Muslim Rohingya Hidup dalam Penjara Terbuka di Myanmar

KIBLAT.NET, Rakhine – Sekitar 130.000 Muslim Rohingya yang berada di kamp-kamp pengungsi di negara bagian Rakhine hidup di bawah kondisi “jorok dan kejam”. Demikian laporan Human Rights Watch (HRW) pada Kamis (08/10/20). Kelompok itu mendesak agar penahanan sewenang-wenang dan tidak terbatas terhadap mereka segera diakhiri.

HRW mengatakan penahanan massal sebagian besar Muslim Rohingya di kamp-kamp itu seperti “penjara terbuka”.

“Pemerintah Myanmar telah menahan 130.000 Rohingya dalam kondisi tidak manusiawi selama delapan tahun, terputus dari rumah, tanah, dan mata pencaharian mereka, dengan sedikit harapan bahwa keadaan akan membaik,” kata Shayna Bauchner, penulis laporan tersebut.

Sebelum 2017, diperkirakan ada satu juta Rohingya di Myanmar. Mereka telah tinggal di negara itu selama beberapa generasi, tetapi pemerintah menganggap mereka migran dari negara tetangga Bangladesh dan menolak memberikan kewarganegaraan atau bahkan menyebut mereka sebagai Rohingya.

Pada 2017, tindakan keras militer yang brutal memaksa sekitar 750.000 Rohingya melarikan diri melintasi perbatasan ke Bangladesh dalam kekerasan yang sekarang menjadi subyek dakwaan genosida terhadap Myanmar di pengadilan tinggi PBB.

Dari sekitar 250.000 Rohingya yang tersisa di Myanmar, setidaknya 100.000 telah tinggal di kamp-kamp pengungsian selama gelombang kekerasan sebelumnya pada tahun 2012.

Puluhan ribu orang Rohingya lainnya tinggal di desa-desa yang tersebar di Rakhine. Tetapi mereka takut pada militer, yang terus mengawasi komunitas mereka.

BACA JUGA  Setahun Terakhir, Israel Hancurkan 1.196 Rumah Warga Palestina

Yang memperparah masalah mereka adalah konflik paralel antara militer dan Tentara Arakan, kelompok bersenjata etnis Rakhine, yang telah meningkat selama setahun terakhir dan membuat puluhan ribu orang mengungsi di negara bagian itu.

Laporan HRW baru setebal 169 halaman yang diterbitkan pada hari Kamis itu mengatakan bahwa dari puluhan ribu orang Rohingya yang tinggal di kamp pengungsian, ​​banyak yang tidak bekerja.

“Kamp itu bukan tempat yang layak huni bagi kami,” kata seorang pria Rohingya seperti dikutip dalam laporan itu.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Ibas Fuadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat