Olahraga: Sunnah yang Terlupakan

KIBLAT.NET – Sebelumnya, mari kita sepakati dua hal terlebih dahulu. Yang pertama, bahwa olahraga merupakan suatu kegiatan jasmani yang merupakan cara alami menjaga kesehatan tubuh dan mencegah penyakit menyerang. Lalu yang kedua, kita harus sepakati pengertian sunnah sebagai segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah SAW baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan terlalu banyak menyebut hadits ini hadits itu. Karena saya terpikir menuliskan ini ketika saya membaca berita soal atlet sepakbola negeri ini yang tak mampu bermain sembilan puluh menit penuh karena pola makan dan pola hidup yang salah. Hal tersebut bisa juga kita artikan bahwa mereka belum sepenuhnya menjadi atlet, atau dalam bahasa yang lebih vulgar: mereka masih berpura-pura menjadi atlet.

Yang perlu kita renungkan adalah, jika untuk sekedar menendang dan merebut bola selama sembilan puluh menit kita perlu pola makan, pola hidup, dan latihan fisik yang keras dan konsisten. Apakah cukup bagi kita yang mendaku aktivis dakwah dengan bermain futsal dua jam dalam kurun waktu sebulan sekali? Apakah hal tersebut cukup untuk membuat kita lantas memenangi perang badar, menantang imperium Romawi, atau menaklukkan Konstantinopel?

Selama ini alam berfikir kita terlalu didominasi oleh potret-potret pasukan Muhammad Al Fatih yang rajin puasa sunnah dan terbangun untuk shalat malam. Lalu kita berpikir agak fatalis seperti sutradara serial Si Entong; cukup merapal doa hancurlah pasukan Konstantin.

BACA JUGA  Tak Masuk Kepengurusan MUI, Din: Saya Memang Mau Berhenti

Ya, saya tidak menafikan kekuatan iman telah memenangkan pasukan Al Fatih dan memang begitu keadaannya, namun tentu saja pasukan tersebut bukan pasukan abal-abal, mereka juga kuat dari sisi fisik dan itu sudah pasti merupakan hasil dari pola makan, pola hidup, serta latihan fisik keras dan konsisten tadi.

Intinya saya ingin menyampaikan dua poin: bahwa olahraga itu perlu dan dan dia harus ditujukan untuk beribadah. Jika sudah seperti itu, maka anda harus menyesuaikan intensitasnya dengan kemampuan maksimal anda dalam beribadah.

Misalnya anda adalah seorang dai kondang dengan jadwal kajian yang padat, maka anda harus memastikan badan anda kuat menjalaninya. Anda tidak boleh malas berolahraga hingga pada usia tertentu anda terserang penyakit dan aktivitas dakwah pun terganggu bahkan berhenti total. Bukankah dakwah sebagai sebentuk ibadah harus diupayakan semakin bertambah hingga akhir hayat, alih-alih dikurangi bahkan dihentikan.

Di samping itu, salah satu atribut agama Islam adalah memerintahkan umatnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu demi mencapai keridhaan dan surga Allah. Untuk mencapainya, kita butuh fokus, daya juang, dan ketahanan. Dan olahraga dapat memberi kita ketiganya.

Olahraga juga dapat mengembangkan rasa kebersamaan umat Islam. Rasa kebersamaan tanpa membedakan ras, warna kulit, dan ikatan kebangsaan merupakan kekuatan inti umat Islam. Potret tersebut terpampang nyata ketika kita menyaksikan jamaah shalat jum’at dan haji. Namun di luar konteks ibadah rohani, olahraga bisa menjadi platform yang mubah bagi umat Islam untuk bersenang-senang dan mempererat silaturrahim.

BACA JUGA  HRS Center: Habib Rizieq Tak Bisa Dipidana Karena Langgar PSBB

Upaya membangun chemistry dalam sebuah kerja sama tim untuk mencetak gol bisa jadi berujung pada peningkatan keterampilan komunikasi umat Islam dalam ibadah-ibadah yang bersifat jama’i. Maka agenda pertandingan futsal antar halaqah pengajian itu bagus, cuman pertanyaannya apa cukup hanya sebulan sekali.

Dan terakhir, saya mengajak pembaca untuk sejenak berpikir lebih sederhana. Demi mengobati alam pikiran kita yang kadung terkontaminasi oleh kata-kata indah para motivator nikah muda. Mereka senantiasa meromantisasi kisah balap lari Rasulullah SAW dengan Aisyah RA. Entahlah apa yang “merasuki” mereka hingga berani mengukur perilaku manusia pilihan Allah berabad-abad silam dengan roman-roman picisan.

Bagi saya. Peristiwa tersebut sangat sederhana maknanya, bahwa Rasulullah SAW berolahraga dan bagi seorang muslimah berolahraga itu bukan sebuah “tabu”.

Penulis: Azzam Diponegoro

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat