Pakar: UU Penanganan Covid-19 Buka Peluang Rekayasa Hukum Oleh Pemerintah

KIBLAT.NET, Jakarta – Sidang uji materi UU No. 2 Tahun 2020 Tentang Penanganan COVID-19 di Mahkamah Konstitusi kembali digelar. Kali ini, agenda sidang adalah mendengarkan keterangan ahli dari pemohon yaitu Dr. Abdul Chair Ramadhan.

Dalam persidangan itu, ahli menegaskan bahwa keadaan darurat tidak serta merta dapat menyimpangkan hukum pidana. Walaupun dimungkinkan terjadi penyimpangan pidana dengan alasan pembenar, alasan pemaaf dan alasan perintah jabatan. Akan tetapi semua alasan tersebut adalah kewenangan hakim dalam menilai pada proses peradilan pidana yang bebas.

“Justru sebaliknya alasan kedaruratan dapat menjadi faktor pemberat hukuman sebagaimana Tindak Pidana Korupsi,” tegasnya pada Kamis (22/10/2020).

Abdul Chair juga menekankan bahwa konstruksi norma pada pasal 27 UU Penanganan Covid 19, membuka peluang terjadi rekayasa hukum yang menyebabkan rusaknya Sistem peradilan pidana yang berlaku di Indonesia.

“Tidak dapat dibenarkan adanya analogi dalam Pasal 27 UU Penanganan Covid-19 terkait dengan keadaan darurat dengan mempersamakannya dengan ketentuan keadaan darurat dalam Pasal 48 KUHP. Hukum Pidana tegas melarang analogi,” tuturnya.

Ia menekankam bahwa berdasarkan hal tersebut, UU Penanganan  Covid-19 sangat jelas mengandung ketidaktaatan asas, bertentangan dengan prinsip-prinsip (doktrin) hukum pidana. Kesemuanya itu akan memberikan peluang terjadinya rekayasa dalam bekerjanya sistem hukum pidana.

“Jika norma Pasal 27 UU Penanganan Covid 19 tetap ada dan mempunyai kekuatan hukum mengikat, maka akan memberikan justifikasi kepada pemerintah untuk melakukan tindakan rekayasa dalam penerapan hukum. Itu bertentangan dengan aksiologi hukum yang dianut oleh UUD NRI 1945,” tukasnya.

BACA JUGA  Siapkan Naskah Khutbah Jumat, Kemenag Gandeng Ulama dan Akademisi

Untuk sidang selanjutnya yang akan dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 27 Oktober 2020, Pukul 09:00 WIB dengan agenda mendengar keterangan Saksi dari Pemohon.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Izhar Zulfikar

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat