Eks Penyintas Tegaskan Covid-19 Bukan Konspirasi

KIBLAT.NET, Jakarta – Pandemi corona tak kunjung usai di Indonesia, bahkan angka jumlah penderita yang dirilis oleh Satgas Covid-19 selalu mengalami peningkatan dari hari ke hari. Hal ini membuat sebagian orang menganggap Covid-19 hanya produk konspirasi belaka, sebetulnya tidak ada namun tampak diada-adakan untuk maksud dan tujuan tertentu.

Menanggapi hal tersebut, Daulat Fajar Yanuar, salah satu eks penyintas menegaskan Covid-19 bukanlah konspirasi. Dia benar-benar eksis dan nyata.

“Jangan menganggap kalau Covid ini konspirasi, karena kan banyak masyarakat yang post truth gitu kan. Mereka hanya mau mempercayai apa yang mau mereka percayai, ini memang benar benar ada,” kata Daulat ketika menjadi narasumber pada acara POLEMIK TRIJAYA “BURUK SIKAP, COVID DIBELAH” pada Sabtu (29/08/2020).

Daulat mengisahkan dirinya yang divonis positif dengan gejala ringan saja sudah merasa sangat kesakitan.

“Gejala ringan, tapi ringan aja rasanya udah kaya sakaratul maut aja,” tuturnya.

Daulat yang merupakan seorang jurnalis mengaku tidak bisa memastikan kapan dia mulai terpapar virus corona.

“Kenanya kurang tahu. Mungkin tanggal 26 Juli, hari terakhir saya keluar rumah (untuk liputan, red.). Saya ke kantor terus ke salah satu kementerian,” ungkapnya.

Gejala pertama mulai dirasakan Daulat pada hari Ahad (28/07/2020), dia awalnya merasakan demam biasa. Namun demamnya terus berlanjut bahkan bertambah tinggi hingga sehari setelahnya. Kemudian di hari Selasa, dia mulai meriang seperti gejala tifus. Hari Rabu mulai merasa pusing, Kamis muali tidak bisa mencium aroma makanan dan lidahnya tidak bisa mengecap rasa, puncaknya pada hari Jumat di mana Daulat mulai merasakan sesak napas.

Pada hari Sabtu, Daulat memutuskan pergi ke Dokter untuk check up. Melakukan foto thorax dan tes darah di laboratorium. Hasilnya positif tifus dan dari hasil foto thorax tampak banyak flek di paru-paru. Dokter kemudian memvonisnya sebagai suspect Covid-19 dan menyarankan tes swab.

Daulat pun segera memberi kabar kepada teman-temanya yang ditemui saat terakhir kali keluar rumah. Teman-temannya pun berinisiatif untuk menghubungi Satgas Covid-19 Nasional supaya Daulat mendapatkan akses masuk ke Wisma Atlet.

BACA JUGA  Pengacara HRS: Putusan Hakim Tunggal Sesat Menyesatkan

“Alhamdulillah saya dikasih akses masuk ke Wisma Atlet, hari Minggunya langsung berangkat ke sana,” ujarnya.

Di Wisma Atlet, dia menjalani tes swab dan hasilnya yang keluar pada tanggal 6 Agustus menyatakan positif.

Selama menderita Covid-19, jam tidur Daulat menjadi tidak teratur. Dia biasa tidur mulai jam sembilan malam dan  selalu terbangun pada jam satu malam. Setelah itu, dia tak bisa tidur hingga jam delapan pagi.

“Dan setelah itu saya nggak bisa tidur lagi sampai jam delapan pagi saya baru bisa tidur,” katanya.

Menurut dokter, hal tersebut memang gejala penderita Covid-19 banget. Dan dokter menerangkan jika gejala yang dialaminya mirip dengan gejala yang dialami oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Meskipun bisa menjalani isolasi mandiri di rumah, Daulat memilih menjalani isolasi di Wisma Atlet demi melindungi keluarga dan lingkungan sekitar.

“Dari pada menular ke keluarga, lebih baik saya isolasi di sana,” ujarnya.

Selain susah tidur, napas Daulat juga sangat sesak.

“Rasanya kayak ada beling di paru-paru. Sakit banget pas narik napas dan itu berlangsung sekitar tiga hari,” ungkap Daulat.

Ketika di Wisma Atlet, berjalan ke ruang perawat yang berjarak tiga puluh meter dari ruang perawatan saja terasa sangat melelahkan.

“Udah kayak lari ngelilingin Senayan,” ujarnya.

Daulat mengakui dirinya tidak mempunyai penyakit bawaan, tidak merokok, dan termasuk yang disiplin mentaati protokol kesehatan dalam kesehariannya meskipun terkadang satu dua kali abai. Menjalani isolasi selama empat belas hari membuat berat badannya turun sepuluh kilogram.

Dia menduga dirinya terpapar karena bertemu orang tanpa gejala ketika sedang abai menjalankan protokol kesehatan atau ketika imunitas tubuhnya sedang turun. Maka Daulat pun berpesan agar jangan sampai sekalipun abai dalam menjalankan protokol kesehatan.

BACA JUGA  Ekstremisme Dianggap Meningkat, Jokowi Teken Perpres no 7 Tahun 2021

“Kita jangan sampai disiplin menjaga protokol kesehatan setelah kena Covid. Nyesel banget,” tegasnya.

Sudah satu bulan sejak dinyatakan suspect, sekarang Daulat mengaku masih ada batuk sekali dua kali dan setiap pagi rutin mengeluarkan dahak dari tenggorokan. Dia pun memutuskan untuk sementara tidak menjalankan aktivitasnya sebagai jurnalis.

Selain itu, dia juga merasa tubuhnya cepat mengalami kelelahan. Dan yang paling terasa adalah dia menjadi lebih sensitif terhadap abu rokok ataupun debu.

“Pas pulang pakai taksi, mungkin drivernya habis ngerokok. Pas di wisma atletnya sih sehat-sehat aja nggak ada batuk sama sekali, pas di taksi saya batuk nggak ada berhenti-berhentinya dari Kebayoran sampai Depok. Gara-gara bau asap rokok aja,” ungkapnya.

“Kemarin saya habis ngerakit lemari ada debu-debunya, bikin saya batuk-batuk gitu. Biasanya sih enggak, biasa aja,” sambung Daulat.

Jujur Lebih Baik

Kepada sesama penyintas, Daulat berpesan agar mereka jujur saja kepada orang-orang di lingkungan sekitar.

“Yang ingin saya sampaikan kita harus melindungi keluarga dan lingkungan. Artinya begini kalau kita kena Covid kita jujur aja sama orang kita jujur sama lingkungan,” katanya.

Meskipun sempat khawatir akan mendapat stigma negatif dan dikucilkan, istri Daulat memutuskan untuk jujur kepada Ketua RT dan menceritakan apa adanya terkait kondisi suaminya.

“Alhamdulillah masyarakat sekitar itu sangat mendukung. Jadinya ketika istri saya memberitahukan kondisi saya bagaimana, Pak RT bahkan berterima kasih kepada istri saya berterima kasih karena telah jujur,” ujarnya.

Akhirnya dari Satgas Covid-19 Kelurahan sendiri melakukan tindakan-tindakan preventif supaya tidak ada lagi warga yang terpapar Covid-19. Bahkan masyarakat bahu-membahu membantu meringankan beban keluarganya.

“Masyarakat kita tuh bahu-membahu, supaya istri saya nggak usah repot-repot harus masak dan ngurus anak setiap hari. Gantian itu mereka mengirimkan makanan,” pungkasnya.

Reporter: Azzam Diponegoro
Editor: Rusydan Abdul Hadi

 

 

 

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat