... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

RUU HIP: Tawar-Menawar Harga Pancasila

Foto: RUU HIP (ilustrasi)

Oleh: Ray Adi Basri

Anda pernah pergi ke toko, bukan supermarket yang bandrol harganya tak bisa ditawar, lalu menjumpai barang yang dibutuhkan tapi penjual mematok harga yang tak masuk akal? Pasti anda akan menawar. Sementara si penjual pasti akan berusaha mempertahankan harganya.

Bandrol tinggi sering dipasang untuk mengantisipasi penawaran pembeli. Harga dilambungkan, pembeli menawar. Penjual menurunkan sedikit, ketemulah harga kompromi. Penjual tetap untung, pembeli merasa untung juga.

Misalnya saja, Anda sedang mencari remote kontrol televisi. Harganya dipatok 50.000 rupiah. Padahal normalnya 25 ribuan dijual Mang Ujang,  tukang remote keliling.  Tetapi kemungkinan besar Anda tidak berani menawar di bawah 25 ribu, malu.

Mungkin penawaran Anda naik jadi 30 ribu. Si pemilik toko  nangkring, minta 50 ribu. Anda pun bersiap pergi. Saat itu penjuat, berlagak murah hati menurunkan harga, “Ya sudah 40 ribu situ, itu sudah murah banget.”

Secara psikologis Anda cenderung akan membayar 40 ribu, merasa sudah sukses menawar dari 50 ribu jadi 40 ribu. Bahkan seandainya dapat harga 30 ribuan pun Anda masih kena palak, membayar lima ribu lebih mahal daripada harga pasaran.

Si penjual selalu untung, dijual 25 ribu dia sudah untung. Tidak ditawar, dijual 50 ribu dia untung besar-besaran. Sementara dengan harga cincay 30 ribu, untung dia lebih besar, plus pembeli merasa sukses menawar. Itulah psikologi permainan bandrol harga.

Kurang lebih itulah fenomena yang tengah terjadi di negeri ini. Ribut-ribut umat Islam soal RUU Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) mirip dengan ramainya tawar-menawar harga remote di toko tadi. Pemilik toko, oligarki kekuasaan yang sedang memiliki negeri, menawarkan Pancasila dengan pemahaman yang menyimpang drastis.

Konon konsepsi Pancasila ala RUU HIP membuka peluang komunisme hidup kembali. Harganya tentu sangat mahal, menguras dompet umat Islam yang sudah jebol sana sini. Maka umat menawar dengan mempertahankan Pancasila seperti sekarang.

Padahal dengan konsepsi Pancasila yang sekarang saja, umat Islam sudah babak belur. Boro-boro kembali pada Piagam Jakarta yang mengesahkan berlakunya syariat Islam. Bendera bertuliskan kalimat tauhid saja dilabeli radikal. Apalagi cita-cita Daulah atau Khilafah Islam, jauh banget.

Hampir-hampir cadar dilarang dipakai di tempat umum. Alhamdulillah Allah mendatangkan Wabah Covid-19 yang memaksa semua orang malah harus bercadar masker di tempat umum. Cadar pun aman, bahkan dianggap kebaikan karena lebih melindungi daripada masker.

Maka umat pun menawar bandrol harga gila-gilaan yang ditawarkan RUU HIP. Aksi menentang RUU HIP digelar di penjuru negeri. Lihat saja nanti, dan sudah mulai kelihatan, rejim akan menurunkan harga. Ganti RUU dengan RUU lain, lalu umat Islam bersorak sorai merasa menang menawar.

Padahal andaipun RUU HIP dicabut, harga Pancasila hari ini masih jauh di atas pasaran. Bukankah standar ideologis yang disepakati umat Islam tanggal 22 Juni 1945, sebelum dikibuli oleh kelompok sekuler, adalah Piagam Jakarta?

Konsep Pancasila sejak dulu selalu menjadi kontroversi. Ideologi resmi negara itu seolah menjadi alat legitimasi, mirip uang kertas yang diwajibkan berlaku untuk semua orang. Padahal uang kertas, nilai intrinsiknya hampir tidak ada, sekedar kertas bergambar. Tapi karena semua pasar mensyaratkan uang kertas, semua memakainya dan semua berebut menguasainya. Inilah perumpamaan Pancasila.

Sementara di sisi lain, Islam seperti emas dan perak sebagai mata uang. Nilai intrinsiknya jelas, tidak pernah berubah sepanjang zaman. Satu dinar zaman Rasulullah tak berubah nilai di zaman sekarang. Sementara uang kertas? Zaman saya SMP satu mangkok mie ayam harganya 1000 perak, sekarang dapat apa dengan uang segitu?

Nah, mirip dengan kasus dinar dirham versus uang kertas di atas, seharusnya umat Islam berani membangun kemandirian ideologis. Mulai dari lingkungan terkecil, keluarga, perumahan, jamaah masjid, pesantren.

Di mana umat Islam bisa mengorganisir diri dengan syariat Islam, lakukan semampunya.  Jika itu sudah menyebar dan membudaya, seperti jika dinar dan dirham sudah menyebar, maka legitimasi uang kertas akan memudar dengan sendirinya. Demikian pula legitimasi ideologi di luar Islam yang dipaksakan berlakunya.

Namun itu bukan tanpa resiko. Selalu ada resiko pelarangan pembudayaan syariat Islam dan resiko pemaksaan ideologis.  Maka umat harus siap melawan sesuai kemampuan, jangan sangka syariat Islam akan mudah diberlakukan dengan tanda tangan. Tiada yang semudah membalik telapak tangan sendiri.

Bentrokan sangat mungkin terjadi, korban pasti akan ada. Namun hal itu worth it, setimpal, sangat layak dibayar. Bukankah cita-cita hidup di bawah naungan Islam adalah cita-cita semua Muslim sejati?

Tapi jangan buru-buru takut dan khawatir, kematian itu rahasia Allah. Semua orang pasti mati. Belum tentu pejuang syariat Islam mati duluan. Bisa jadi musuh-musuhnya yang mati. Baik dengan sebab Sunatullah, wabah misalnya, maupun dengan perlawanan kaum Muslimin.

Dan andaipun Muslim mati dalam memperjuangkan cita-citanya, bukankah itu syahadah? Bukankah ia masuk surga tanpa hisab? Bukankah ia bisa memberikan syafaat pada 70 keluarganya? Lalu apa yang ditakuti?

Kembali lagi pada harga Pancasila, eh harga remote di depan tadi. Jika Anda pembeli yang cerdas, pasti paham bahwa remote ada di mana-mana. Banyak toko yang jual. Tawarlah dengan harga wajar, jika penjual tetap nangkring tinggalkanlah. Masih ada Mang Ujang, Bang Udin dan Mas Jono yang menawarkan remote keliling dengan harga murah dan wajar.

Jika penjual akhirnya menyerah, Alhamdulillah. Jika tidak, didiklah dia dengan hukuman bahwa  harga yang tak masuk akal akan bikin tokonya tidak laku, bahkan bisa bangkrut. Boikot tokonya, hindari membeli di sana. Ingin lebih efektif mendidik? Ceritakan pada kawan-kawan dan tetangga agar mereka ikut terhindar dari pemalakan terselubung.


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Turki

Shalat Jum’at Pertama di Hagia Sophia, Bendera Hamas Tampak Berkibar

Bendera organisasi Islam Palestina Harakat al-Muqaawamah al-Islamiyah (Hamas) tampak berkibar di tengah kerumunan orang yang berkumpul di depan Hagia Sophia pada Jum'at (24/07/2020).

Sabtu, 25/07/2020 10:16 0

Artikel

Di Balik Erdogan: Jalan Sunyi Intelektual Turki

Sekali lagi, alih-alih melihat kerja-kerja intelektual Turki ini sebagai alat kekuasaan, akan lebih bijak jika kita melihat think tank semacam SETA bekerja saling memanfaatkan dengan kekuasaan.

Sabtu, 25/07/2020 09:52 0

Turki

Akhirnya, Adzan Berkumandang Kembali di Hagia Sophia

Presiden Turki, Tayyip Erdogan bergabung dengan jamaah shalat Jum'at untuk pertama kalinya di Hagia Sophia dalam sembilan dekade pada 24 Juli 2020. Erdogan akhirnya menuntaskan misinya untuk memulihkan tempat ibadah muslim di sebuah situs kuno yang lama dihormati dalam agama Kristen dan Islam.

Sabtu, 25/07/2020 09:25 0

Indonesia

Madina Cabang Palu Salurkan Bantuan ke Korban Banjir Masamba

Pada Selasa (21/07/2020), relawan Majelis Dakwah Islam Indonesia (Madina) cabang Palu berangkat menuju Kecamatan Masamba Kabupaten Luwu Utara yang menjadi lokasi bencana banjir bandang.

Jum'at, 24/07/2020 21:30 0

Indonesia

MUI: Kita Sambut Baik Hagia Sophia Difungsikan Jadi Masjid

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas menyambut gembira Hagia Sophia yang kembali difungsikan sebagai masjid

Jum'at, 24/07/2020 20:39 0

Indonesia

Indonesia Terima 100 Ventilator Noninvasif dari Australia

Pemerintah Indonesia menerima bantuan peralatan medis dari Pemerintah Australia untuk penanganan Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19.

Jum'at, 24/07/2020 20:22 1

Indonesia

Dianggap Bangun Dinasti Politik, Gibran Bingung

Gibran Rakabuming Raka menanggapi banyaknya tudingan yang menyebut bahwa dirinya tengah membangun dinasti politik

Jum'at, 24/07/2020 20:00 1

Indonesia

Kunjungan ke Unit Percetakan Al-Qur’an, Bukhori Yusuf: Produksi Mushaf Kita Masih Minim

Anggota Komisi VIII DPR-RI, Bukhori Yusuf meminta produksi Mushaf Al-Qur'an untuk kebutuhan nasional segera ditingkatkan. Hal ini disampaikannya secara langsung kepada Kepala Unit Percetakan Al-Qur'an (UPQ) Kementerian Agama, Jammaludin M. Marki saat melakukan kunjungan ke UPQ Kemenag yang berlokasi di Ciawi, Kabupaten Bogor pada Kamis (23/07/2020).

Jum'at, 24/07/2020 19:11 0

Indonesia

Polemik Jenazah Covid-19 Dibakar, Tito Salahkan Media

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian menanggapi polemik jenazah Covid-19 dibakar

Jum'at, 24/07/2020 16:58 1

Afghanistan

Taliban Siap Berunding dengan Pemerintah Afghan Usai Idul Adha, Asalkan…

Tawaran ini menjadi kesempatan pertama sejak pihak-pihak yang bertikai melewati batas waktu 10 Maret untuk memulai negosiasi.

Jum'at, 24/07/2020 09:45 0

Close