Dari Film Jejak Khilafah ke Ertuğrul: Turki, Film dan Politik

Oleh: Beggy Rizkiansyah, pegiat sejarah dan kolumnis Kiblatnet

KIBLAT.NET – Di media sosial, perdebatan belakangan meruncing semakin tajam. Penyebabnya seputar film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN). Tak ayal debat liar di media sosial juga menjurus ke ajang caci maki. Tetapi tak hanya itu, pemutaran film ini juga membuka ruang-ruang diskusi daring soal sejarah hubungan kekhalifahan Islam. Wabil khusus, relasi Turki Usmani dengan kesultanan-kesultanan di Nusantara.

Setuju atau tidak setuju dengan film JKDN, satu hal yang pasti, kehadiran film tersebut menggulirkan kembali diskusi sejarah kekuasaan Islam di nusantara. Di satu sisi, diskusi tersebut bisa mencerahkan karena memancing persoalan sejarah ke ranah ilmiah. Sejarah yang selama ini hadir dalam buku-buku tebal, diencerkan ke dalam bentuk film yang lebih mudah dicerna awam.

Tetapi kita juga tidak bisa menafikan sisi lain dari kehadiran film tersebut. Tidak sedikit yang melihat film ini sebagai ajang menampilkan ide khilafah yang diusung oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Di lain sisi, banyak pula yang melihat penolakan terhadap film ini sebagai tendensi negatif terhadap eksistensi Islam di Indonesia.

Film memang memberi dimensi yang beragam. Bukan sekedar filmnya itu sendiri, tetapi dampak, pesan halus dan bahkan relasi dengan kekuasaan yang hadir lewat film tersebut. Jika di Indonesia film JKDN mencoba menarik relasi nusantara dengan Kekhalifahan Turki Usmani, maka di sebagian wilayah dunia sedang terjadi pula demam Turki yang disebabkan oleh drama seri Diriliş: Ertuğrul (Kebangkitan: Ertuğrul).

Film ini menjadi begitu meledak sehingga digemari di berbagai negeri, mulai dari Asia Selatan, Amerika Selatan, Timur Tengah, sampai ke Afrika. Media Inggris, The Guardian menyebut drama seri Ertuğrul sebagai “Muslim Game of Thrones”, merujuk pada film seri Amerika yang meledak tersebut. Kebetulan keduanya sama-sama berlatar tentang kerajaan di abad pertengahan. Bedanya, Ertuğrul bercerita tentang kehidupan ayah Usman Ghazi, pendiri dari Kesultanan Usmani. Hanya saja, bagi penonton di dunia Muslim, Ertuğrul lebih dari sekedar drama seri.  Serial ini menggambarkan ritual dan kisah Islam yang positif.

Penonton dari dunia Muslim mungkin sudah jengah dengan serbuan film Hollywood yang kerap menggambarkan Islam secara negatif. Represi dan terorisme adalah makanan sehari-hari naskah film Hollywood terhadap Islam. Tetapi drama seri Ertuğrul berbeda. Sejak pertama kali di tayangkan Turkish Radio Television (TRT) di tahun 2014, film ini menangkap pemirsa begitu luas. Bahkan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dan cucu Nelson Mandela menggemari serial ini.

Netflix kemudian mengalihsuarakan drama ini ke dalam bahasa Inggris di tahun 2017 untuk penonton Amerika dan Inggris Raya. Begitu populernya hingga serial ini sudah dialihsuarakan ke 6 bahasa dan ditayangkan di 72 negara. Di Youtube sendiri, menurut The Guardian, Ertuğrul sudah ditonton 1,5 miliyar kali. Begitu populernya hingga Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, pada Oktober tahun lalu meminta stasiun televisi milik negara, Pakistan Television (PTV) untuk mengalihsuarakan serial tersebut dalam bahasa Urdu.

Dampaknya lebih dari sekedar penggemar di layar kaca. Di Sogut, Turki, tempat Ertuğrul dimakamkan, menjadi destinasi wisata akibat serial tersebut. Di TripAdvisor, destinasi Sogut menjadi pembicaraan, karena antusiasme penggemar serial ini.

Drama Turki memang bukan sambil lalu bagi Turki. Turki saat ini  ada di peringkat dua distribusi serial TV di seluruh dunia, hanya di bawah dedengkot perfilman dunia, Amerika Serikat. Pemirsanya merentang dari Rusia, Cina, Korea dan Amerika Latin. Ditilik dari jumlah tayangan yang terjual, Cili adalah konsumen terbesar drama seri Turki, sementara Meksiko dan Argentina menjadi pembayar paling mahal. Secara keseluruhan, menurut Kementerian Budaya dan Pariwisata Turki, ada hampir 150 serial yang mereka ekspor ke lebih dari 100 negara.

BACA JUGA  Din Syamsuddin Nilai Pemanggilan Anies Oleh Polisi Tak Wajar

Di Turki mereka menyebut drama seri dengan istilah ‘dizi.’ Setiap episode dizi biasanya berjalan selama dua jam atau lebih. Pengambilan film biasanya dilakukan di latar historis seperti Istanbul. Dizi adalah bentuk baru dari budaya massa dari Timur, seperti Bollywood atau K-Pop yang mendominasi budaya pop Amerika.

Film-film Amerika meinggalkan banyak hal yang masih dianggap penting oleh pemirsa dunia Islam, terutama soal nilai-nilai keluarga. Film Amerika banyak berkisah seputar seks, kekerasan dan narkotika. Mungkin itu pula yang memikat pemirsa dunia Islam tentang film drama Turki, termasuk di Indonesia.

Kita tentu masih ingat penayangan serial King Suleiman di salah satu televisi swasta Indonesia. Serial itu mendapatkan antusiasme tinggi dari pemirsa di tanah air. Sebelum tayang, serial itu memberi ekspektasi tinggi bagi pemirsa tanah air yang berharap menyaksikan sebuah serial dengan nilai-nilai Islam.

Alih-alih memberi gambaran tentang nilai-nilai Islam yang cocok untuk keluarga, film itu lebih berkisah tentang intrik-intrik percintaan sehingga mendapatkan kecaman di berbagai media daring. Ekspektasi pemirsa Indonesia yang berharap mendapatkan gambaran pemimpin Islam sejati seperti hidup Sulaiman al-Qanuni pun buyar. (Ganjar Widhiyoga : 2015)

Ganjar Widhiyoga dalam The Quest for Islamic Leadership: Indonesian Muslims’ Reaction to Magnificent Century (2015) menyebutkan bahwa reaksi terhadap film King Sulaiman bukan sebatas sosok Sulaiman al-Qanuni atau serial itu sendiri, tetapi dianggap sebagai serangan terhadap berkembangnya kesadaran Islam kaum muslimin di Indonesia yang dikombinasikan dengan pencarian kepemimpinan Islam yang otentik.

Serial Ertuğrul pun demikian. William Armstrong dalam opininya di The New York Times, menyebut popularitas serial tersebut sebenarnya tidak merefleksikan bangkitnya Islamisasi di bawah Presiden Erdogan. Tetapi lebih pada ambisi mendalam untuk kebanggaan dan tuntutan nasional melawan musuh. Serial Ertuğrul mencerminkan gagasan bahwa Turki sebagai kerajaan yang besar memiliki misi yang unik, sebuah bangsa yang ditemukan oleh orang-orang yang kuat, berani dan bijaksana.

Armstrong juga mengutip akademisi Turki, Semuhi Sinanoglu yang menyebutkan serial televisi bekerja sebagai ‘teknologi yang politis’ mengamankan legitimasi untuk rezim politik saat ini. Tema seperti ini yang menurut Armstrong mencerminkan penampilan populis Erdogan. Selama bertahun-tahun Erdogan menurut Armstrong telah berusaha menggambarkan bangunan besar proyek untuk membentuk Turki sebagai bagian dari kekuatan asing yang iri dengan kebangkitan Turki.

Tetapi benarkah film dapat berdampak sebesar itu pada masyarakat? Kita boleh saja menganggap kesimpulan demikian berlebihan, tetapi nyatanya bukan masyarakat yang bearksi terhadap ‘gempuran’ serial Ertuğrul tetapi rezim-rezim penguasa Timur Tengah.

Popularitas serial Ertuğrul membuat rezim Arab Saudi dan Uni Emirat Arab khawatir. Arab Saudi akhirnya menyingkirkan serial ini dari jaringan terbesar mereka. Sejak tahun 2018, Middle East Broadcasting Center (MBC), -jaringan siaran terbesar di Timur Tengah dan Afrika Utara dengan pemirsa lebih dari 400 juta penonton,- menyingkirkan enam serial Turki dari siaran mereka. Hal ini membuat MBC merugi 25 juta dollar. Hal ini membuat lenyapnya serial Turki dari jaringan televisi di Timur Tengah.

BACA JUGA  Jejak Dakwah Habib untuk Bangsa

Hal ini sungguh ironis, mengingat, MBC lah yang membawa serial drama Turki ke Timur Tengah pada tahun 2007. Lantas mengapa MBC berubah 180 derajat dalam sikap mereka soal serial drama Turki. Alasannya bisa kita tarik hingga peristiwa yang menggoncangkan Kerajaan Arab Saudi 2017 silam.

Pada November 2017, putra mahkota, Pangeran Mohammad bin Salman menangkap pendiri MBC, Waleed bin Ibrahim Al Ibrahim. Waleed bin Ibrahim ditangkap atas tuduhan korupsi. Salah satu tawaran yang diberikan pada Waleed adalah penyerahan kendali atas MBC kepada Pangeran Mohammad bin Salman meski Waleed tetap dapat berperan di MBC.

Financial Times menyebutkan bahwa Pangeran Mohammad bin Salman telah lama tertarik menguasai MBC. Namun tawaran 2-2,5 miliar dollar ditampik oleh Waleed yang meminta harga lebih tinggi.

Pembebasan Waleed akhirnya ditebus dengan kepemilikian mayoritas yang tidak diketahui, namun satu hal yang pasti. Perintah pertamanya adalah membatalkan semua drama Turki di MBC. Variety.com mengutip Izzet Pinto dari Global Agency yang mengepalai penjualan film Turki, menyebukan bahwa keputusan tersebut pasti politis.

Tak cukup sampai disitu, koalisi Saudi dan Uni Emirat Arab telah menggelontorkan dana 40 juta dollar dan menugaskan sutradara Inggris untuk memproduksi film seri Kingdom of Fire. Serial ini berkisah tentang persaingan dua pemimpin, yaitu Sultan Salim I dan Sultan terakhir di Kairo, Tuman Bay II. Serial ini kemudian tayang di tahun 2019 dan diproduksi sebanyak 40 episode. TRT World, media pemerintah Turki menyebut film seri ini sebagai bertendensi anti-Usmani.

Serial Ertuğrul dan drama Turki lainnya mungkin hanya salah satu di antara instrumen soft power Turki saat ini yang hendak memainkan peran penting diantara negeri-negeri di sekitarnya. Di Timur tengah dan negara-negara mayoritas muslim lain, serial drama Turki memberikan apa yang tidak disajikan film-film dari Amerika Serikat.

Bagi rezim-rezim seperti Saudi atau Uni Emirat Arab, soft power Turki sudah dilihat sebagai ancaman bagi kekuasaan mereka. Citra Turki sebagai pemimpin global khususnya bagi dunia Islam tak dapat dipungkiri dapat dilalui lewat soft power mereka yang dibangun lewat drama seri. Seperti yang disebutkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Omer Celik pada tahun 2014, “Jika sebuah negara menolak keragaman budaya dan mencoba untuk membetuk masyarakat yang seragam, maka mustahil bagi sebuah negara untuk memiliki suara di dunia.”

Serial Ertuğrul atau film Jejak Khilafah di Nusantara, tanpa disadari mungkin sama-sama memberi satu citra atau gambaran yang agung tentang Turki Usmani dan secara tidak langsung menguntungkan Turki yang sedang ikut terjun dalam panggung politik dunia dan membangun visi neo-ottoman mereka.

Itu sebabnya, di Indonesia, film Jejak Khilafah mendapatkan perhatian, bukan karena mereka pendukung gagasan khilafah ala Hizbut Tahrir, tetapi bisa jadi pesona Turki dan warisan sejarahnya yang membuat penonton terpana. Dan bukankah di Indonesia memang sedang terjadi demam Turki?

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat