Al-Qur’an: Keajaiban yang Abadi

Oleh: Annisa Pratiwi

KIBLAT.NET – Al-Qur’an merupakan sebuah keajaiban milik Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam yang Allah turunkan kepadanya secara terpisah berdasarkan kejadian tertentu. Hikmahnya adalah untuk memperteguh hati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan hati para muslimin, serta mempermudah bagi mereka untuk menghafalnya.

Allah ta’laa berfirman:

“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) sekaligus?’ Demikianlah agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya (Al-Qur’an) dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar).” (Al Furqan: 32)

Rasululllah shalallahu ‘alaihi wasallam memiliki keajaiban yang lain termasuk, terbelahnya bulan dan keluarnya air di antara jari-jarinya. Sama halnya seperti rasul-rasul sebelumnya yang memiliki keajaiban seperti tongkat Nabi Musa ‘alaihissalaam; unta nabi Sholih ‘alaihissalaam. Namun, semua keajaiban-keajaiban itu telah pergi bersama dengan kepergian mereka, yang tersisa hanyalah rangkaian cerita untuk sebuah pelajaran bagi umat selanjutnya.

Adapun keajaiban Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam merupakan keajaiban yang abadi yakni Al-Qur’an Al-Karim yang tetap terjaga hingga hari akhir.

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (Al Hijr: 9)

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur’an ini, mereka tidak akan mendapat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.” (Al Isra: 88)

Al-Qur’an memiliki keajaiban dalam gaya, kata-kata dan artinya serta masih banyak hal yang menunjukkan keajaiban Al-Qur’an. Saat ilmu pengetahuan semakin berkembang, lalu bermunculan gambaran-gambaran baru yang mendukung keajaiban ini. Dan di antara gambaran-gambaran terpenting dalam keajaiban ini adalah bahwa Al-Qur’an datang dengan berita dan kisah-kisah umat terdahulu, mencakup banyak sains dan pengetahuan yang belum diketahui orang sebelumnya, Al-Qur’an juga datang mencakup kepercayaan (akidah), ibadah dan kehidupan sosial, politik serta ekonomi masyarakat.

“… dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu…” (An Nahl: 89)

Turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan perantara malaikat Jibril ‘alahissalaam.

“Yang dibawa turun oleh Ar Ruh (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy Syu’ara: 193-195)

Al-Qur’an terbagi menjadi dua kelompok yakni Al Makiy dan Al Madaniy. Al-Qur’an Al Makiy adalah surat-surat dalam Al-Qur’an yang diturunkan sebelum hijrah ke Madinah, meskipun diturunkannya di luar Mekkah. Sementara itu Al-Qur’an Al Madaniy ialah kumpulan surat-surat Al-Qur’an yang diturunkan setelah hijrah meskipun turunnya di dalam kota Mekkah.

Kebanyakan dari surat-surat Al Makiy adalah kumpulan surat pendek dalam Al-Qur’an supaya mudah untuk dihafal. Al-Qur’an Al Makiy juga mencakup topik seperti tauhid (keesaan Allah); seruan dakwah kepada Islam; hari kiamat; kisah-kisah para nabi dan rasul terdahulu ‘alaihimussalam dan lainnya yang jumlahnya setara dengan dua pertiga Al-Qur’an.

Sedangkan Al-Qur’an Al Madaniy merupakan kumpulan surat-surat dan ayat-ayat yang panjang serta mencakup topik-topik yang baru seperti, berbagai kewajiban; batasan-batasan (hudûd); hak-hak dan perjuangan (jihad); dan lain sebagainya.

Butuh dua puluh tiga tahun lamanya Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur, dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memiliki kuttab (para penulis) yang menuliskan Al-Qur’an untuknya. Setiap kali sebuah ayat atau beberapa ayat diturunkan, beliau memerintahkan mereka untuk menulisnya dan mengatakan kepada mereka, “Letakkan ayat ini atau ayat-ayat ini dalam surat ini dan itu.”

Pada saat itu Al-Qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf. Mushaf Al-Qur’an pertama kali disusun pada masa khalifah pertama Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu semasa hidupnya. Kemudian beralih ke khalifah Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu hingga ketika beliau wafat, mushaf itu dijaga oleh putrinya Hafshah radhiyallahu ‘anha lalu menyerahkannya kepada Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu yang memerintahkan agar Al-Qur’an disusun/digabungkan dalam satu mushaf, khawatir akan adanya perbedaan yang masuk ke dalamnya dari tangan banyak orang mengenai Al-Qur’an, setelah perselisihan dan fitnah yang hampir terjadi antara umat Islam dalam masa penaklukan/peperangan.

Beliau pun memerintahkan agar para katib menulis salinannya dan mengirim satu mushaf ke masing-masing negara dan menyimpan satu salinan darinya. Mushaf itu adalah yang dikenal dengan Al-Mushaf Al-Imam. Wallahu a’laam

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat