Soal “Good Looking”, Menag Sebaiknya Bertaubat

KIBLAT.NET – Menteri agama baru-baru ini kembali mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan polemik. Yaitu pernyataanya bahwa para hafizh Al-Qur’an dan orang-orang good looking berpotensi menjadi pintu masuk radikalisme.

Terkait hal tersebut, maka saya ingin memberikan tanggapan sebagai berikut:

Pertama: Menyayangkan pernyataan menteri agama. Sepatutnya seorang muslim tidak mengatakan seperti itu, apalagi setingkat menteri agama.

Kedua: Pernyataan menteri agama ini telah melecehkan agama Islam dan menyakiti umat Islam sehingga menuai kemarahan dan penolakan dari umat Islam di seluruh Indonesia. Menjadi hafizh dan good looking itu ajaran Islam yang diperintahkan.

Ketiga: Pernyataan menteri agama ini telah menimbulkan kegaduhan bangsa dan berpotensi memecah belah persatuan umat Islam dan bangsa. Ini membahayakan negara.

Keempat: Pernyataan menteri agama ini tidak benar. Ini hanya tuduhan, bahkan fitnah. Faktanya, para hafizh al-Qur’an dan good looking tidak melakukan perbuatan radikalisme seperti yang dituduh.

Kalaupun ada kasus satu atau dua, maka itu oknum yang menyimpang. Tidak boleh digeneralkan.

Kelima: Menuduh radikal terhadap orang hafizh Al-Qur’an dan good looking itulah radikal sejati. Orang hafiz dan good looking itu orang baik karena taat kepada agama. Agama mengajarkan kebaikan, kasih sayang dan toleransi. Agama tidak mengajarkan kejahatan dan radikalisme. Justru agama melarangnya.

Keenam: Konsep radikalisme yang dijadikan dasar Menteri Agama dalam pengambilan keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan serta pernyataan-pernyataannya justru perlu dipertanyakan.

Nampak secara jelas konsep radikalisme ini adalah yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga think-tank Barat, seperti RAND Corporation, untuk menghancurkan Islam yang selama ini dipersepsikan sebagai ancaman terhadap kepentingan-kepentingan global mereka.

BACA JUGA  Menag: Semua Agama Tak Ajarkan Gaya Arogan

Dengan demikian, tujuan pernyataan menteri agama ini menjadi semakin dipertanyakan: apakah untuk kepentingan bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, atau kepentingan siapa?

Faktanya, pernyataan menteri agama ini sejalan dengan tuduhan musuh-musuh Islam. Orang baik dan taat agama dikatakan radikal. Anehnya, pelaku maksiat seperti pencuri, koruptor, pemecah belah umat dan bangsa, pelaku LGBT, persekusi ulama, penista agama dan maksiat lainnya tidak dikatakan radikal. Padahal merekalah radikal sejati.

Ketujuh: Menteri agama sepertinya perlu diingatkan agar berhati-hati dalam memberikan pernyataan, apalagi pernyataan yang melecehkan agama dan menyakiti umat Islam. Tentu hal tersebut hukumnya haram.

Kedelapan: Menteri agama juga harus sadar bahwa doa orang yang terzalimi itu dikabulkan Allah Swt, terlebih lagi doa orang-orang yang taat kepada agama seperti para hafiz Al-Qur’an dan orang-orang good looking.

Kesembilan: Menteri agama agaknya perlu untuk introspeksi diri dan bertaubat dari berbagai pernyataan dan kebijakan yang selama ini melecehkan agama Islam dan menyakiti umat Islam. Ini bukanlah pernyataan yang pertama kali dari menteri agama, namun sudah banyak pernyataan dan kebijakan menteri agama yang melecehkan ajaran agama dengan tudingan radikalisme sejak dari awal menjadi menteri agama sampai hari ini.

Kesepuluh: Para pemimpin khususnya menteri agama juga harus ingat bahwa mereka akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah Swt. Jabatan itu amanah dan ujian Allah Swt, apakah pemimpin itu taat atau bermaksiat kepada Allah Swt. Ingat, jabatan itu hanya sebentar. Begitu pula hidup kita di dunia. Maka manfaatkan untuk mendapatkan ridha Allah. Agar selamat di dunia dan akhirat.

BACA JUGA  Menag: Semua Agama Tak Ajarkan Gaya Arogan

Demikianlah tanggapan saya terhadap persoalan ini sebagai wujud kepedulian saya terhadap persoalan umat dan bangsa demi kemaslahatan agama, umat dan bangsa serta membela kebenaran. Semoga pendapat yang saya sampaikan ini bermanfaat bagi umat dan bangsa khususnya bagi menteri agama. Amin.

Banda Aceh, Ahad 13 September 2020 M
Ttd

(Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA)
Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Provinsi Aceh, Ketua Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) Provinsi Aceh, Anggota Ikatan Ulama & Da’i Asia Tenggara.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat