleh Amnesty International.

BACA JUGA  Yuk, Ikuti! Serial Webinar: Kiat Selamat Meski Hirup Udara Hoaks

Jadi pada tahun 2015, setelah mensponsori Atletico Madrid, Azerbaijan meningkatkan kegiatan di bidang olahraga.

Klub sepakbola Atletico Madrid ketika disponsori Azerbaijan, pada saat itu prestasi klub asal kota Madrid tersebut cukup mentereng dengan menjuarai kompetisi La Liga.

Mereka menggelontorkan dana besar-besaran demi menjadi tuan rumah pembukaan European Games di Baku, setahun kemudian Grand Prix pertama diadakan di jalan-jalan ibu kota yang pada mulanya dengan menggunakan nama European Grand Prix kemudian dirubah menjadi Azerbaijan Grand Prix.

Baku juga mendaftar dan memenangkan hak untuk menjadi tuan rumah final Liga Europa 2019 antara Chelsea melawan Arsenal. Di mana bintang Arsenal Henrikh Mkhitaryan gagal tampil karena dirinya berpaspor Armenia.

Badan Non Politik dan Mesin Pencari Google

Hampir seluruh badan olahraga internasional menegaskan bahwa olahraga dan event olahraga harus bersih dari hal-hal politis. Hal itu memang bagus, namun kita kadang tak menyadari jika politisi dapat menggunakan segala hal untuk tujuan politis.

Panggung olahraga yang harus bersih dari perdebatan politik selalu dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh seorang kepala negara untuk mengirim isyarat kepada penonton bahwa keadaan di sana tidaklah seburuk yang diberitakan.

Panggung Piala Dunia 2018 di Rusia misalnya, banyaknya berita yang harus diliput -Piala Dunia menggelar empat pertandingan dalam satu hari- membuat wartawan tidak dapat memusatkan perhatian kepada hal-hal lain.

Hasilnya bisa ditebak, di mesin pencari Google kata Rusia akan lebih banyak dikaitkan dengan keseruan Piala Dunia. Dan berita terkait kejahatan Rusia di Suriah menjadi semakin tenggelam ke bawah.

Kesimpulan

Kembali ke Arab Saudi, tuduhan sportswashing memang seperti menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. Dalam konteks negara modern, adakah negara yang luput dari sportswashing? Atau jika dibalik, adakah event olahraga yang bersih dari motif sportswashing? Atau jika kita berpikir konspiratif, jangan-jangan badan olahraga internasional memang EO sportswashing.

Namun jika mengingat posisi Arab Saudi yang baik oleh dunia Barat maupun dunia Islam dipandang sebagai “Saudi adalah Islam, Islam adalah Saudi”. Rasanya ada harga yang terlalu mahal untuk dikorbankan.

Penulis: Azzam Diponegoro

 

 

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat