Dijajah 132 Tahun, Aljazair Desak Permintaan Maaf Penuh Prancis

KIBLAT.NET, Aljir – Presiden Aljazair Abdel Majid Taboun pada Sabtu (04/07/2020), menuntut permintaan maaf dari Perancis atas masa lalu kolonialnya di Aljazair. Ia meyakini bahwa Presiden Prancis, Emmanuel Macron, adalah pria “jujur” yang mampu melakukan pendekatan antara kedua negara.

Taboun mengatakan dalam sebuah wawancara dengan televisi France 24, bahwa Paris telah menawarkan “setengah permintaan maaf”. Ia berharap akan ada “permintaan maaf penuh.”

Dia menambahkan, “Ini akan memungkinkan iklim menjadi tenang dan membuatnya lebih murni untuk hubungan ekonomi, untuk hubungan budaya, untuk hubungan tetangga yang baik,” mengingat peran yang dimainkan 6 juta warga Aljazair yang tinggal di Prancis dalam bidang ini.

Pada hari Jumat, Aljazair menerima sisa-sisa 24 pejuang yang terbunuh pada tahun-tahun awal kolonialisme Prancis sebagai isyarat hubungan bilateral yang lebih tenang.

Langkah ini dianggap sebagai indikasi peningkatan hubungan antara Aljazair dan bekas koloninya, yang telah ditandai dengan ketegangan dan krisis yang sering terjadi sejak kemerdekaan negara itu pada 1962.

Hubungan yang tidak stabil ini dipicu oleh kesan di Aljazair bahwa Prancis tidak melakukan cukup banyak upaya untuk menyelesaikan masa kolonialnya (1830-1962).

Sumber: Al-Arabiya
Redaktur: Ibas Fuadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat