... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Dokter Khan, Kritik yang Membuatnya Dijebloskan ke Tahanan

Foto: Dr Kafeel Khan

KIBLAT.NET, New Delhi – Seorang dokter India yang dipenjara selama lebih dari tujuh bulan karena mengkritik undang-undang kewarganegaraan anti-Muslim dibebaskan pada Selasa malam.

Dr Kafeel Khan mengatakan bahwa dia disiksa secara fisik saat di penjara, termasuk dilucuti pakaiannya dan dipukuli serta tidak diberi makan selama berhari-hari.

“Sangat berat bagi seluruh keluarga. Ibu saya yang berusia 65 tahun terpaksa harus ke pengadilan saat puncak pandemi virus corona,” katanya.

Dr Khan ditangkap pada Januari karena memberikan kritikan tentang malnutrisi, kurangnya fasilitas kesehatan dan krisis pengangguran di negara itu.

Tetapi kritik Khan terhadap Undang-Undang Amandemen Kewarganegaraan (CAA), yang melarang Muslim dari negara-negara tetangga Asia Selatan untuk mendapatkan kewarganegaraan India, tampaknya telah membuat marah pemerintah.

Pengesahan undang-undang tersebut pada bulan Desember memicu protes nasional yang sebagian besar dipimpin oleh Muslim – minoritas terbesar di India, yang berjumlah hampir 200 juta.

Menjadi Target Karena Seorang Muslim

Yogi Adityanath, yang merupakan menteri utama Uttar Pradesh (UP) dan dikenal karena pernyataan anti-Muslimnya, memerintahkan tindakan keras terhadap protes anti-CAA di negara bagian utara tersebut. Lebih dari dua lusin Muslim tewas dalam aksi polisi yang dikutuk oleh Amnesty International India.

“Siapa yang akan berbicara di saat kekejaman ini, jika kita juga diam, siapa yang akan mengangkat suara mereka?” kata Khan dalam pidatonya di depan mahasiswa Universitas Muslim Aligarh, yang terletak sekitar 125 km dari ibu kota, New Delhi.

Kritikus dan anggota keluarga mengatakan dokter anak berusia 38 tahun itu menjadi sasaran karena dia memilih untuk berbicara menentang hukum, yang oleh PBB disebut “diskriminatif secara fundamental”.

Departemen kepolisian UP dalam pengaduannya menuduh Dr Khan “menabur benih perselisihan terhadap komunitas agama lain.

Khan ditangkap bersama delapan orang lainnya atas kematian anak di bawah umur, dan dipenjara selama tujuh bulan.

Dia ditangkap lagi setahun kemudian selama 45 hari, setelah pihak berwenang mengklaim dia telah menerobos masuk ke sebuah rumah sakit di distrik Bahraich di UP, yang menyebabkan keributan.

Dokter mengklaim dia pergi ke rumah sakit untuk menanyakan tentang kematian anak-anak di rumah sakit akibat ensefalitis, radang otak. Ribuan anak telah meninggal di Uttar Pradesh dan di negara bagian Bihar yang berdekatan karena wabah ensefalitis episodik sejak 1970-an.

Pada tahun 2018, tim penyelidik yang menyelidiki tragedi rumah sakit BRD membebaskan dokter anak dari kesalahan kriminal apa pun. Khan telah meminta permintaan maaf dari pemerintah yang dipimpin Adityanath dan mendapatkan kembali pekerjaannya.

Namun sebaliknya, pemerintah memerintahkan penyelidikan ulang atas kasus kematian anak-anak tersebut.

Dr Bhatti, yang juga Presiden dari Progresif Medicos and Scientists Forum, mengatakan Khan telah dijadikan “kambing hitam”.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Ibas Fuadi


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Ditolak Malaysia dan Thailand, 300 Rohingya Mendarat di Aceh

Hampir 300 pengungsi Rohingya telah mendarat di Indonesia pada Senin (07/09/2020). Pihak berwenang mengatakan mereka telah berada di laut selama sekitar enam bulan.

Selasa, 08/09/2020 14:03 0

Indonesia

HNW Khawatir Pelibatan BNPT dan BPIP dalam Sertifikasi Dai

Hidayat Nur Wahid khawatir pelibatan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam sertifikasi dai

Selasa, 08/09/2020 10:49 0

Indonesia

DSKS Minta Fachrul Razi Mundur dari Menag

Ustadz Muinuddinillah Basri meminta kepada menteri agama Fachrul Razi untuk mengundurkan diri

Selasa, 08/09/2020 10:38 0

Indonesia

Wamenag: Dai Harus Terbebas dari Paham Radikal

Wakil Menteri Agama, Zsinut Tauhid Saadi mengimbau kepada seluruh masyarakat agar dalam menyikapi rencana program kegiatan dai dan penceramah agama bersertifikat yang digagas oleh Kementerian Agama dengan jernih

Selasa, 08/09/2020 10:08 0

Indonesia

Ternyata Sertifikasi Dai Tak Pernah Dibahas di DPR

Wakil Ketua MPR-RI, Hidayat Nur Wahid meminta Kementerian Agama menyudahi kontroversi sertifikasi penceramah yang tidak produktif dan justru menimbulkan keresahan

Senin, 07/09/2020 14:48 0

Indonesia

Tolak Sertifikasi Dai, Anwar Abbas Ancam Mundur dari MUI

Sekjen MUI Anwar Abbas menolak sertifikasi dai oleh Kemenag. Sikap ini muncul karena Menag Fachrul Razi yang kerap berbicara radikalisme namun selalu mendiskreditkan Islam.

Senin, 07/09/2020 14:28 0

Indonesia

Kemenag: Tak Ada Konsekuensi Bagi Penceramah Tidak Bersertifikat

Kementerian Agama dalam waktu dekat akan menyelenggarakan program penceramah bersertifikat

Senin, 07/09/2020 10:15 0

Feature

Belajar Mencintai Anak Yatim dari Punk Tebet

Delapan anak punk terlihat duduk melingkar di bawah fly over Tebet, Jakarta Selatan.

Sabtu, 05/09/2020 12:22 0

Kiblatorial

Kiblatorial: Manuver Ciptaker Sasar Pesantren

Siapa sangka, RUU Ciptaker juga mengancam eksistensi pesantren.

Sabtu, 05/09/2020 09:01 0

Indonesia

Heboh Soal “Good Looking”, Kemenag: Itu Hanya Ilustrasi

Menteri Agama Fachrul Razi menyampaikan pandangannya tentang pentingnya mewaspadai paham ekstrem keagamaan

Jum'at, 04/09/2020 21:54 0

Close
CLOSE
CLOSE