... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Sutradara “Jejak Khilafah di Nusantara” Bantah Selipkan Propaganda HTI

Foto: Jejak Khilafah di Nusantara. (Foto: Bara.web.id)

KIBLAT.NET, Jakarta – Sutradara film “Jejak Khilafah di Nusantara” (JKDN), Nicko Pandawa membantah anggapan tentang adanya propaganda HTI yang diselipkan dalam film besutannya tersebut. Dia menegaskan JKDN hanya menceritakan fakta-fakta sejarah.

“Jadi ini bukanlah sesuatu yang dipropagandakan secara berlebihan, tapi ini hanya merupakan sebuah fakta sejarah,” ujar Nicko ketika menjadi narasumber dalam acara Apa Kabar Indonesia Malam tvOne pada Kamis (27/08/2020).

Film JKDN, lanjut Nicko, merupakan upaya menjawab sebuah tantangan zaman, di mana saat ini tema khilafah mulai banyak diperbincangkan.

“Nah, pada faktanya khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan Islam yang sudah berjalan selama 1300 tahun. Dari situ kita mencari dari berbagai literasi yang ada, hubungannya dengan negeri ini, negeri Indonesia atau Nusantara,” ujarnya.

Nicko menegaskan bahwa tema khilafah bukanlah hal yang baru di Nusantara ini.

“Jejaknya sudah ada, banyak kita temukan di buku-buku bahkan termasuk di buku SKI yang diterbitkan Kemenag,” tegasnya.

Apa Kabar Indonesia Malam tvOne yang bertajuk HTI MENYELINAP DI FILM “JEJAK KHILAFAH”? turut menghadirkan Azyumardi Azra, Marsudi Syuhud, dan Ismail Yusanto sebagai narasumber.

Ketika dimintai pendapat mengenai JKDN, Azyumardi Azra menyampaikan bahwa ada kesalahan pengertian mengenai makna khilafah itu sendiri.

“Jadi kalau dikaitkan dengan Turki Utsmani, tadi juga disebut-sebut Abbasiyah, itu bukan khilafah. Itu kalau dari sistem politiknya disebut dengan monarki kalau bahasa umumnya, kalau dalam bahasa politik Islamnya disebut mamlakah atau kerajaan,” tutur Azyumardi.

Menurut Azyumardi, yang disebut khilafah yang sebenarnya itu adalah pada masa pasca Nabi yang disebut al-khulafa ar-rasyidun yang terdiri  empat orang yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman, dan Ali.

“Di mana proses suksesinya itu berbeda dengan apa yang ada di dinasti Abbasiyah ataupun dinasti Utsmaniyah atau Ottoman, itu adalah hubungannya tali darah,” ujarnya.

Azyumardi juga menyanggah narasi bahwa Aceh mempunyai hubungan dengan khilafah Abbasiyah. Karena kekuasaan Abbasiyah berakhir pada tahun 1258, sementara Kesultanan Aceh baru muncul pada tahun 1496.

“Makanya faktanya tidak bener, memang Aceh pernah berhubungan dengan Utsmani, saya nggak mau menyebutkan Utsmani itu sebagai khilafah, karena dalam literatur kajian sejarah Islam itu disebut sebagai mamlakah sebagai kesultanan,” ungkapnya.

“Jadi bukan khilafah karena sifatnya karakternya juga berbeda dengan khulafaur rasyidun,” sambung Azyumardi.

Nicko menjawab, bahwa memang apa yang dimaksud oleh Rasulullah SAW yang disebut dengan khulafaur rasyidun itu adalah khilafah ala minhajin nubuwwah. Bahkan dalam hadits lainnya, Rasulullah SAW menyebutkan kekuasaan setelah khulafaur rasyidun itu disebut mulk sebagai kekuasaan.

Meskipun demikian, para penguasa Islam pasca khulafaur rasyidun tersebut tetap lazim disebut khalifah oleh para ulama.

BACA JUGA  Masyarakat Diminta Laporkan Faskes yang Naikkan Harga Swab Test

“Kita misalkan melihat Imam Suyuthi, itu menulis sebuah kitab bernama Tarikhul Khulafa. Nah, Imam Suyuthi tidak hanya menceritakan sejarah khalifah yang terbatas sampai khulafaur rasyidun, tapi Imam Suyuthi juga menjelaskan sejarah para khalifah sampai ke dinasti Abbasiyah dan mereka semua itu disebut sebagai khalifah,” ungkap Nicko.

Nicko bahkan menyebut bahwa dalam disertasinya, Azyumardi Azra sendiri menyebut penguasa dari dinasti Umayyah sebagai khalifah.

“Di situ (disertasi Azyumardi, red.) juga disebutkan bagaimana hubungan relasi antara Sriwijaya dengan Damaskus, dengan Timur Tengah. Di mana kekuasaan di Damaskus itu tetap disebutkan oleh Pak Azyumardi Azra sebagai Khalifah Muawiyah, Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Jadi mereka tetap disebut (Pak Azyumardi, red.) sebagai khalifah,” tegasnya.

Mendengar jawaban Nicko, Azyumardi lantas menyebut bahwa khilafah yang sebenarnya hanya dua orang, yaitu Umar bin Khattab dan Abu Bakar Shiddiq.

“Itu aja. itu khulafaur rasyidun yang ideal. Itu harusnya jadi model. Jadi bukan dinasti Utsmani, sultan-sultan utsmani yang diklaim sebagai khilafah yang sultan-sultan itu kebanyakan despotik dan sering melakukan banyak sekali kekeliruan-kekeliruan,” kata Azyumardi.

Oleh karena itu, lanjutnya, dinasti Utsmani tidak bisa dijadikan model. Menurut klaim Azyumardi, dirinya sudah dari dulu menganjurkan kepada kawan-kawan Hizbut Tahrir jika ingin memimpin dengan konsep khilafah yang benar, maka merujuklah kepada khulafaur rasyidun.

Indonesia Sudah Khilafah

Ketika diminta komentarnya terkait JKDN, Marsudi Syuhud malah menerangkan bahwa Indonesia yang sudah disepakati bentuk dan dasarnya bisa saja disebut khilafah. Indonesia menurutnya adalah negara muahadah wathaniyah.

“Kalau tadi yang dimaksud khilafah itu adalah sebagai pemerintahan, maka negara pancasila yang sudah disepakati oleh para kiai, para ulama yang disebut dengan muaahadah wathaniyah ya sudah khilafah juga,” ujar Syuhud.

“Mau model khilafah yang kayak apa yang mau kita cari kalau itu maksud dari Pak nicko tadi bahwa khilafah maknanya adalah sebuah kepemerintahan atau kerajaan. Ya tinggal diakui saja Negara Pancasila ini khilafah, kalau khilafah ini adalah untuk mengatur kehidupan di muka bumi ini,” sambungnya.

Syuhud seolah tak masalah jika film JKDN dimaksudkan untuk memutar ulang sejarah Khilafah Utsmaniyah. Menurutnya, itu hanya sebuah sejarah yang pernah terjadi kemudian hilang lalu coba dimunculkan kembali oleh Taqiyuddin An Nabahani.

Ide khilafah ala Taqiyuddin An Nabahani tersebut, menurut Syuhud, kemudian tidak laku di pasaran.

“Dipasarkan di Timur Tengah pun tidak laku, di Mesir juga gak jalan, dan di negara-negara lain juga gak jalan. Nah yang laku di Indonesia ketika negara Mesir ijtihad sendiri ketemu model negara Mesir. Padahal dulu juga sudah ada ide model yang khilafah ini di sana. Nah Indonesia sudah ketemu model negara khilafah Indonesia,” tegasnya.

BACA JUGA  PKS: Satu Tahun Jokowi Masih Jauh dari Capaian Keberhasilan

Menanggapi paparan Marsudi Syuhud, Mantan Jubir HTI Ismail Yusanto meminta siapapun agar menonton JKDN terlebih dahulu sebelum berkomentar tentangnya. “Mas Marsudi Syuhud sudah mersoni dereng?” kelakar Ismail Yusanto.

Film JKDN, tutur Ismail, berusaha untuk menunjukkan bahwa ada jejak khilafah di Nusantara baik dalam konteks link up dari kesultanan-kesultanan di Nusantara kepada khilafah baik itu khilafah Utsmani bahkan juga Umawi maupun link down dari mereka ke kita.

“Jadi, ini memang betul-betul perspektif sejarah gitu, dan dalam film itu ditunjukkan memang ada bukti-bukti sejarah untuk bisa mengatakan ada jejak khilafah di Nusantara itu,” ujarnya.

Ismail juga menampik jika JKDN disebut mengandung propaganda. Namun ia menyebut jika nilai dakwah pasti ada, karena dakwah merupakan kewajiban seorang muslim.

“Berdakwah itu menyampaikan ajaran Islam. Khilafah itu bagian dari ajaran Islam,” tuturnya.

Sempat terjadi perdebatan sengit di akhir acara. Ketika Azyumardi Azra menyebut bahwa khilafah sebagai sebuah sistem dan institusi politik itu tidak ada dalam Al-Quran. Di dalam Al-Qur’an hanya terdapat kata khalifah yang konotasinya kurang begitu bagus. “Yaitu orang yang dikuasai hawa nafsu, tidak bisa mengendalikan diri, kira-kira begitu,” katanya.

Adapun dari sudut fakta, Azyumardi menjelaskan ketika Raja Sriwijaya mengirim surat kepada Umar bin Abdul Aziz, dia menyebutnya sebagai Raja Arab.

Klaim Azyumardi dibantah oleh Ismail Yusanto, menurutnya khilafah tentu saja mempunyai landasan dalam Islam.

“Kita merujuk saja kepada buku yang sangat sederhana, buku fiqh Madrasah Aliyah kelas XII. Di sana disebutkan bahwa khilafah itu sistem pemerintahan Islam, hukumnya fardhu kifayah,” ungkapnya.

“Kalau saya kok lebih percaya kepada buku itu, karena buku itu buku resmi yang diterbitkan oleh Kementerian Agama diajarkan kepada seluruh siswa Madrasah Aliyah seluruh Indonesia,” lanjut Ismail.

Adapun dari sisi fakta, Ismail merekomendasikan disertasi Dr Kasori yang menceritakan hubungan antara khilafah Utsmani dengan Kesultanan Demak. Dalam disertasi tersebut, dikatakan bahwa hubungan tersebut sangat erat. Bukan hanya di bidang perdagangan, tapi juga politik dan militer.

Pemantik Diskusi yang Bagus

Di penghujung acara, Marsudi kembali menegaskan tidak ada masalah dengan menonton film JKDN.

“Ya namanya sejarah ya sejarah dibaca sebagai sejarah. Kalu nggak sesuai fakta, ya yang ditonton berarti sejarah yang nggak sesuai fakta, ya gitu aja,” pungkas Marsudi.

Adapun Nicko mengungkapkan rasa syukurnya karena JKDN bisa menjadi pemantik diskusi ilmiah tentang khilafah.

“Kita bersyukur film ini menjadi pemantik, terlepas dari pro kontra, diskusi yang lebih bernas,” pungkasnya.

Reporter: Azzam Diponegoro
Editor: Rusydan Abdul Hadi

 

 


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

News

Marak Perceraian di Tengah Pandemi, Kemenag: Kuatkan Ketahanan Keluarga

Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Kementerian Agama, Muharam Marzuki, mengimbau masyarakat untuk menguatkan ketahanan keluarga di tengah pandemi Covid-19.

Jum'at, 28/08/2020 15:11 0

Artikel

Puasa Muharram: Keutamaan, Dalil, & Tingkatan

Di antara puasa-puasa sunnat yaitu puasa Muharram.

Kamis, 27/08/2020 17:32 0

Myanmar

100 Ribu Lebih Anak Rohingya Lahir di Kamp-kamp Pengungsian

100 Ribu Lebih Anak Rohingya Lahir di Kamp-kamp Pengungsian

Kamis, 27/08/2020 14:49 0

Turki

Delapan WNI Ikut Andil Temukan Gas Alam Turki, Siapa Saja Mereka?

“Di Indonesia, mereka merasa diperlakukan sebagai warga negara kelas dua dan tidak [diakui] berdasarkan keahliannya, baik di perusahaan migas nasional maupun asing,” kata Radhi.

Kamis, 27/08/2020 14:26 1

Afghanistan

Banjir Bandang Terjang Afghanistan, 100 Orang Dilaporkan Tewas

nya 100 orang dan menghancurkan lebih dari 500 rumah di sebuah kota di utara ibukota Kabul.

Kamis, 27/08/2020 14:07 0

India

Kelompok HAM Protes Pembatasan Internet di Kashmir

Dalam sebuah laporan, Koalisi Masyarakat Sipil Jammu-Kashmir mengungkapkan kerugian dan konsekuensi dari pengepungan digital di Jammu-Kashmir dari Agustus 2019.

Rabu, 26/08/2020 11:41 0

Inggris

Kekecewaan Ozil ke Arsenal: Abaikan Uighur Namun Dukung Gerakan BLM

“Kita semua sama dan adalah hal yang baik bahwa orang-orang melawan ketidakadilan.”

Rabu, 26/08/2020 11:11 0

Timur Tengah

Dampak Pandemi, Kuwait Tak Sanggup Gaji PNS setelah November

Negara Teluk yang kaya minyak Kuwait tidak akan memiliki cukup dana untuk menutupi gaji pegawai negeri setelah November.

Selasa, 25/08/2020 15:08 0

Timur Tengah

Bikin Tur, Menlu AS Bangun Normalisasi Timteng dengan Israel

"Setelah bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Pompeo akan mengunjungi tokoh-tokoh senior di Sudan, Bahrain dan UEA pada akhir pekan ini," kata Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan pada hari Ahad.

Senin, 24/08/2020 11:50 0

Turki

Menyusul Hagia Sophia, Museum Kariye Diubah Jadi Masjid

Saat ini bangunan itu menjadi tempat mosaik Bizantium abad ke-14 dan lukisan dinding yang menampilkan adegan-adegan dari cerita-cerita Alkitab.

Senin, 24/08/2020 11:11 0

Close