... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Psikolog Forensik: Tulisan Denny Siregar Soal Anak Calon Teroris Bentuk Stigmatisasi

Foto: Pakar psikologi forensik reza Indragiri.

KIBLAT.NET, Jakarta – Psikolog Forensik, Reza Indragiri Amriel menegaskan bahwa postingan Denny Siregar soal anak calon teroris berbahaya. Sebab, postingan tersebut bentuk stigmatisasi negatif terhadap anak.

“Kalimat-kalimat pada teks tersebut, ketika ditempel dengan foto semacam itu, merupakan bentuk stigmatisasi terhadap anak dengan identitas atau atribut sedemikian rupa. Stigmatisasi yang berangkat dari prasangka negatif, berlanjut ke sikap merendahkan nilai/martabat anak,” katanya kepada Kiblat.net melalui keterangan persnya pada Sabtu (04/07/2020)

“Stigma, pada gilirannya, bisa mendorong anak masuk ke situasi berisiko yaitu didiskriminasi,” sambung Reza.

Untuk sementara, kata dia, anggaplah anak-anak itu merupakan anak dari para orang tua seperti yang digambarkan dalam teks dimaksud. Yakni orang tua yang menjerumuskan anak-anak itu menjadi perusak.

“Bahkan dengan asumsi seperti itu pun, UU 35/2014 sudah memberikan panduan tentang perlakuan yang seharusnya dikenakan kepada anak-anak tersebut. Perlakuan yang diistilahkan sebagai perlindungan khusus, spesifik butir k dan o pada pasal 59 ayat 2, yang dalam UU Perlindungan Anak diembankan sebagai kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan lembaga negara lainnya,” tuturnya.

Artinya, Reza menekankan bahwa terhadap anak-anak seperti itu pun tetap harus dikenakan perlakuan yang baik. Bukan justru dengan menstigmatisasi mereka.

“Negara harus melindungi anak-anak dari stigma, tak terkecuali anak-anak seperti yang diasumsikan dalam tulisan tersebut,” paparnya

Menurutnya, semakin buruk karena isi stigma pada tulisan tersebut lagi-lagi mengait-ngaitkan secara serampangan bendera tauhid sebagai simbol kekerasan/kejahatan. Ia menegaskan bahwa narasi keliru semacam ini pernah marak beberapa waktu lalu.

BACA JUGA  PTUN Jabar Terima Gugatan Pengacara Habib Bahar

“Dan ini sudah dikoreksi oleh Kemendagri dan MUI. Tapi narasi salah tersebut kini diangkat kembali,” tuturnya.

Jadi, lanjut Reza, tulisan itu mengandung permasalahan majemuk. Pertama, mendevaluasi anak-anak dan orang tua mereka bukanlah perbuatan yang baik, justru berdampak buruk terhadap anak. Lalu, isi stigmatisasinya salah pula.

“Bahkan, dengan isi stigmatisasi yang salah tersebut, penulis abai terhadap apa yang semestinya dilakukan negara terhadap anak-anak seperti yang penulis asumsikan,” pungkasnya.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Izhar Zulfikar


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

India

Hubungan Dengan Cina Memanas, India Borong 33 Jet Tempur Rusia

Kementerian Pertahanan India juga telah menyetujui pengembangan sistem rudal lokal untuk ketiga cabang militer

Jum'at, 03/07/2020 14:39 0

Selandia Baru

Sidang Putusan Kasus Pembantaian Masjid Christchurch Akan Digelar Bulan Depan

Hakim mengatakan bahwa persidangan diperkirakan akan berlangsung 3 hari atau lebih

Jum'at, 03/07/2020 08:58 0

Analisis

Ghazwatul Hindi: Nusantara, Front Utama Melawan Cina (Bag. 3)

Pasukan Ghazwatul Hindi harus meneliti seribu kali sebelum menyergap lawan lokal. Sementara di sisi lain mereka harus mewaspadai penyergapan dan pengkhianatan lawan.

Rabu, 01/07/2020 21:36 0

Suriah

Seorang Tentara Suriah “Menghilang” Usai Lamar Putri Assad Via Online

Yazan Soltani, seorang prajurit di pasukan rezim Assad, mengabaikan peringatan oleh banyak orang yang dekat dengannya terkait konsekuensi dari video yang ia buat.

Selasa, 30/06/2020 14:43 0

Afrika

Revisi Undang-undang, Gabon Bersiap Legalkan LGBT

Saat ini RUU akan diratifikasi oleh Presiden Ali Bongo. Istri Bongo, Sylvia, telah menyuarakan dukungan untuk RUU ini dengan mengatakan kemampuan untuk mencintai secara bebas tanpa kecaman adalah hak asasi manusia yang mendasar.

Selasa, 30/06/2020 13:42 0

China

Wanita Uighur Dipaksa Gugurkan Kandungan Jika Lewati Batas Jumlah Anak

Cina memaksa perempuan untuk disterilkan atau menggunakan alat kontrasepsi untuk membatasi populasi Uighur dan kelompok minoritas Muslim di wilayah Xinjiang barat.

Selasa, 30/06/2020 13:38 0

News

WHO: Krisis Pandemi Masih Jauh Dari Akhir

Tedros mengatakan bahwa krisis ini masih bisa menjadi lebih parah lagi jika negara-negara di dunia masih enggan mendengarkan saran dari WHO.

Selasa, 30/06/2020 09:06 0

Info Event

Launching Rania Turki, Rumah Besar Perempuan Indonesia di Turki

Dengan semakin meningkatnya jumlah WNI terutama perempuan Indonesia yang tinggal di Turki mendapatkan perhatian dari para aktivis yang berinisiatif untuk menghadirkan organisasi perempuan baru. Organisasi tersebut bernama Rumah Muslimah Indonesia (Rania) Turki yang kemudian melaksanakan launching secara virtual melalui aplikasi Zoom pada Ahad (28/06/2020) dengan tema “Menjadi Perempuan Muslimah Berdaya Bersama Rania”.

Senin, 29/06/2020 12:07 0

Suara Pembaca

Apapun Alasannya, RUU HIP Harus Dibatalkan

Sehubungan dengan polemik Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang digagas oleh PDIP dan disetujui oleh semua parpol di DPR-RI kecuali PKS dan Demokrat sehingga mendapat penolakan dari banyak pihak di antaranya MUI seluruh Indonesia, ormas-ormas Islam seluruh Indonesia, organisasi purnawirawan TNI-Polisi dan seluruh elemen bangsa.

Senin, 29/06/2020 11:26 0

Asean

Cerita Rohingya: Minum Air Seni untuk Bertahan Hidup di Laut

Korban selamat yang sudah basah kuyup, sekitar 100 orang, yang kebanyakan wanita dan anak-anak, menunjukkan kisah mengerikan di laut lepas.

Senin, 29/06/2020 07:27 0

Close