... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Jejak ‘Dakwah Bahasa’ Para Ulama

Foto: Peta nusantara dalam aksara Jawi.

Oleh: Beggy Rizkiansyah, kolumnis Kiblatnet

KIBLAT.NET – Sambutan umat Islam atas dibukanya kembali Masjid Hagia Sofia di Turki memang memberi angin segar, bukan saja sebagai simbol historis kejayaan umat Islam di pintu gerbang dunia Kristendom saat itu, tetapi juga bagi sebagian orang, harapan akan kebangkitan umat Islam.

Bagi sebagian lain tentu harapan demikian patut dipandang secara kritis. Seringkali kita mencatat satu kemajuan atau pencapaian dalam bentuk bangunan fisik. Bangunan masjid yang megah dianggap sebagai sebuah pertanda kesuksesan dakwah. Maka berulang kali kita terjebak dalam euforia monumental semata.

Tak dapat dipungkiri, lebih mudah menilai yang terlihat ketimbang yang tidak terlihat. Kemajuan dakwah Islam di tanah air dinilai dari entah faktor kekuasaan (politik) atau bangunan fisik. Kita luput menghargai yang tak terlihat. Salah satunya adalah bahasa. Bahasa selain berfungsi dalam komunikasi, sesungguhnya adalah ekspresi dari identitas, budaya dan imajinasi serta ekspresi emosi.

Bahasa Arab pra-Islam sudah tinggi kedudukannya di antara bahasa-bahasa bangsa manusia dan dalam sejarah berbagai bangsa di kalangan Arab. Sejak kedatangan Islam dan wahyu yang turun dalam Al-Qur’an, membuat bahasa arab menjadi entitas baru. Makna yang dikandung bahasa Arab pra-Islam berbeda dari bahasa Arab yang diwahyukan. (A. Khudori Soleh: 2010)

Menurut A. Khudori Soleh, “Bahasa Arab Al-Qur’an menempati kedudukan yang luhur dalam pengucapan dan pemikiran manusia. Paham-paham yang terkandung dalam peristilahan dasarnya mencapai kebenaran yang mapan, yang tidak lagi mengalami perubahan, bahkan di tengah perubahan zaman.” (A. Khudori Soleh: 2010)

Perbendaharaan bahasa Arab juga bertambah sejak turunnya Al-Qur’an. Kata baru seperti “munafiq” yang pada masa pra-Islam tidak dikenal, setelah datangnya Islam menjadi kata yang memiliki definisi dan kata kunci tersendiri.

 Bahasa Arab Jendela Dunia

Berkembangnya Islam ke jazirah Arab dan akhirnya ke seluruh dunia membawa konsekuensi bagi bahasa masyarakat yang didatanginya. Di Mesir, bahasa Arab menjadi bahasa bagi masyarakat Mesir. Tetapi di Persia (sekarang Iran), aksara Arab menggantikan aksara Pahlavi. Kesusasteraan Persia dan bahasa Parsi sangat dipengaruhi oleh percakapan Arab.

Kenyataannya, Islam lewat bahasa Arab tidak hanya mampu membawa sebatas bahasa yang terkait agama saja, tetapi melintas luas menjadi bahasa yang hidup dalam berbagai aspek. Mengutip Tarek Makhlouf, “bahasa Arab menjadi bahasa klasik dan global-kosmopolitan dengan budaya bersemangat yang merentang lebih dari satu millennium.”

Sejak abad ke-9 bahasa Arab digunakan secara luas, didokumentasikan dan dipelajari dan tersebar lewat teknologi kertas yang diadopsi dari Cina. Menariknya, masih di abad yang sama, mayoritas yang menulis Arab, bukanlah etnis orang Arab. Bahkan sebagian bukan orang Islam. Orang Kristen Nestorian menerjemahkan filosofi Aristoteles, matematika Euclid, astronomi Ptolemy dan khazanah Yunani lainnya lewat bahasa arab.(Tarek Makhlouf: 2020)

Bahasa Arab menjadi melting pot bagi budaya dan bahasa dunia dan menyebar ke seluruh dunia. Pengelana dan penjelajah Arab membawa bahasa tersebut lewat naskah-naskah. Kekuasaan Muslim menyebar. Di dukung oleh para muslim sebagai mubaligh, pelaut atau pedagang. Bahasa Arab memang identik dengan Islam, tetapi orang dari kepercayaan yang berbeda, seperti Yahudi, Kristen bahkan ateis juga memakai bahasa Arab.

Di Eropa, bahasa Arab meninggalkan jejaknya di Spanyol, Portugal dan Sisilia lewat kekuasaan Muslim. Tetapi siapa sangka, di Malta, sebuah negara kecil di Eropa, di laut Mediterania diantara Italia dan Afrika Utara, bahasa Arab meninggalkan jejaknya yang begitu nyata.

Kekuasaan Islam tak berlangsung lama di sana. Bahkan pada tahun 1224, orang-orang Islam diusir dari Malta. Tetapi bahasa arab tak pernah benar-benar lenyap. Malti, bahasa di Malta modern saat ini dianggap campuran dari bahasa semitik, Romawi dan elemen Inggris. Sementara lainnya menyebut secara sederhana dialek Arab. Dalam sebuah kamus bahasa Malti oleh Joseph Aquilina, 43% kata berakar dari bahasa Arab. Contoh sederhana adalah kata Tuhan dalam bahasa Malti adalah “Alla.” (Louis Werner: 2004)

BACA JUGA  Memburu Kader "Radikal", Surat Terbuka untuk Menag

Di tempat seperti Malta, mungkin yang tersisa hanya bahasa. Tetapi di nusantara, Islam hadir lebih dari sekedar bahasa dan kekuasaan. Di nusantara, bahasa dan Islam menjadi sangat terkait erat. Bahkan tanpa kita sadari hingga kini. Mari kita ambil contoh mudah. Jika ada orang menolak hal berbau ‘arab’ sebagai cerminan Islamisasi di Indonesia, maka hal itu adalah mustahil. Enam dari tujuh nama hari di Indonesia berasal dari bahasa Arab. Kecuali Minggu, maka Senin sampai Sabtu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab.

Contoh sederhana tadi hanyalah salah satu bukti kesuksesan besar para ulama adalah dalam bidang bahasa dan kesusateraan. Di nusantara, para dai melakukan penyebaran agama Islam yang disertai perubahan cara pandang masyarakat nusantara seperti yang disebutkan Al-Attas. Di sini bahasa memainkan peran penting. Pengaruh Islamisasi bahasa bukan (sekedar) penggantian bahasa lokal menjadi istilah bahasa Arab.

Islamisasi bahasa di nusantara

Hal ini tak lepas dari Islamisasi para ulama yang hadir ke nusantara. Menurut Syed Naquib al-Attas “Islamisasi adalah pembebasan pertama manusia dari magis, mitologis, animistis, tradisi budaya-nasional yang berlawanan dengan Islam dan selanjutnya kendali sekular atas bahasa dan berpikirnya. Manusia yang berIslam adalah orang yang berpikir dan bahasanya tidak lagi dikendalikan oleh magis, mitologi, animism, dan tradisi budaya-nasionalnya yang berlawanan dengan Islam, dan sekularisme.” (A. Khudori Soleh: 2010)

Salah satu islamisasi yang dilakukan para ulama adalah Islamisasi bahasa. Islamisasi bahasa mempersyaratkan adanya perubahan cara pandang dan pemahaman atas kandungan makna sebuah bahasa, istilah atau kata-kata berdasarkan atas worldview yang digali dari keyakinan dan nilai-nilai ajaran Islam. (A. Khudori Soleh: 2010)

Di nusantara, bahasa melayu yang awalnya tak bisa dilepaskan dari Hindu-Budha mengalami beberapa tahap proses Islamisasi, dari menerjemahkan bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu lewat tulisan dan kosa kata hingga lewat dunia pendidikan. (Maburoh dan Rosyidatul Khoiriyah: 2019)

Menurut Kamus Al-Hamidi ada sekitar dua ribu kosa kata dalam bahasa Melayu-Indonesia yang berasal dari bahasa Arab. Begitu pula menurut Kamus Istilah Islamiyah yang disusun oleh Muhammad Sanusi ibn Haji Mahmood. .(Azyumardi Azra: 1999)

Zainal Abidin bin Ahmad (Za’ba), seorang sastrawan Malaysia, pada tahun 1950-an, menyebutkan kosa kata Melayu yang berasal dari Bahasa Arab dipakai dalam kata-kata yang mengandung makna relijius, kata-kata yang bernilai akademik, ekspresi pikiran dan perasaan, kata-kata mengenai hukum dan ketertiban, terkait dengan kebiasaan dan kata-kata yang terkait pengobatan. (Maburoh dan Rosyidatul Khoiriyah: 2019)

Kehadiran Islam membawa pengetahuan baru, rasionalisme, dan prinsip masyarakat yang berdasarkan keadilan. Membebaskan masyarakat nusantara dari tradisi lama yang terikat pada magis, mitologi dan lainnya. Hal ini didukung oleh hubungan antara ulama dengan sultan di berbagai wilayah nusantara.

Sejak awal abad ke-15 bahkan para ulama mulai menulis buku-buku agama bagi masyarakat muslim nusantara. Di abad ke-17 mulai ditulis karya-karya menggunakan bahasa Melayu. Mulai dari fiqih ibadah, muamalah, konstitusi, tasawuf, kalam, filsafat, akhlak, tata bahasa, retorika, astronomi, ekonomi hingga tafsir Qur’an. Tafsir Qur’an Turjumanul Mustafid misalnya ditulis oleh ulama Aceh, Abdurrauf as-Sinkili al-Jawi (1615-1693) yang memakai bahasa melayu.

Hubungan Sultan dan Ulama ini berpengaruh pula terhadap pemakaian istilah-istilah bahasa Arab dalam dunia politik. Istilah seperti “daulah”, “sultan”, “malik”, “khalifah”, “aman”, “siasat”, “hukum”, “zalim”, “rakyat” dan lainnya. Dan seperti yang disebutkan sebelumnya, Islamisasi bahasa bukan sekedar mengambil istilah bahasa Arab. Tetapi juga perubahan cara pandang dan pemahaman atas kandungan makna. (Azyumardi Azra: 1999)

BACA JUGA  Kiblatorial: Kisruh Tentara Urus Dakwah

Salah satu contoh adalah kata  “rakyat” (ra’yat) yang secara harfiah berarti “mereka yang digembala” atau “yang dituntun (oleh penguasa).” Kata ini berlawanan dengan kata “daulat” yang dimaknai kekuasaan yang tinggi, yang dijaga oleh kekuasaan gaib (Tuhan), dan menjadi fondasi legitimasi ideologi.

Kata “daulat” seiring dengan kata “durhaka.” Kata “durhaka” yang menariknya, bukan berasal dari bahasa Arab, Turki atau Persia, tetapi merupakan bahasa lokal. Meski demikian kata “durhaka” mengalami perubahan makna yang diisi konsep dan nilai Islami. Durhaka kepada Sultan berarti dosa besar yang akan membawa kepada kerusakan. Namun di lain sisi, Sultan pun tak sekedar dijadikan berkuasa penuh, tetapi ia juga diikat oleh etika politik lainnya, seperti kata-kata “adil”, “amanah” dan “amar ma’ruf nahyi munkar.” (Azyumardi Azra: 1999)

Satu hal tonggak besar pengaruh ulama di nusantara adalah kemampuan para ulama untuk memasyarakatkan aksara Jawi di nusantara yang mampu beradaptasi dalam sejumlah bahas lokal. Aksara Jawi yang mengadaptasi huruf Arab ini digunakan oleh berbagai bahasa lokal seperti Jawa, Sunda, Aceh dan terutama Melayu.

Tulisan Jawi ini memiliki huruf sebanyak 36 aksara (huruf), 30 diantaranya berasal dari aksara arab (hijaiyah) dan sisanya 6 huruf adalah tambahan tersendiri yang tercipta sesuai bunyi dan ejaan bahasa Melayi diantaranya; fa, nga, ca, nya, va dan ga, yang semuanya tidak terdapat dalam dialek bahasa Arab. Di sinilah kita lihat kreatifitas para ulama yang mampu mengadaptasikan aksara arab sebagai sumber ilmu pengetahuan disediakan bagi masyarakat nusantara. (Hermansyah: 2014)

Manuskrip Hikayat Raja-raja Pasai yang ditulis tahun 1360 M.
(Sumber: Hermankhan)

Aksara Jawi ini mampu menggantikan aksara sebelumnya seperti kawi di Jawa, atau runcing di Sumatera. Salah satu kesultanan sangat awal yang membantu penyebaran aksara Jawi ini secara meluas di nusantara adalah Kesultanan Pasai.

Hermansyah dalam Kesultanan Pasai Pencetus Aksara Jawi (2014) Kesultanan Pasai adalah kesultanan yang sangat maju, kosmopolitan dan menjadi pusat keilmuan di nusantara. Catatan penjelajah Ibnu Battutah menyebutkan bahwa ulama Pasai adalah Syarif Amir Sayyid Asy-Syirazi dan Tajuddin al-Ashhafani (Hermansyah: 2014). Dua nama yang jika kita melihat asalnya kemungkinan berasal dari Persia.

Salah satu bukti penerjemahan bahasa Arab ke bahasa Jawi Pasai adalah naskah yang ditulis oleh Hamzah Fansuri dalam kitab tasawuf Zinal al-Muwahiddin. Karya ini disertai matan teks bahasa Arab dan ditafsirkan dalam bahasa Jawi untuk memudahkan pemahamannya. (Hermansyah: 2014)  Dalam karya-karya Hamzah Fansuri setidaknya ada sekitar dua ribu kata yang berasal dari bahasa Arab dan diserap dalam bahasa Melayu. (Maburoh dan Rosyidatul Khoiriyah: 2019)

Ada pula karya ulama besar Abdurrauf as-Sinkili, yang selain menulis tafsir Qur’an berbahasa Melayu pertama di abad ke-17, a juga menulis kitab hukum dan muamalah yang berjudul Mir’at Thullab fi Tashil Ma’rifat Ahkam as-Syar’iyyah lil Maliki al Wahhab yang ditulis pada tahun 1662 (Hermansyah: 2014).

Aksara Jawi akhirnya meredup setelah kolonialisme mencengkeram tanah air. Latinisasi aksara lewat politk kebudayaan kolonial menghilangkan peran aksara Jawi secara perlahan tapi pasti. Kini, aksara Jawi memang sudah tidak popular lagi, namun jejak dakwah para ulama lewat bahasa tidak bisa kita nafikan hingga detik ini.

Bahasa Indonesia menyerap begitu banyak bahasa Arab. Buah tangan kreatifitas para ulama dalam berdakwah. Sesuatu yang mungkin tidak terlihat, tetapi begitu sulit dicabut dari masyarakat kita di Indonesia. Lantas bagaimana estafet dakwah lewat bahasa yang  diemban para ulama di masa kini?

 

 


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Lebanon

Serangan Israel hingga Bom Atom, Spekulasi Muncul dari Ledakan Lebanon

Banyak yang tidak yakin dengan narasi resmi pemerintah, lalu menawarkan penjelasan alternatif. Middle East Eye melihat empat teori paling umum yang telah muncul tentangnya.

Senin, 10/08/2020 12:40 0

Afghanistan

Pemerintah Afghan Setujui Pembebasan 400 Tahanan Taliban

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menyetujui pembebasan 400 tahanan Taliban setelah majelis besar Afghanistan, yang dikenal sebagai Loya Jirga, mengeluarkan resolusi untuk keputusan tersebut.

Senin, 10/08/2020 11:56 0

Lebanon

Ledakan Memicu Seruan Revolusi di Lebanon

Para pengunjuk rasa telah meminta pemerintah untuk turun karena lalai sehingga menyebabkan ledakan hari Selasa. Kemarahan memuncak menjadi adegan kekerasan di Beirut tengah pada hari Sabtu.

Ahad, 09/08/2020 19:58 0

Lebanon

Diduga Sebabkan Ledakan Dahsyat Lebanon, Apa Itu Amonium Nitrat?

Amonium nitrat tampaknya menjadi penyebab ledakan besar yang telah menyebabkan sebagian besar kota Beirut hancur dan sedikitnya 100 orang tewas.

Sabtu, 08/08/2020 21:16 0

Indonesia

Uji Coba Vaksin Covid-19, Erick Thohir: Sebagai Menteri Agak Belakangan Lah

Erick Thohir menolak menjadi relawan dalam uji coba vaksin Covid-19.

Sabtu, 08/08/2020 18:45 0

Indonesia

Zainut Tauhid: Tangangan MUI di Era Disrupsi Tak Ringan

Waketum MUI, Zainit Tauhid Sa'adi mengatakan bahwa tantangan MUI ke depan tidaklah ringan.

Sabtu, 08/08/2020 09:40 0

Indonesia

DSKS Nilai Logo HUT RI ke 75 Mirip Salib

Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) menemukan ada logo kemerdekaan yang terkesan bergambar salib terpasang di Solo.

Sabtu, 08/08/2020 09:25 1

Indonesia

Haedar Nasir: Kuantitas Umat Islam Harus Dibarengi Kualitas

Prof. Haedar Nashir, M.Si., berharap agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan pandangan Islam Wasathiyyah dapat menjadi perekat umat dan bangsa.

Sabtu, 08/08/2020 08:23 0

Amerika

Survei: Dua Pertiga Orang Amerika Dukung Penarikan Pasukan dari Irak dan Afghanistan

Sekitar tiga perempat orang dewasa AS mendukung pemulangan pasukan AS dari Irak dan Afghanistan dalam jajak pendapat baru yang dilakukan oleh libertarian Charles Koch Institute.

Sabtu, 08/08/2020 06:38 0

Indonesia

Ini Foto Ayah Habib Rizieq yang Sebenarnya

Foto yang disebut ayah Habib Rizieq perpose dengan Soekarno dan Jenderal Sudirman berseliweran di media sosial

Jum'at, 07/08/2020 23:17 0

Close