... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Betulkah Vaksin Senjata Barat Habisi Kaum Muslimin?

Foto: Vaksin (Ilustrasi)

Oleh : Imad Siddiq, Pengamat Isu Kesehatan

KIBLAT.NET – Dewasa ini metode vaksin—pengobatan preventif—dapat dibilang menjadi leading program kesehatan dunia. Namun, disisi lain polemik vaksin semakin tidak karuan dan tidak berdasar ketika ada sebagian orang yang mencoba untuk mensangkut-pautkan metode vaksin dengan proses dehumanisasi kaum muslim—genosida terselubung–Mereka beralasan bahwa vaksin disinyalir secara kuat didanai oleh para kapitalis global yang ‘berselingkuh’ dengan WHO–badan kesehatan dunia–Mereka beranggapan ada maksud terselubung dari perkembangan vaksinasi di dunia.

Salah satunya dikarenakan Barat tidak menghendaki perkembangan jumlah kaum muslim di Dunia. Sentimen keagaaman yang secara artifisial dibentuk akhirnya dapat dikatakan cukup sukses untuk ‘mempengaruhi’ sebagian kaum muslim. Sebelum kita mengadili hal tersebut baik nya kita mendalami sejarah perkembangan metode vaksin di Dunia.

Sejarah perkembangan vaksin memang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan imunologi. Ibarat koin, keduanya seperti dua sisi mata uang. Memang sejarahnya saling berkaitan. Periode ini diawali ketika mewabahnya penyakit Smallpox–cacar–. Menurut CDC (2016) dalam artikelnya “History of Smallpox”, penyakit ini tidak diketahui asalnya. Diperkirakan berasal dari kekaisaran Mesir sekitar abad ke-3 SM, hal ini berdasarkan adanya ruam menyerupai cacar pada tiga mumi disana. Sumber lain menyebutkan secara tertulis penyakit yang menyerupai ini muncul di China pada abad ke-4 Masehi, kemudian di India pada abad ke-7 dan Asia Kecil pada abad ke-10.

Persebarannya menurut CDC (2016) pula dikabarkan pada abad ke-6 meningkat di China dan Korea yang kemudian tersebar hingga Jepang; Abad ke-7 akibat ekspansi Arab–Masa Ke-Khilafah-an–penyakit cacar ini mulai menyebar ke Afrika, Spanyol, dan Portugal; Abad ke-11 persebaran penyakit ini dibawa oleh para ksatria Perang Salib; Abad ke-15, Portugis ‘membawa’ penyakit ini ke Africa Barat; Abad ke-16, Kolonialisasi Eropa dan para budak Afrika menyebarkan ke Kepulauan Karibia, dan Selatan Amerika; Abad ke-17 masih oleh Kolonialisasi Eropa membawa penyakit ini ke dataran utara Amerika, dan pada Abad ke-18, ekspansi Inggris di dunia membawa penyakit ini ke daratan Australia.

Penyakit ini akhirnya mewabah di Dunia dan membentuk sejarah manusia. Cacar telah menjadi endemik di Dunia sekaligus menjadi ‘momok’ yang menakutkan kala itu. Sangatlah menular. Penularannya yang relative mudah menambah kengerian itu. Penularan lewat cairan cacar menyebabkan cepat menginfeksi orang-orang yang dekat dan memiliki kontak dengan orang yang terinfeksi.

Menurut Hong (2014) dalam artikelnya, “An Historical Examination of Smallpox Vaccinations: Past and Present Immunization Challenges” dikabarkan bahwa cacar telah menelan jutaan nyawa selama lebih dari 3000 tahun. Ciri khas yang muncul pada cacar adalah adanya ruam yang kemudian berkembang menjadi lecet yang melunak yang akhirnya menyebabkan kerusakan parah, hingga dapat menyebabkan kebutaan dan kematian.

Kejadian ini semakin parah. Menurut Barguet (1997) dalam artikelnya “The Triumph Over The Most Terrible of The Minister of Death” yang ditulis dalam Jurnal Ann Internal Medicine, dikabarkan pada abad ke-18 di daratan Eropa, 400.000 orang meninggal setiap tahun karena wabah ini, serta hanya sepertiganya yang selamat mengalami kebutaan. Pada akhir 1800an, kasus yang menjangkiti bayi lebih mengerikan, di Kota London hampir 80% meninggal bahkan di Kota Berlin, 98% bayi yang terkenca cacar meninggal.

Bila membaca sejarah perkembangan vaksin, secara umum kita pasti mengenal Edward Jenner (1749-1823), seorang ahli bedah angkatan darat Inggris yang sebagian karirinya dihabiskan sebagai dokter–juga apoteker– di Negaranya. Vaksinasi yang dikemukakan oleh Edward Jenner. Yang kemudian penelitian ini diadopsi oleh Pasteur untuk imunisasi.

BACA JUGA  Memburu Kader "Radikal", Surat Terbuka untuk Menag

Menurut NHS (2016) dalam artikelnya “The History of Vaccination” pada tahun 1796 Edward Jenner menemukan vaksin. Menurut Plotkin (2014) dalam artikelnya, “History of Vaccination” di Jurnal Proc Natl Acad Sci USA disebutkan bahwa gagasan tentang rendaman infeksi virulen di dunia. Variasi dengan menggunakan analog sejumlah kecil racun untuk membuat kebal terhadap efek toksik. Penelitian nya menggunakan virus poxvirus untuk mencegah cacar sebagai agen virulen untuk membentuk kekebalan pada manusia.

Kebanyakan dari kita mengetahui nya seperti itu. Namun, ternyata ada ‘gap’ sejarah yang tidak banyak diketahui masyarakat awam. Terutama pada Masa Medieval. Hong (2014) dalam artikelnya, “An Historical Examination of Smallpox Vaccinations: Past and Present Immunization Challenges” menuturkan bahwa penelitian yang paling menonjol yang dilakukan oleh Rhazes (Abu Bakar Muhammad Bin Zakariya Ar-Razi, 865-925 M) yang memberikan dsekripsi medis pertama terkait penyakit smallpox–cacar–ini.

Ar-Razi mengatakan bahwa penyakit ini menular dari orang ke orang dan menurutnya orang yang selamat dari cacar tidak mengalami penyakit yang sama untuk kedua kalinya. Karyanya kemudian diterjemahkan ke bahasa Latin dan Yunani dan akhirnya mempegaruhi dokter Eropa sampai pada masa Renaisans. Dan menurut Moore J (1815) dalam bukunya “The History of The Smallpox”, Ar-Razi adalah adalah peletak dasar teori acquired immunity–imunitas buatan.

Teori Ar-Razi itu kemudian mulai dikembangkan oleh para Ilmuan islam. Proses yang dilakukan oleh ilmuan kekhilafahan masih berbentuk metode inokulasi, yang prosesnya mengacu pada infeksi virus cacar pada subkutan diambil dan diberikan ke individu lain. Namun, seperti yang sudah ditemukan oleh Ar-Razi terkait peletak dasar teori acquired immunity, inokulasi memang memiliki resiko. Ada kekhawatiran bahwa penerima dapat mengembangkan cacar yang ada. Metode inokulasi ini kemudian disebut dengan metode variolasi.

Pada abad ke-18 pula dengan datangnya pada wisatawan dari Istanbul (Pusat Kekhilafahan) mulai diperkenalkan pertama kali metode variolasi. Tahun 1714, Royal Society of London–perkumpulan ilmuan tertua di daratan Eropa–menerima sepucuk surat dari Emanuel Timoni yang menggambarkan teknik variolasi yang ia saksikan di Istanbul. Surat serupa dikirim oleh Giacomo Pilarino pada tahun 1716. Namun, laporan terkait praktek inokulasi subkutan ini sama sekali tidak mengubah cara pandang dokter Inggris konservatif saat itu.

Barulah hal ini dilakukan di daratan eropa sekitar tahun 1721-an. Terungkap pada sebuah surat tulisan Lady Mary Mortley Montague (1689-1762) dari The Levant, saat Kedutaan Besar kepada Konstatinopel, menyatakan bahwa praktik inokulasi di Turki (Kekhilafahan Turki Utsmani) dengan cacar itu sendiri yang kemudian akhirnya dibawa oleh Lady Mary Wortley, seorang Istri Duta Besar Inggris untuk Port Sublime. Dimana dia meminta anaknya untuk diinokulaiskan sendiri dan disamping itu Keluarga Kerajaan Hanoverian memastikan bahwa hal itu juga dilakukan pada dua anak Putri Wales.

Setelah Lady Mary memperkenalkan hal tersebut, praktik ini menyebar ke beberapa anggota kerajaan. Charles Maitland kemudian diberi lisensi oleh kerajaan untuk melakukan praktek ini terhadap enam tahanan di Newgate pada tanggal 9 Agustus 1721. Beberapa dokter pengadilan anggota Royal Society dan Anggota College of Physicians mengamati proses tersebut dan akhirnya semua tahanan selama dalam percobaan dan mereka yang terkena cacar terbukti kebal.

BACA JUGA  Kontroversi Sertifikasi Da’i

Pada bulan-bulan berikutnya dicobakan kembali ke pada anak yatim-piatu, dan berujung sukses. Akhirnya pada tanggal 17 April 1722, Maitland berhasil merawat dua putri Wales. Dan tidak mengherankan prosedur ini terbukti diterima secara umum dan sukses.

Kemudian metode ini mulai diperkenalkan ke Amerika oleh seorang dokter Inggris William Douglass M.D (1691-1752) mulai mencoba secara pribadi metode inokulasi tersebut di Inggris dan Amerika (Buku yang berjudul “Edward Jenner and The Discovery of vaccination” yang terdapat di Perpusatakaan Thomas Cooper, University of South Carolina).

Barulah setelah itu, metode ini kemudian dipelajari lebih lanjut oleh Edward Jenner M.D., LL.D., F.R.S. Jenner tertarik dengan hubungan antara penyakit cacar, cacar air, dan swinepox. Pada tahun 1789 ia bereksperimen dengan menginokulasikan terhadap anaknya sendiri, kemudian pada usia satu setengah tahun kembali diinokulasikan dengan cacar air, yang selanjutnya kembali diinokulasikan dengan inokulasi cacar air konvensional.

Penyelidikan Jenner pertama kali pada tahun 1789 tersebut melihat kekebalan yang diberikan oleh cacar air, dan bagaimana secara artifisial hal itu dapat dilakukan. Setelah itu, kemudian Jenner melakukan inokulasi kembali kepada pasiennya dengan virus cacar hidup untuk melihat apakah cacar air tersebut bekerja. Dan anak pertama yang akhirnya terbukti sehat pada beberapa pengujian Jenner adalah James Phipps dari Dairymaid Sarah Nelmes pada tanggal 14 Mei 1796. Inilah yang kemudian ini menempatkan Janner oleh ‘beberapa kalangan’ disebut sebagai penemu pertama kali metode vaksinasi.

Melihat sejarah singkat diatas kiranya kita bisa mendapati alur yang cukup jelas. Ternyata, apa yang sudah selama ini disampaikan, bahwa Edward Jenner adalah penemu metode vaksin pertama mirip dengan apa yang pertama kali dikenalkan oleh Para Ilmuan Islam di Kekhilafahan saat itu, dengan metode inokulasi nya. Namun inilah realitas saat ini, nama Jenner lebih popular ditelinga kita dibandingkan Para Ilmuan Islam, terkhusus Ar-Razi yang oleh para ilmuan Barat disebut sebagai penemu pertama teori acquired immunity yang mana keilmuan imunologi pun yang akhirnya muncul dari sana.

Hal ini tentu cukup mengherankan bagi orang awam. Bagaimana bisa, penemuan besar dunia ini–vaksin–ternyata dilakukan oleh seorang Muslim. Namun, bagi muslim yang paham akan sejarah peradaban Islam ini adalah suatu yang wajar dan sangat mungkin. Dimana Islam tidak pernah membedakan antara ilmu pengetahuan dengan ilmu agama. Keduanya sangat didorong untuk berkembang. Maka, tak pelak hal ini menjadikan Islam sebagai center of knowledge di Dunia. Maka, teruntuk para kaum muslimin yang masih berpikiran ada konsiprasi besar dibalik metode vaksin ini, saya sarankan anda untuk lebih bersikap objektif dan kritis. Saran saya, bila memang fakta saat ini ada beberapa yang tidak pas, lebih baik diluruskan dan memberi masukan yang konstruktif, bukan malah menegasikan metode vaksin yang sudah dibangun oleh Para Ilmuan Islam.

Sumber:

Barguet, 1997. The Triumph Over The Most Terrible of The Minister of Death. Jurnal Ann Internal Medicine.

CDC, 2016. History of Smallpox.

Hong, 2014. An Historical Examination of Smallpox Vaccinations: Past and Present Immunization Challenges.

Moore J., 1815. The History of The Smallpox.

NHS, 2016. The History of Vaccination.

Plotkin, 2014. History of Vaccination. Jurnal Proc Natl Acad Sci USA.

Foto: https://www(dot)lmh(dot)org/news/2019-news/back-to-school-means-its-time-for-physicals-and-vaccinations/


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Lebanon

Diduga Sebabkan Ledakan Dahsyat Lebanon, Apa Itu Amonium Nitrat?

Amonium nitrat tampaknya menjadi penyebab ledakan besar yang telah menyebabkan sebagian besar kota Beirut hancur dan sedikitnya 100 orang tewas.

Sabtu, 08/08/2020 21:16 0

Indonesia

Uji Coba Vaksin Covid-19, Erick Thohir: Sebagai Menteri Agak Belakangan Lah

Erick Thohir menolak menjadi relawan dalam uji coba vaksin Covid-19.

Sabtu, 08/08/2020 18:45 0

Indonesia

Zainut Tauhid: Tangangan MUI di Era Disrupsi Tak Ringan

Waketum MUI, Zainit Tauhid Sa'adi mengatakan bahwa tantangan MUI ke depan tidaklah ringan.

Sabtu, 08/08/2020 09:40 0

Indonesia

DSKS Nilai Logo HUT RI ke 75 Mirip Salib

Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) menemukan ada logo kemerdekaan yang terkesan bergambar salib terpasang di Solo.

Sabtu, 08/08/2020 09:25 1

Indonesia

Haedar Nasir: Kuantitas Umat Islam Harus Dibarengi Kualitas

Prof. Haedar Nashir, M.Si., berharap agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan pandangan Islam Wasathiyyah dapat menjadi perekat umat dan bangsa.

Sabtu, 08/08/2020 08:23 0

Amerika

Survei: Dua Pertiga Orang Amerika Dukung Penarikan Pasukan dari Irak dan Afghanistan

Sekitar tiga perempat orang dewasa AS mendukung pemulangan pasukan AS dari Irak dan Afghanistan dalam jajak pendapat baru yang dilakukan oleh libertarian Charles Koch Institute.

Sabtu, 08/08/2020 06:38 0

Indonesia

Ini Foto Ayah Habib Rizieq yang Sebenarnya

Foto yang disebut ayah Habib Rizieq perpose dengan Soekarno dan Jenderal Sudirman berseliweran di media sosial

Jum'at, 07/08/2020 23:17 0

Indonesia

Fadli Zon Minta Narasi Optimistis Pemerintah Soal Ekonomi Diwaspadai

Politisi Partai Gerindra, Fadli Zon menilai pemerintah terbukti lamban dan salah resep dalam mengantisipasi terjadinya krisis, baik terkait pandemi maupun eksesnya bagi perekonomian nasional.

Jum'at, 07/08/2020 17:49 0

Indonesia

Fahri Hamzah Optimis Ekonomi Domestik Penyelamat di Tengah Ancaman Resesi

Fahri Hamzah melihat ada optimisme lain di masa pandemi virus corona yang tengah melanda dunia, termasuk Indonesia ini

Jum'at, 07/08/2020 13:11 0

Indonesia

Sanksi Bagi Pelanggar Protokol Kesehatan Sudah Terlambat

Netty Prasetiyani Aher, Wakil Ketua FPKS DPR RI, jika pemerintah hanya berwacana dan tidak memberikan keteladanan, jangan salahkan jika terjadi pembangkangan sosial

Kamis, 06/08/2020 20:10 0

Close