Protes Pemerintahan Korup, Rakyat Mali Kembali Turun ke Jalan

KIBLAT.NET, Bamako – Kerumunan besar sekali lagi memenuhi jalan-jalan ibukota Mali, Bamako. Ini sebagai lanjutan “Gerakan 5 Juni” yang menuntut pengunduran diri Presiden Ibrahim Boubacar Keita.

Mereka yang berkumpul pada hari Jumat (19/06/2020), menyambut seruan oposisi yang baru bangkit di negara itu dan didukung oleh Mahmoud Dicko, seorang tokoh politik.

Ribuan tentara dan warga sipil tewas, dan ratusan ribu lainnya telah meninggalkan rumah mereka di tengah serangan yang meningkat lima kali lipat sejak 2016 dan telah tumpah ke negara tetangga, Burkina Faso dan Niger.

Mali berada dalam konflik sejak suku Tuareg di utara memisahkan diri dari pemerintah yang berbasis di selatan di 2012. Keita terpilih pada tahun berikutnya dan memenangkan masa jabatan lima tahun kedua pada 2018.

Di luar konflik, para demonstran memprotes reformasi politik yang lemah, ekonomi yang mengkhawatirkan dan korupsi di pemerintahan.

Selama demonstrasi Jumat, seorang imam memimpin doa di alun-alun kota pusat, diikuti oleh pengunjuk rasa yang menyanyikan lagu kebangsaan dan meniup tanduk vuvuzela. Banyak plakat ditampilkan bertuliskan slogan anti-pemerintah.

Protes tersebut sebagai lanjutan demonstrasi pada 5 Juni yang diselenggarakan oleh koalisi kelompok oposisi yang baru dibentuk.

Keita, 75, telah didesak untuk membuat beberapa konsesi dalam beberapa hari terakhir sebagai tanggapan atas meningkatnya kecaman, seperti menaikkan gaji guru-guru publik setelah sengketa pembayaran yang berlangsung lama. Dia juga berjanji untuk memberlakukan banyak reformasi, termasuk membentuk pemerintah persatuan baru yang akan mencakup tokoh-tokoh oposisi.

Namun upayanya untuk menenangkan lawan tampaknya gagal. Protes hari Jumat akan berjalan terus apa pun yang terjadi.

Mamadou Diakite, seorang guru berusia 42 tahun yang ikut dalam aksi mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa Keita harus mundur.

“Kami di sini untuk kemenangan terakhir, tidak ada negosiasi yang mungkin,” katanya.

Menajamnya perpecahan politik di Mali mengkhawatirkan tetangga negara itu, yang khawatir ketidakstabilan lebih lanjut dapat semakin mengobarkan situasi yang sudah bergejolak, yang telah membawa Burkina Faso dan Niger ke dalam krisis dan mengancam untuk mencapai lebih jauh ke selatan ke pantai negara-negara Afrika Barat.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Ibas Fuadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat