... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Soal Penyebab Bentrok Perbatasan, Cina-India Saling Tuding

Foto: Gambar satelit diambil alih Lembah Galwan di Ladakh, India, yang sebagian diperebutkan dengan Tiongkok [Reuters]

KIBLAT.NET, Beijing – Cina memperkuat pasukannya di dekat perbatasan India dengan mengirim para pendaki gunung dan pejuang seni bela diri, tak lama sebelum bentrokan mematikan terjadi bulan ini.

Ketegangan di daerah perbatasan pegunungan adalah hal biasa di antara kedua negara tetangga yang bersenjatakan nuklir ini. Tetapi pertempuran bulan ini adalah pertemuan paling mematikan dalam hampir 50 tahun terakhir.

Lima divisi milisi baru, termasuk mantan anggota tim estafet obor Olimpiade Gunung Everest dan pejuang dari klub seni bela diri campuran, mengajukan diri untuk direkrut di Lhasa, ibukota Tibet, pada 15 Juni. Demikian laporan surat kabar resmi militer Cina National Defense News.

CCTV penyiaran negara menunjukkan cuplikan ratusan pasukan baru yang berbaris di ibukota Tibet.

Komandan Tibet Wang Haijiang mengatakan bahwa perekrutan Klub Pertempuran Enbo akan sangat meningkatkan kekuatan pasukan,” lapor National Defense News Cina.

Kemudian pada hari itu, pasukan India dan Cina bertempur selama beberapa jam di Lembah Galwan di Ladakh, menggunakan batu dan tongkat bertabur paku untuk saling mengalahkan, menewaskan 20 tentara India dan melukai setidaknya 76 lainnya.

Bentrokan pada 15 Juni adalah konflik paling mematikan antara kedua belah pihak dalam 45 tahun. Cina belum mengatakan apakah mereka menderita korban.

Saling Tuding

India mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka telah memperkuat pasukannya di wilayah perbatasan Himalaya yang diperebutkan. Pihaknya mengaku sedang menyamai penumpukan pasukan serupa oleh Cina.

BACA JUGA  Hubungan Dengan Cina Memanas, India Borong 33 Jet Tempur Rusia

Media pemerintah Cina dalam beberapa pekan terakhir menyoroti kegiatan militer, termasuk latihan anti-pesawat terbang tinggi di wilayah Tibet yang berbatasan dengan India.

Pasukan baru direkrut dengan tujuan memperkuat perbatasan dan menstabilkan Tibet.

India mengklaim pasukan Cina menyergap tentara India dan memaksa mereka menuruni punggung bukit. Sementara Cina menuduh tentara India dua kali melintasi Garis Kontrol Aktual, perbatasan de facto, dan memprovokasi pasukannya.

Kedua negara bertempur di perbatasan pada tahun 1962. Cina mengklaim sekitar 90.000 kilometer persegi (35.000 mil persegi) wilayah di timur laut India, sementara India mengatakan Cina menempati 38.000 kilometer persegi (15.000 mil persegi) dari wilayahnya di Dataran Tinggi Aksai Chin di Himalaya, bagian yang berdekatan dari wilayah Ladakh.

India secara sepihak mendeklarasikan Ladakh sebagai wilayah federal, mengukirnya dari Kashmir yang dikelola India pada Agustus 2019. Cina termasuk di antara negara-negara yang mengecam langkah itu, meningkatkannya di forum-forum termasuk Dewan Keamanan PBB.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Ibas Fuadi


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Setelah Dilaporkan, Kabid Humas Polda Sulteng Sebut Almarhum Qidam Bukan Teroris

Polda Sulteng menyatakan setelah hampir 3 bulan dilakukan penyelidikan, akhirnya sementara diketahui bahwa Almarhum Qidam tidak memiliki keterkaitan antara Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT)

Ahad, 28/06/2020 15:25 0

Indonesia

Sebut Almarhum Qidam Teroris, Kabidhumas Polda Sulteng Dilaporkan

Ayah Qidam Alfariski yang menjadi korban salah tembak oknum Satgas Tinombala di Poso melaporkan Kabid Humas Polda Sulteng. Pihak keluarga tidak terima anaknya dituduh teroris tanpa bukti.

Ahad, 28/06/2020 15:05 0

Artikel

Haluan Ekonomi Masyumi

Seringkali luput dari perhatian bahwa Masyumi justru terlibat dalam salah satu kebijakan nasionalisasi yang penting, yaitu nasionalisasi De Javasche Bank sebagai bank sirkulasi yang nantinya menjadi Bank Indonesia.

Ahad, 28/06/2020 15:02 0

Editorial

Editorial: Berisik RUU HIP

Keputusan DPR-RI memasukkan rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila atau yang disingkat RUU HIP ke dalam Program Legislasi Nasional prioritas tahun 2020 menuai polemik.

Ahad, 28/06/2020 10:26 0

Indonesia

Wiranto Terima Kompensasi Rp 37 Juta Akibat Jadi Korban Penusukan

Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, Wiranto mendapatkan kompensasi atas insiden penusukan terhadap dirinya oleh terdakwa Syahrial Alam alias Abu Rara.

Sabtu, 27/06/2020 09:11 0

Indonesia

Abu Rara Penusuk Wiranto Divonis 12 Tahun Penjara

Terdakwa penusuk mantan Menko Polhukam Wiranto, Syahrial Alamsyah alias Abu Rara divonis 12 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat karena dinilai terbukti melakukan tindak pidana terorisme.

Sabtu, 27/06/2020 08:54 0

Indonesia

PKS Dukung Pemerintah Tolak Aneksasi Israel di Tepi Barat

Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini mengecam keras rencana Israel yang pada 1 Juli mendatang akan memulai aneksasi (pencaplokan) wilayah Tepi Barat dan Lembah Yordan.

Jum'at, 26/06/2020 08:40 0

Indonesia

Menolak Pengungsi Rohingya Sama dengan Legalkan Pelanggaran HAM

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menegaskan bahwa pemerintah Indonesia mampu menjamin keselamatan pengungsi Rohingya yang baru mendarat di Aceh.

Kamis, 25/06/2020 19:54 0

Indonesia

Usai Baca RUU HIP, SBY: Lebih Baik Saya Simpan Agar Politik Tak Semakin Panas

SBY menyampaikan ia selalu mengikuti isu menyangkut RUU HIP. Pun, ia sudah membaca RUU tersebut. Ada pendapat kritis yang ingin disampaikannya. Namun, ia tak menyuarakannya karena ada alasan.

Rabu, 24/06/2020 09:38 0

Opini

Perlukah Seorang Muslim Mengadopsi Pikiran Feminisme?

Kaum feminis kerap mencari konteks dan latar belakang dari nash-nash Al-Qur’an maupun Hadis yang berkaitan dengan wanita kemudian membuat bantahan terhadap penafsiran yang dianggap mendiskreditkan kaum wanita.

Rabu, 24/06/2020 09:28 0

Close