Ekonomi Syariat Tak Hanya Bermanfaat untuk Umat Islam

KIBLAT.NET, Jakarta – Sekretaris Ditjen Bimas Islam, M. Fuad Nasar optimistis Indonesia bisa menjadi pusat perkembangan ekonomi Islam. Menurutnya, Indonesia punya bekal untuk mencapai hal tersebut.

“Indonesia bisa menjadi pusat ekonomi syariat. Pertama karena Indonesia mempunyai penduduk muslim terbesar di dunia. Indonesia juga memiliki tingkat keterdemawnan tertinggi. Indonesia juga memiliki lembaga filantropi yang mengelola zakat wakaf mungkin terbanyak di dunia,” katanya dalam acara “Dialog Isu-isu Kebimasislaman Dengan Praktisi Media” di Bogor, Senin (21/09/2020).

Ia juga menyebutkan bahwa ekonomi syariat terbuka bagi semua kalangan. Manfaatnya tidak hanya untuk muslim tapi untuk semua kalangan yang menghendaki kehidupan ekonomi anti diskriminasi, tidak ada  ketimpangan sosial dan anti riba.

“Karena dalam Islam antara ekonomi komersial dan sosial itu tidak boleh terpisah tapi saling mendukung. Orang dalam mengejar kekayaan, mencapai keuntungan, tidak boleh meninggalkan misi hidupnya yaitu menolong orang lain,” tuturnya.

“Itulah yang membedakan moral ekonomi dalam agama Islam. Nilai pokok dalam Islam adalah keadilan,” sambung Fuad.

Keadilan ini, kata dia, menjadi spirit ekonomi Islam. Baik zakat, infaq dan wakaf. Ia menegaskan bahwa Islam menghendaki bahwa harta tidak hanya berkutat pada orang kaya tapi harta yang punya fungsi sosial.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Izhar Zulfikar

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat