... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Peluang di Balik Wabah Corona Memang Ada, Tapi Masih Sebatas “Awang-Awang”

Foto: Wabah Corona

Peluang di Balik Wabah Corona Memang Ada, Tapi Masih Sebatas “Awang-Awang”

Sebuah Tanggapan untuk Fahmi Suwaidi

Oleh: Azzam Diponegoro

KIBLAT.NET – Pada 22 Maret 2020, Kiblat.net memuat tulisan Fahmi Suwaidi di kolom analisis yang berjudul Peluang di Balik Wabah Corona, Pelajaran dari Jatuhnya Konstantinopel. Pada bagian awal tulisan tersebut, Fahmi Suwaidi menyampaikan bahwa wabah corona telah menimbulkan kepanikan dan ketakutan. Namun, terlepas dari bahaya dan kerugian yang ditimbulkan, sejarah mencatat bahwa wabah besar yang melanda dunia ternyata membawa manfaat dari sisi lain. Termasuk bagi penaklukan Kota Konstantinopel dari tangan Romawi oleh pasukan Khilafah Utsmaniyah Turki yang dipimpin Sultan Muhammad Al-Fatih.

Melalui tulisan tersebut, Fahmi Suwaidi seolah mencoba melakukan qiyas antara The Black Death yang menghancurkan Eropa di abad keempat belas dengan wabah corona yang terjadi. Jika dalam disiplin ushul fikih, qiyas memerlukan  persamaan illat (sebab hukum), maka begitu pula dalam hal ini.

Fahmi Suwaidi memang memaparkan dengan baik terkait banyaknya korban dan kerugian luar biasa yang dialami para penguasa Eropa di kala itu sebagai titik persamaan. Namun patut disayangkan, sejatinya banyak hal-hal yang lebih subtansial yang luput dituliskan. Hal-hal yang lebih diperlukan untuk melandasi bangunan qiyas-nya ketimbang sekedar mencatat angka-angka kematian.

Ketika melihat fakta bahwa Sultan Muhammad Al Fatih menjadikan The Black Death sebagai momentum untuk menaklukan Kontantinopel. Maka ada satu pertanyaan yang perlu dijawab: apakah The Black Death tidak menyerang wilayah Ottoman? Pertanyaan tersebut mengandung dua kemungkinan jawaban, pertama memang wilayah Ottoman tidak terjangkit atau kemungkinan kedua kekhilafahan Ottoman telah berhasil mengatasi wabah tersebut sehingga bisa terfokus kembali memobilisasi pasukan untuk misi penaklukan.

Sayang, dua kemungkinan jawaban tersebut tidak dituliskan Fahmi Suwaidi. Padahal jika dituliskan, akan menjadi sebuah penanda yang jelas. Mengingat wabah corona menyerang hampir seluruh wilayah di dunia. Hingga tulisan ini dinaikkan, hanya Korea Utara dan negara-negara kecil -yang jarang kita dengar namanya- semacam Kiribati, Tuvalu, Tonga yang dikabarkan tidak terserang wabah corona. Tentu sangat tidak mungkin, umat Islam memobilisasi kekuatan dari wilayah-wilayah tersebut.

BACA JUGA  Buku Memoar John Bolton Ungkap Kamp Konsentrasi Uighur Disetujui Trump

Dua kemungkinan jawaban tersebut juga bisa menjadi dasar yang kuat untuk premis selanjutnya. Di mana Fahmi menarik garis persamaan antara melemahnya kekuatan militer Byzantium akibat The Black Death dengan melemahnya kekuatan TNI akibat tsunami Aceh sehingga terciptalah perjanjian Helsinski.

Pernyataan bahwa kekuatan TNI pasca tsunami Aceh melemah dan hal itu merupakan faktor pendorong perjanjian Helsinki sejatinya juga perlu dibuktikan. Dan di sini Fahmi Suwaidi tidak menyertakan pendapat siapapun yang otoritatif untuk berbicara terkait hal tersebut sebagai penguat argumennya.

Tsunami Aceh memang sedikit banyak mempengaruhi TNI untuk mengakhiri operasi militer di Aceh. Namun sepengetahuan penulis, sebagai sebuah institusi pertahanan untuk negara bernama Indonesia kekuatan TNI tidak bisa disimpulkan melemah begitu saja. Justru secara kasat mata, kekuatan GAM yang sudah pasti melemah karena basis teritori mereka dihempas tsunami.

Darmansjah Djumala dalam “Soft Power untuk Aceh: Resolusi Konflik dan Politik Desentralisasi” memang menyebutkan bahwa Pemerintah Indonesia merasa mustahil dapat membangun Aceh dari kehancuran fisik bila masih berkonflik dengan GAM.

Namun di sisi lain, situasi GAM lebih tidak menguntungkan. Bila melanjutkan konflik, tulis Darmansjah, GAM akan kehilangan simpati dari rakyat Aceh dan mereka juga akan dikecam lembaga-lembaga internasional yang banyak menyalurkan bantuan setelah tsunami Aceh.

Meskipun tsunami berhasi mengetuk nurani kedua belah pihak untuk berdamai, namun bukan berarti kontak senjata usai. Laporan detik.com tanggal 11 Januari 2005 menyebutkan dalam rentang waktu dua pekan pasca tsunami terjadi 34 kali kontak senjata antara TNI dengan GAM. Dari serangkaian kontak senjata tersebut 101 anggota GAM dan 1 anggota TNI tewas.

BACA JUGA  Tujuh Kata, 'Jimat' Paling Ditakuti Oleh Komunis

Dilihat dari jumlah korban tewas, rasanya cukup gegabah untuk menyimpulkan kekuatan TNI melemah. Kalaupun melemah, kondisinya tidak selemah pasukan Byzantium pasca The Black Death.

Dalam premis selanjutnya, Fahmi Suwaidi menyebutkan wabah corona telah melemahkan negara-negara adidaya seperti China, Amerika, dan India. Dan kini mereka sedang sibuk menghadapi corona ketimbang menindas pihak-pihak yang mereka katakan sebagai teroris. Kondisi tersebut, menurut Fahmi bisa menjadi peluang bisa menjadi momentum penyeimbang kekuatan musuh yang sangat jauh dibandingkan umat Islam dan mujahidin.

Premis tersebut memang benar dan bisa diterima oleh akal sehat, namun masalahnya umat Islam dalam konteks kekinian adalah umat Islam yang tidak bisa hidup tanpa negara. Yang artinya ketika negara mereka lemah maka kondisi mereka dapat dipastikan lebih lemah.

Lalu ketika premis tersebut dilempar dalam ruang geopolitik bernama Indonesia. Maka akan menimbulkan sebuah diskusi panjang dan melelahkan terkait siapa itu musuh dan siapa itu mujahidin. Tentu hal ini menjadi tidak tepat untuk dibicarakan di tengah-tengah umat yang sewaktu-waktu dapat terserang wabah.

Di sisi lain, kelompok-kelompok yang lebih mapan yang mengusung ideologi jihad seperti Taliban juga sama sibuknya. Mereka harus mengerahkan tenaga untuk menghadapi corona demi memenangkan hati dan pikiran penduduk daerah kekuasaannya.

Maka, menurut penilaian subyektif penulis, mengambil potret penaklukan konstantinopel sebagai motivasi untuk sebuah tindakan tertentu di masa wabah corona agaknya kurang relevan dan rasanya masih terlalu jauh.

Menyimpulkan bahwa musuh sedang lemah maka ini momen kita untuk menang adalah sebentuk potong kompas. Karena kita lupa bahwa jauh sebelum musuh -anggaplah kita sudah sepakati siapa musuh itu- melemah kondisi umat Islam sudah lemah dan semakin melemah akibat wabah.

Jadi, peluang penaklukan di balik wabah corona memang ada, tapi masih sebatas “awang-awang”.

 

 


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Abu Rara Penusuk Wiranto Dituntut 16 Tahun Penjara

Kejaksaan Negeri Jakarta Barat telah membacakan tuntutan terhadap tiga terdakwa penusuk Ketua Wantimpres Wiranto.

Rabu, 17/06/2020 07:20 0

Indonesia

Penyiram Novel Baswedan Hanya Dituntut 1 Tahun Penjara, DPR Akan Panggil Kejaksaan

Dasco mengatakan bahwa Komisi Hukum akan segera memanggil Kejaksaan RI, atas kasus yang menimpa Novel

Selasa, 16/06/2020 10:42 0

Indonesia

PKS Minta RUU HIP Dibatalkan Jika Tak Ada Perbaikan Fundamental

Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini menegaskan Fraksinya akan memperjuangkan aspirasi ormas dan masyarakat luas yang keberatan RUU HIP tetap dilanjutkan

Selasa, 16/06/2020 10:30 0

Indonesia

Haji 2020 Dibatalkan Pemerintah, 278 Jemaah Ajukan Pengembalian Dana

Proses pengembalian setoran pelunasan telah dibuka sejak 3 Juni 2020.

Selasa, 16/06/2020 10:19 0

Palestina

Hamas Seru Palestina Bersatu Lawan Aneksasi Israel

KIBLAT.NET, Gaza – Gerakan perlawanan Palestina Hamas, Senin (15/06/2020), menyerukan persatuan di antara Palestina dan...

Selasa, 16/06/2020 05:56 0

Eropa

Presiden Polandia Samakan Ideologi LGBT dengan Komunisme

Dia mengatakan generasi orang tuanya telah berjuang melawan ideologi komunis selama 40 tahun dan "mereka tidak memperjuangkan ini sehingga muncul ideologi baru yang bahkan lebih destruktif".

Senin, 15/06/2020 05:36 0

Palestina

Empat Strategi Hamas Hadapi Rencana Aneksasi Israel

"Kita berada di depan tahap paling berbahaya dalam konflik ini, tetapi ini adalah yang paling dekat dengan kemenangan dan pembebasan," ujar Haniyeh.

Senin, 15/06/2020 05:22 0

Info Event

Ikuti! Webinar Islamisasi Sains dan Pengaruhnya Hari Ini Bersama ITJ Bekasi

bagaimana sejarah Islamisasi Sains yang sesungguhnya dan bagaimana pengaruhnya hingga hari ini?

Ahad, 14/06/2020 22:18 0

Indonesia

DSKS Tolak RUU HIP Jadi Undang-undang

Divisi Advokasi Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Endro Sudarsono menolak disahkannya RUU Halauan Ideologi Pancasila.

Ahad, 14/06/2020 22:12 0

Close