Belajar Tentang Belajar (Bag. 1)

KIBLAT.NET – Islam adalah agama yang lengkap, dalam artian syariat-syariatnya menyentuh dan mengatur segala lini aktivitas kehidupan manusia. Dimulai dari membuka mata ketika bangun tidur hingga menutup mata ketika akan tidur kembali, akan selalu ada “sisipan-sisipan” syariat yang membuat segala aktivitas manusia dapat bernilai ibadah di hadapan Allah SWT.

Termasuk dalam belajar. Sebagai sebuah aktivitas terpenting dalam kehidupan manusia. Islam tentu saja mempunyai aturan terkait aktivitas tersebut.

Belajar merupakan aktivitas yang membedakan antara manusia dan makhluk lainnya. Belajar membuat kehidupan manusia mengalami perkembangan. Dimulai dari aktivitas belajar lah tercipta sejarah dan peradaban manusia.

Para ulama bersepakat bahwa sebelum mempelajari sesuatu seorang muslim perlu mempelajari adab sehingga ketika belajar nanti niatnya menjadi benar-benar tulus hanya ditujukan untuk keridhaan Allah SWT semata dan dijauhkan dari motif-motif duniawi yang merusak.

Diriwayatkan dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Hak seorang anak atas orang tuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuh yang baik, serta pendidikan adab yang baik.”

Suatu ketika, Imam Syafii pernah ditanya terkait adab:

“Sejauh manakah hasratmu terhadap adab?”

“Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran adab meski hanya satu huruf, maka seluruh organ tubuhku akan ikut mendengarnya seolah-olah setiap organ tersebut memiliki telinga,” jawab beliau.

Beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usahamu dalam mencari adab?”

BACA JUGA  Rekening Diblokir, Munarman: Padahal untuk Berobat Ibu Saya

“Aku akan senantiasa mencarinya laksana usaha seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.”

Kyai Haji Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adabul Alim wal Mutaallim mengungkapkan bahwa terkait masalah adab, sebagian ulama menyatakan apabila seseorang mengamalkan syariat tanpa disertai adab, maka pada hakikatnya dia belum mengamalkan syariat, dan belum dianggap beriman dan bertauhid kepada Allah SWT.

Para ulama menggali adab dari nash-nash baik dari kitabullah maupun hadits lalu merumuskannya dalam sekumpulan pedoman-pedoman yang bermanfaat bagi generasi selanjutnya.

Dalam ruang dan waktu bernama Indonesia ini, Adabul Alim wal Mutaallim menjadi salah satu kitab yang cukup lengkap dan praktis terkait adab. Di dalamnya, Kyai Haji Hasyim Asy’ari menuliskan beberapa etika yang perlu dimiliki oleh seorang pencari ilmu.

Menurut beliau setidaknya terdapat sepuluh etika yang harus dimiliki seorang pencari ilmu, yaitu:

1. Sebelum mengawali proses mencari ilmu, seorang pelajar hendaknya membersihkan hati terlebih dahulu dari berbagai macam kotoran dan penyakit hati seperti kebohongan prasangka buruk, hasut (dengki), serta akhlak-akhlak atau akidah yang tidak terpuji.

2. Membangun niat luhur. Yakni, mencari ilmu pengetahuan demi semata-mata meraih ridho Allah SWT serta bertekad mengamalkannya setelah ilmu itu diperoleh, mengembangkan syariat Islam, mencerahkan mata hati, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

3. Menyegerakan diri dan tidak menunda-nunda waktu dalam mencari ilmu pengetahuan.

BACA JUGA  Komisi III DPR Setuju Listyo Sigit Jadi Kapolri

4. Rela, sabar, dan menerima keterbatasan (keprihatinan) dalam masa-masa mencari ilmu, baik menyangkut makanan, pakaian dan lain sebagainya.

5. Membagi dan memanfaatkan waktu serta tidak menyia-nyiakannya, karena setiap sisa waktu (yang terbuang sia-sia) akan menjadi tidak bernilai lagi.

6. Tidak berlebihan (terlampau kenyang) dalam menkonsumsi makanan dan minuman.

7. Bersikap wara’ (waspada) dan berhati-hati dalam setiap tindakan.

8. Tidak mengkonsumsi jenis-jenis makanan yang yang dapat menyebabkan akal (kecerdasan) seseorang menjadi tumpul (bodoh) serta melemahkan kekuatan organ-organ tubuh (panca indera). Selain itu, seorang pelajar juga hendaknya menghindari makanan-makanan yang dapat menumpulkan mata hati dan cepat menambah berat badan seseorang yang mengandung banyak kolesterol seperti mengkonsumsi air susu dan ikan terlalu banyak.

Seorang pelajar juga hendaknya menjauhi hal-hal yang menyebabkan dirinya cepat lupa seperti memakan makanan dari bekas gigitan tikus, membaca tulisan batu nisan, berjalan di antara dua ekor unta yang sedang berjalan, membuang seekor kutu dalam keadaan hidup, dan lain sebagainya.

9. Tidak terlalu lama tidur. Idealnya dalam sehari semalam seorang pelajar tidur tidak lebih dari delapan jam.

10. Menjauhkan diri dari pergaulan yang tidak baik. Lebih-lebih dengan lawan jenis. Efek negatif dari pergaulan semacam itu adalah banyaknya waktu yang terbuang sia-sia sereta hilangnya rasa keagamaan seseorang.

Penulis: Azzam Diponegoro

 

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat