... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Riset IDEAS: Pemberlakuan New Normal Harus Berbasis Risiko Daerah

Foto: Kampanye new normal. (Foto: Pikiran Rakyat Depok)

KIBLAT.NET, Jakarta – Pemerintah Indonesia memang menyatakan bahwa new normal hanya diadopsi oleh daerah dengan angka reproduksi virus (Rt) dibawah 1, yang mengindikasikan tingkat penularan yang telah terkendali, sehingga diyakini tidak akan terjadi lonjakan kasus Covid-19 meski masyarakat melakukan aktivitas secara normal. Namun beberapa pihak meyakini statistik Rt di Indonesia tidak akurat terkait rendahnya kualitas data.

Kapasitas pengujian yang rendah dan waktu pelaporan dari pengujian yang sangat lama, dikombinasikan dengan kemampuan yang rendah dalam identifikasi dan karantina kontak erat dari kasus, membuat estimasi Rt menjadi bias dan cenderung overestimate.

Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memandang bahwa perlu ada indikator yang lebih tepat untuk menggambarkan kesiapan daerah dalam mengadopsi new normal yaitu berdasarkan karakteristik daerah yang menjadi sumber penyebaran Covid-19.

“IDEAS mengidentifikasi tiga determinan resiko penyebaran Covid-19 Kabupaten-Kota, yaitu interaksi sosial, keterpaparan eksternal dan mobilitas penduduk,” ungkap Fajri Azhari, peneliti IDEAS, pada acara diskusi online pemaparan hasil riset #IDEASTalk yang bertajuk “Pertaruhan New Normal di Tengah Pandemi” di Jakarta, Selasa (16/06/2020).

Fajri menjelaskan faktor penentu pertama yaitu interaksi sosial, di mana berperan signifikan dalam penyebaran Covid-19 karena mendorong intensitas kontak dan kedekatan fisik antar penduduk. Dia membagi interaksi sosial dengan dua variabel yaitu kepadatan penduduk dan ukuran populasi suatu wilayah.

Kepadatan penduduk tertinggi didominasi daerah perkotaan, terutama kota-kota besar di Jawa. Sedangkan ukuran populasi tertinggi didominasi kota besar dan daerah pedesaan penyangga metropolitan, terutama di Jawa.

“Dengan berakhirnya PSBB, menjadi tantangan besar untuk terus menjaga pembatasan sosial terutama di metropolitan utama Jawa yang kini merupakan episentrum wabah, demi melindungi lebih dari 150 juta penduduk Jawa,” kata Fajri.

Faktor penentu penyebaran wabah Covid-19 yang kedua adalah keterpaparan eksternal, dimana suatu daerah menarik minat kedatangan penduduk dari luar wilayah karena daya tarik yang dimiliki daerah tersebut.

BACA JUGA  Ahok Lelang Batik yang Dikenakan Saat Sidang, Ditawar Sampai Rp 100 Juta

“Arus masuk pelancong dan pendatang yang tinggi, lintas daerah dan bahkan lintas negara, membuat suatu daerah rentan menjadi klaster penyebaran Covid-19. Kami membagi keterpaparan eksternal ini dengan 2 variabel yaitu ukuran sektor pariwisata dan kekayaan sumber daya alam,” ujar Fajri.

Daerah dengan ukuran sektor pariwisata yang besar, diukur dari pangsa tenaga kerja yang bekerja di sektor akomodasi dan penyediaan makan-minum, didominasi oleh daerah-daerah di destinasi wisata utama nasional seperti Bali dan Yogyakarta.

Serupa dengan daerah wisata, daerah dengan kekayaan SDA yang berlimpah cenderung menarik investasi dan tenaga kerja dari luar wilayah, bahkan menarik investasi dan tenaga kerja asing. Daerah kaya SDA ini didominasi oleh daerah sentra tambang migas dan batu bara seperti Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Papua.

“Inilah sebab banyak daerah di luar Jawa meski memiliki kepadatan penduduk yang rendah, tetapi memiliki resiko penyebaran Covid-19 yang tinggi. Seperti kabupaten Mimika dimana PT Freeport berlokasi, tercatat menjadi episentrum wabah di Papua Barat. Kota Denpasar yang merupakan gerbang Bali sebagai destinasi wisata dunia, menjadi episentrum wabah di Bali,” tutur Fajri.

Faktor penentu penyebaran Covid-19 terakhir adalah mobilitas penduduk. Mobilitas penduduk baik yang dilakukan secara rutin maupun insidental dominan dipengaruhi oleh aktivitas bekerja. Mobilitas akibat motivasi ekonomi ini adalah sumber penyebaran Covid-19 yang signifikan terkait frekuensi dan jumlah pergerakan manusia-nya.

“Daerah dengan mobilitas penduduk yang sangat tinggi ini didominasi oleh kawasan aglomerasi, dimana kota inti menjadi pusat bisnis dengan daerah penyangga menjadi kawasan pemukiman. Hal ini menjadi sumber utama tingginya jumlah perjalanan harian, seperti di Jabodetabek, Surabaya Raya, Bandung Raya dan Medan Raya,” tutur Fajri.

IDEAS membagi mobilitas penduduk ini dengan tiga variabel, yaitu penduduk yang bekerja di luar wilayah, penduduk daerah lain yang bekerja di dalam wilayah, dan penduduk yang bermigrasi ke daerah lain.

BACA JUGA  Kemenag Tengah Siapkan Inovasi, Daftar Haji Bisa Secara Daring

Sebagai contoh, 472 ribu penduduk Kota Bekasi dan 462 ribu penduduk Kota Depok pulang dan pergi setiap hari untuk bekerja ke luar wilayah. Sementara itu, Jakarta Selatan setiap hari menjadi tujuan dari 777 ribu orang dari daerah lain yang bekerja di wilayah Jakarta Selatan.

Peneliti IDEAS lainnya, Febbi Meidawati menyimpulkan dengan perbedaan tingkat resiko penyebaran Covid-19 antar daerah, maka menjadi penting untuk mendesain new normal yang berbeda antar daerah sesuai tingkat resiko penyebaran Covid-19. Semakin tinggi tingkat resiko penyebaran Covid-19 suatu daerah, semakin ketat protokol new normal yang harus diadopsi oleh daerah tersebut.

“Protokol new normal dasar untuk semua daerah meliputi mengenakan masker wajah dan face shield, kebiasaan mencuci tangan dan jaga jarak aman fisik. Protokol new normal untuk semua daerah lainnya adalah peningkatan kapasitas pengujian serta pelacakan dan karantina kontak erat kasus (tracing, red.) secara masif,” kata Febbi dalam kesempatan yang sama.

Dia menambahkan untuk daerah dengan tingkat resiko lebih tinggi, maka protokol new normal yang lebih ketat harus diberlakukan. Misal, untuk daerah dengan resiko tinggi seperti kawasan perkotaan, sekolah tetap harus diliburkan (school from home). Untuk kawasan aglomerasi – metropolitan terutama di Jawa, bahkan perkantoran dan pabrik pun tetap harus diliburkan (work from home). Protokol ini terus dilakukan hingga wabah benar-benar reda atau vaksin telah ditemukan.

“Peran pemerintah daerah menjadi krusial untuk menetapkan tingkat resiko penyebaran Covid-19 ini. Dengan lebih memahami kondisi riil epidemiologi dan kapasitas sistem kesehatan daerah, pemerintah daerah dapat menentukan protokol new normal mana yang paling sesuai untuk daerah mereka. Jangan pernah bertaruh dengan keselamatan masyarakat,” tutup Febbi.

Reporter: Azzam Diponegoro
Editor: Rusydan Abdul Hadi


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Arab Saudi

Arab Saudi Imbau Dunia Internasional Cegah Aneksasi Israel

Kabinet Arab Saudi pada hari Selasa meminta masyarakat internasional untuk mencegah Israel dari perilaku agresifnya, yang mengancam stabilitas regional.

Rabu, 17/06/2020 18:26 0

Inggris

Kelompok Sayap Kanan Bentrok dengan Demonstran BLM di Inggris

Para pemimpin dari komunitas Muslim Inggris telah menyatakan kekecewaan mereka pada pawai sayap kanan yang berlangsung di London pada hari Ahad.

Rabu, 17/06/2020 13:46 0

India

Konflik Perbatasan India-Cina: 20 Tentara Tewas

Hubungan antara Cina dan India telah lama berduri. India dan Cina terlibat perang perbatasan singkat pada tahun 1962, dan tidak dapat menyelesaikan perselisihan perbatasan mereka meskipun pembicaraan telah menyebar selama dua dekade

Rabu, 17/06/2020 13:39 0

Artikel

Peluang di Balik Wabah Corona Memang Ada, Tapi Masih Sebatas “Awang-Awang”

Fahmi Suwaidi memang memaparkan dengan baik terkait banyaknya korban dan kerugian luar biasa yang dialami para penguasa Eropa di kala itu sebagai titik persamaan. Namun patut disayangkan, sejatinya banyak hal-hal yang lebih subtansial yang luput dituliskan.

Rabu, 17/06/2020 07:40 0

Amerika

Baru Sembuh Dari Covid-19, Kakek 70 Tahun Kaget Ditagih Biaya Perawatan 15 Miliar

Setelah dinyatakan sembuh, Flor harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit setebal 81 halaman

Selasa, 16/06/2020 15:14 0

Palestina

Hamas Seru Palestina Bersatu Lawan Aneksasi Israel

KIBLAT.NET, Gaza – Gerakan perlawanan Palestina Hamas, Senin (15/06/2020), menyerukan persatuan di antara Palestina dan...

Selasa, 16/06/2020 05:56 0

Eropa

Presiden Polandia Samakan Ideologi LGBT dengan Komunisme

Dia mengatakan generasi orang tuanya telah berjuang melawan ideologi komunis selama 40 tahun dan "mereka tidak memperjuangkan ini sehingga muncul ideologi baru yang bahkan lebih destruktif".

Senin, 15/06/2020 05:36 0

Palestina

Empat Strategi Hamas Hadapi Rencana Aneksasi Israel

"Kita berada di depan tahap paling berbahaya dalam konflik ini, tetapi ini adalah yang paling dekat dengan kemenangan dan pembebasan," ujar Haniyeh.

Senin, 15/06/2020 05:22 0

Info Event

Ikuti! Webinar Islamisasi Sains dan Pengaruhnya Hari Ini Bersama ITJ Bekasi

bagaimana sejarah Islamisasi Sains yang sesungguhnya dan bagaimana pengaruhnya hingga hari ini?

Ahad, 14/06/2020 22:18 0

Close