Pasukan Haftar Peringatkan Blokade Minyak Libya Akan Terus Berlanjut

KIBLAT.NET, Tripoli – Upaya pemerintah Libya yang didukung PBB untuk menghidupkan kembali produksi minyak dapat digagalkan oleh pasukan yang setia kepada komandan militer saingan mereka di Libya timur, Khalifa Haftar yang berencana untuk melanjutkan blokade minyak.

Tentara Nasional Libya pimpinan Haftar telah memblokir produksi dan ekspor minyak sejak Januari, mereka menginginkan distribusi yang adil dari pendapatan minyak yang dikelola oleh pemerintah berdasarkan Persetujuan Nasional yang berbasis di Tripoli dan disetujui oleh PBB.

“Penutupan pelabuhan dan ladang minyak akan dipertahankan sampai tuntutan rakyat Libya dipenuhi,” kata sebuah pernyataan yang diterbitkan Sabtu (11/07/2020) malam di Facebook oleh juru bicara pasukan pro-Haftar, Ahmad al-Mismari.

“Hanya satu kapal tanker minyak yang berwenang memuat sejumlah minyak yang disimpan, sebagaimana disepakati dengan komunitas internasional dan negara-negara persaudaraan dan negara-negara sahabat yang telah memintanya,” lanjut pernyataan tersebut tanpa penjelasan lebih lanjut.

NOC, perusahaan minyak nasional Libya telah mengumumkan pada 10 Juli lalu dimulainya kembali produksi minyak mentah dan ekspor setelah hampir enam bulan ditutup karena konflik berkepanjangan.

Ekspor minyak adalah sumber dari hampir semua pendapatan negara di Libya, yang telah terperosok dalam kekacauan sejak penggulingan dan pembunuhan mantan penguasa Muammar Gaddafi dalam pemberontakan yang didukung NATO pada 2011.

Sebuah kapal pertama akan mulai memuat minyak mentah dari pelabuhan minyak Al-Sidra di timur negara itu, kata sebuah sumber dari NOC.

BACA JUGA  RD Kongo: Lima Orang Tewas dalam Serangan Gerilyawan ke Kamp Militer

Namun NOC  memperingatkan akan butuh waktu untuk kembali ke tingkat produksi seperti sebelumnya disebabkan kerusakan besar pada infrastruktur energi.

Didukung oleh Turki, pasukan pemerintah telah mencetak kemenangan penting dalam beberapa bulan terakhir. Mereka mendapatkan kembali kendali di Barat Laut dan mengusir pasukan yang loyal kepada Haftar.

Sementara Haftar didukung oleh Mesir, Uni Emirat Arab, dan Rusia.

Pada 10 Juli, NOC mengatakan telah mengangkat force majeure atau tindakan yang digunakan dalam keadaan luar biasa yang memungkinkannya dibebaskan dari kewajiban jika tidak mematuhi kontrak pengiriman minyak pada semua ekspor minyak dari Libya.

Dan pada hari Ahad (13/07/2020), NOC memutuskan melanjutkan force majeure dan mengatakan bahwa UEA berada di belakang blokade baru pada ekspor minyak.

“NOC telah diberitahu bahwa instruksi untuk menghentikan produksi diberikan kepada (Tentara Nasional Libya) oleh Uni Emirat Arab,” kata sebuah sumber di NOC.

Hingga saat ini, belum ada komentar langsung terkait tuduhan NOC tersebut baik dari pihak Tentara Nasional Libya ataupun Uni Emirat Arab.

Sumber: Middle East Eye
Editor: Rusydan Abdul Hadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat