... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Ghazwatul Hindi: Nusantara, Front Utama Melawan Cina (Bag. 3)

Foto: Nusantara dalam peta regional.

Oleh: Fahmi Suwaidi, pengamat dunia Islam

Tulisan ini lanjutan dari tulisan sebelumnya

KIBLAT.NET – Setelah menguraikan ancaman Cina dalam tulisan lalu, sebagai pemimpin terkini peradaban al-Hindi terhadap Muslim di Asia, muncul beberapa sanggahan. Di antaranya, bahwa Cina selalu mengedepankan pendekatan ekonomi daripada invasi militer. Mereka menguasai dunia dengan perdagangan, bukan senjata. Cina juga dikatakan apolitis, mereka lebih mengutamakan kepentingan bisnis daripada politis.

Sanggahan ini terbantah oleh sejarah lokal di Nusantara. Pada tahun 1293 M Kaisar Cina Kubilai Khan mengirimkan pasukannya ke Nusantara, tepatnya Pulau Jawa, untuk menghukum Raja Singasari, Kertanegara. Kubilai adalah kaisar dinasti Yuan di Cina yang juga cucu penguasa Mongol Jenghis Khan.

Karena tak kenal medan dan penduduk daerah sasaran, pasukan Kubilai Khan malah dibajak oleh Raden Wijaya, menantu Kertanegara, untuk menghancurkan kekuatan Jayakatwang. Jayakatwang adalah Raja Kediri yang merebut Singasari dari Kertanegara. Bukan dia yang menghinakan utusan Cina dengan memotong telinganya.

Namun jauhnya jarak, lamanya perjalanan dan minimnya data intelijen Cina tentang Jawa membuat invasi itu berakhir tragis. Pasukan Cina salah sasaran, lalu dikhianati Wijaya setelah dibajak kekuatannya. Mereka pulang ke negerinya meninggalkan Wijaya yang membangun kerajaan baru, Majapahit.

Andai kisah sejarah ini diproyeksikan pada masa kekinian, ceritanya tentu akan berbeda. Kini Cina menguasai sepenuhnya data intelijen hampir semua negeri, termasuk Indonesia. Diaspora keturunan Cina di banyak negeri menjadi aset intelijen yang sangat berharga.

Lebih dari itu, mirip Sayanim (keturunan Yahudi yang hidup di luar Israel dan menjadi aset Mossad) banyak diaspora Cina memiliki pengaruh besar. Terutama dalam sektor ekonomi dan bisnis. Namun, jika peluang memungkinkan, mereka akan membangun kekuatan politik dan militer, bahkan negara sendiri.

Buktinya belum lama berselang, di Kalimantan barat tahun 1777 bahkan sempat berdiri  entitas politik Republik Lanfang. Belasan ribu pekerja tambang emas asal Cina yang didatangkan oleh Sultan Sambas menikmati kemakmuran sekaligus otonomi politik.

Meskipun berada di wilayah kekuasaan Sambas, mereka menyetor upeti sebagai tanda setia pada Dinasti Qing di Cina. Mereka eksis dengan memainkan peluang politik di tengah persaingan Kesultanan Sambas, Kesultanan Pontianak dan Belanda. Republik itu akhirnya hilang dianeksasi Belanda pada tahun 1884.

Contoh lain yang masih ada hingga sekarang adalah Singapura. Negara pulau itu menjadi contoh sukses diaspora keturunan Cina. Dari menguasai bandar perdagangan menjadi penguasa wilayah setelah Inggris meninggalkan wilayah jajahan.

Dari rangkaian sejarah itu, sebenarnya tak kurang bukti bahwa jika negeri induknya lemah, Cina menguasai dengan bisnis dan ekonomi. Namun elemen diasporanya selalu memanfaatkan kesempatan politik secara pragmatis. Sementara jika negeri induknya kuat, mereka tidak segan untuk mengirimkan ekspedisi militer, bahkan invasi.

Target Nusantara

Kita bisa sepakat bahwa Cina adalah pemimpin al-Hindi di masa sekarang. Peradaban kufur dan musyrik yang berasal dari India namun berkembang luas ke seluruh Asia. Di antara negeri-negeri al-Hindi, Cina lebih kuat daripada India, Myanmar ataupun Thailand.

Sementara itu, di Asia bahkan dunia Indonesia adalah negeri berpenduduk Muslim terbesar. Termasuk terkaya secara sumber daya alam, dan paling strategis secara posisi geografis. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan apalagi menakut-nakuti, umat Islam di Indonesia harus menghadapi peluang perang besar melawan al-Hindi, Ghazwatul Hindi,  di kawasan dan di negerinya sendiri.

BACA JUGA  Ini Foto Ayah Habib Rizieq yang Sebenarnya

Umat Islam di Indonesia akan menghadapi al-Hindi sebagaimana Muslim Uighur di Cina, Muslim Kashmir di India, Muslim Rohingya di Myanmar dan Muslim Patani di Thailand.

Area konflik di kawasan Asia.

Secara ideologis, geografis, politis, ekonomis dan militer negeri ini sangat mungkin menjadi target dan kancah peperangan Nubuwwah itu.  Secara ideologis, tauhid akan selalu bertarung dengan kekufuran dan kemusyrikan.

Benturan peradaban antara Islam dan Hindi sangat panjang dalam sejarah. Bahkan dalam tahun-tahun ini, Muslim di Cina dan India tengah merasakan langsung bagaimana kezhaliman musuh ideologis mereka.

Secara politis, dunia tengah berubah. Dominasi Rum yang dipimpin Amerika Serikat tengah melemah, terutama di Asia. Maka kekuatan Hindi yang tengah menanjak siap menggesernya. Pertarungan antara Cina dan India di dataran tinggi Ladakh menunjukkan rivalitas internal, siapa yang lebih layak menjadi pemimpin al-Hindi.

Meskipun keduanya sama-sama besar, penduduknya banyak, militernya diperkuat nuklir, agaknya Cina akan lebih berpeluang memenangkan persaingan. India masih berkutat dengan PR di dalam negeri, sementara Cina sudah membangun imperium ekonomi, tinggal legitimasi politik yang mereka butuhkan.

Bahkan seandainya pemenangnya adalah India, bukan berarti Indonesia akan aman dari ancaman al-Hindi. Partai Bharatya Janata yang kini berkuasa di India memiliki impian untuk menggelar India Raya yang batasnya adalah Samudera Hindia. Dan Nusantara adalah ujung selatan samudera yang mengabadikan nama peradaban mereka, al-Hindi.

Secara ekonomi, belum pernah dominasi ekonomi dunia begitu dikuasai oleh sebuah negara seperti sekarang. Dari Maroko sampai Merauke, dunia Islam berada dalam cengkeraman ekonomi sang naga. Penjajahan ekonomi ini menjadi salah satu kesulitan besar bagi Muslim jika Ghazwatul Hindi pecah kelak.

Umat Islam sudah terlalu menikmati produk-produk Cina di negeri mereka. Dari mainan sampai alat telekomunikasi, semua berasal dari sana. Hal ini menimbulkan ketergantungan yang melemahkan jika harus berhadapan dengan negara produsen.

Di sisi lain, sebagai raksasa industri Cina sangat berhajat pada bahan baku dan pasar. Indonesia dengan tanahnya yang subur, bahan tambang yang melimpah, di lintasan Khatulistiwa yang selalu disinari matahari, menjadi surga bahan mentah industri.

Sementara itu, penduduknya yang besar dengan tingkat konsumerisme yang terus meningkat menjadi surga bisnis. Siapapun yang bisa menguasai pasar Nusantara akan merasakan lezatnya keuntungan ekonomi. Bukankah sejak dulu penjajah Kristen Eropa kaya raya dengan bisnis rempah dan penjualan produk industri di kawasan jajahan?

Sementara secara militer, Indonesia menjadi kawasan perbatasan kekuasaan imperium besar. Di selatan, Rum diwakili oleh Australia, yang sejak dulu memainkan peran sebagai “sheriff” Amerika di Asia Tenggara. Sementara di utara, Cina terus merangsek hingga Laut Cina Selatan dengan klaim wilayah dan kepulauan.

Di manapun, wilayah perbatasan akan menjadi kancah jika pertarungan kekuatan besar terjadi. Gajah bertarung sama gajah, pelanduk terjepit di tengah-tengah. Muslim Nusantara harus memilih, dicengkeram cakar Naga Hindi atau dikempit dalam kantung Kanguru Rum. Sebagai kekuatan besar yang masih tidur, Muslim Nusantara menghadapi kemungkinan dikooptasi oleh para raksasa yang sudah bangun.

Namun masih ada pilihan ketiga yang terbaik, yaitu menjadi kekuatan independen yang mengambil peluang ketika dua raksasa itu bertarung. Bukan tidak mungkin inilah momentum kebangkitan Islam secara paripurna di Nusantara. Setelah sekian abad penjajahan oleh Rum dan para bonekanya.

BACA JUGA  Apakah Shalat Idul Adha Menggugurkan Kewajiban Shalat Jumat?

Syubhat Pekat

Meski demikian, tantangannya tidak mudah. Bukankah Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pasukan yang memerangi al-Hindi setara ganjarannya dengan yang menyertai Nabi Isa AS? Ganjaran yang sama besar biasanya berlaku untuk amal yang kesulitan dan resikonya sebanding.

Maka jika melawan al-Hindi sama ganjarannya dengan melawan Dajjal bersama Nabi Isa, kesulitan dan fitnahnya juga akan sama besarnya. Bedanya, pasukan kedua dipimpin oleh nabi pilihan, sementara pasukan pertama tak dikabarkan siapa pemimpinnya.

Pasukan Ghazwatul Hindi akan mengalami kesulitan pertama dalam persoalan ini. Mereka harus bekerja keras menemukan figur yang tepat sebagai pemimpin. Sekaligus menyingkirkan kaum munafik yang berlimpah jumlahnya dan selalu membuat intrik di tengah umat untuk membajak dukungan mereka. Ingatlah selalu intrik Raden Wijaya!

Ilustrasi

Selain menghadapi kekuatan al-Hindi asing, pasukan Ghazwatul Hindi juga harus menghadapi boneka-boneka lokal. Yaitu mereka yang direkrut oleh al-Hindi dari kalangan politisi, militer, pengusaha hingga tokoh agama. Kaum munafik yang berkedok Islam tetapi merongrong dari dalam.

Kelompok boneka ini telah lama bergerak leluasa di tengah syubhat pekat dan situasi yang tak menentu. Sejak dahulu kawasan timur adalah kawasan yang penuh kesamaran. Karakter manusianya berbeda dengan belahan bumi Barat yang rasional dan cenderung blak-blakan sehingga pertarungannya jelas, mana hitam mana putih.

Dunia Timur didominasi rasa dan isyarat, subur untuk aneka sinkretisme dan syubhat. Di Nusantara misalnya, tak pernah terjadi konflik tegas antara Islam versus agama-agama lainnya. Bahkan praktek Islam diamalkan campur aduk dengan agama-agama lain yang lebih dulu dikenal oleh penduduknya.

Di negeri ini syirik disuburkan atas nama budaya peninggalan nenek moyang. Bid’ah dipelihara atas nama warisan para pendahulu. Bahkan tradisi Hindi banyak diamalkan oleh Muslim sebagai adat yang wajib.

Nama Islami belum tentu orangnya beriman. Rajin shalat belum tentu menjamin aqidahnya lurus. Bergelar haji belum tentu dia siap mendukung Islam. Semua serba samar dan harus diteliti benar-benar. Penentuan siapa kawan dan siapa lawan menjadi kesulitan besar.

Situasi seperti itu kemungkinan akan membuat front pertarungan peradaban menjadi kabur dan samar. Mana Muslim dan yang musyrik, yang mana Mu’min dan yang kafir. Semuanya serba campur aduk.

Maka secara militer, kemungkinan perangnya bukanlah pertempuran frontal antara dua pasukan berseragam di medan yang jelas. Melainkan gerilya, konflik skala rendah yang berlarut berkepanjangan.

Saling intai, sergap, operasi senyap agaknya akan banyak mewarnai konflik di kawasan ini. Diiringi propaganda dan dakwah ideologi yang memusingkan mereka yang tak cermat.

Mana tauhid, mana ketuhanan yang berkebudayaan. Mana syariat dan mana hukum gado-gado ala Ilyasiq. Mana ulama sejati dan mana agen komunis berkedok kiai, semuanya akan mewarnai kesulitan dalam Ghazwatul Hindi.

Pasukan Ghazwatul Hindi harus meneliti seribu kali sebelum menyergap lawan lokal. Sementara di sisi lain mereka harus mewaspadai penyergapan dan pengkhianatan lawan. Ditambah kesulitan mengarahkan umat untuk meraih dukungan. Syubhat dan wahn akan menjadi kendala utama.

Hotspot, titik-titik panas di kawasan yang menjadi kancah pertarungan Muslim versus al-Hindi, akan diwarnai aneka konflik dengan variasi yang rumit dan membingungkan. Namun semua kesulitan itu akan berbuah ganjaran super manis. Jaminan bebas dari api neraka dan kenikmatan surga sebagai gantinya! Insya Allah. (Tamat)

 


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Momen Hari Bhayangkara, KontraS: 287 Warga Tewas Ditembak Dalam Setahun

Di Hari Bhayangkara ke 74 ini, Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) memberikan catatan terhadap Kepolisian Republik Indonesia.

Rabu, 01/07/2020 15:09 0

Indonesia

Netty Aher: Ustadz Hilmi Aminuddin Berjasa Atas Kebangkitan Politik Islam

Anggota Komisi IX DPR RI yang juga Wakil Ketua Fraksi PKS, Netty Prasetiyani Aher berduka atas wafatnya Ustadz Hilmi Aminuddin.

Selasa, 30/06/2020 21:10 0

Indonesia

Jumlah Positif Corona di Jatim Tertinggi Dibanding Provinsi Lain

Jelang akhir bulan Juni 2020, penularan virus SARS-CoV-2 masih terjadi di beberapa wilayah.

Selasa, 30/06/2020 20:37 0

Indonesia

Ustadz Hilmi Aminuddin Wafat, Jazuli: PKS Kehilangan Pembimbing Dakwah

Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini mengabarkan wafatnya KH. Hilmi Aminuddin yang meninggal di Rumah Sakit Santosa Central Kota Bandung Jawa Barat.

Selasa, 30/06/2020 20:11 0

Indonesia

Datangi Kejagung, LBH PASTI Minta Proyek Kartu Prakerja Diusut

Tim LBH Pusat Advokasi Hukum dan Konstitusi (LBH Pasti) mendatangi kantor Kejaksaan Agung RI.

Selasa, 30/06/2020 19:52 0

Suriah

Seorang Tentara Suriah “Menghilang” Usai Lamar Putri Assad Via Online

Yazan Soltani, seorang prajurit di pasukan rezim Assad, mengabaikan peringatan oleh banyak orang yang dekat dengannya terkait konsekuensi dari video yang ia buat.

Selasa, 30/06/2020 14:43 0

Afrika

Revisi Undang-undang, Gabon Bersiap Legalkan LGBT

Saat ini RUU akan diratifikasi oleh Presiden Ali Bongo. Istri Bongo, Sylvia, telah menyuarakan dukungan untuk RUU ini dengan mengatakan kemampuan untuk mencintai secara bebas tanpa kecaman adalah hak asasi manusia yang mendasar.

Selasa, 30/06/2020 13:42 0

China

Wanita Uighur Dipaksa Gugurkan Kandungan Jika Lewati Batas Jumlah Anak

Cina memaksa perempuan untuk disterilkan atau menggunakan alat kontrasepsi untuk membatasi populasi Uighur dan kelompok minoritas Muslim di wilayah Xinjiang barat.

Selasa, 30/06/2020 13:38 0

News

WHO: Krisis Pandemi Masih Jauh Dari Akhir

Tedros mengatakan bahwa krisis ini masih bisa menjadi lebih parah lagi jika negara-negara di dunia masih enggan mendengarkan saran dari WHO.

Selasa, 30/06/2020 09:06 0

Info Event

Launching Rania Turki, Rumah Besar Perempuan Indonesia di Turki

Dengan semakin meningkatnya jumlah WNI terutama perempuan Indonesia yang tinggal di Turki mendapatkan perhatian dari para aktivis yang berinisiatif untuk menghadirkan organisasi perempuan baru. Organisasi tersebut bernama Rumah Muslimah Indonesia (Rania) Turki yang kemudian melaksanakan launching secara virtual melalui aplikasi Zoom pada Ahad (28/06/2020) dengan tema “Menjadi Perempuan Muslimah Berdaya Bersama Rania”.

Senin, 29/06/2020 12:07 0

Close