... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Ghazwatul Hindi: Cina, Ancaman Terbesar Muslim Asia (Bag. 2)

Foto: Pemimpin India Narendra Modi dan Pemimpin CIna Xi Jinping tengah berdiskusi.

Oleh: Fahmi Suwaidi Pengamat dunia Islam

Tulisan ini sambungan dari tulisan sebelumnya

KIBLAT.NET – Apakah hubungan Al-Hindi dan Cina? Peran Cina sebagai leader Hindi mirip dengan peran Amerika sebagai pemimpin peradaban Rum.

Hari-hari ini dunia menyaksikan lebih 140 kota di Amerika Serikat, termasuk ibukota Washington dan gedung Putih dikepung demonstran. Mereka memprotes kematian seorang kulit hitam bernama George Floyd oleh kekejaman polisi. Lebih dari 9000 orang telah ditangkap karena protes yang diwarnai kerusuhan itu.

Sebuah fenomena menarik, “hanya” karena kematian seorang berkulit hitam, Amerika dilanda demonstrasi besar-besaran di tengah pandemi Corona yang telah menewaskan ratusan ribu penduduknya. Seolah bangsa Amerika tak peduli kemungkinan penularan wabah demi menuntut keadilan.

Benarlah analisis sahabat Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu ketika beliau menyebut ada lima kebaikan Rum sebagai sebuah bangsa. Menurutnya, Rum adalah kaum yang paling berani menggugat penguasa zhalim, paling penyantun pada golongan yang lemah, paling bijak dalam situasi bencana, paling cepat kembali dari kekalahan, paling cepat pulih dari bencana.

Kebaikan-kebaikan karakter itu membuat Rum selalu eksis sampai hari kiamat. Sekaligus akan selalu menjadi musuh yang tangguh bagi kaum Muslimin. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihiwasallam, bahwa sampai kiamat tiba kaum Muslimin akan terus terlibat peperangan dengan bangsa Rum.

Rum pernah eksis sebagai bangsa Romawi barat yang mendirikan imperiumnya di Roma, kini menjadi ibukota Italia. Sampai imperium itu runtuh pada tahun 476 M setelah serbuan bangsa Visigoth dan Vandal. Namun, peradaban Rum berlanjut sebagai Imperium Byzantium, yang berawal dari pecahan Romawi yang beribukota di Konstantinopel atau Istanbul Turki hari ini.

Byzantium akhirnya dikuasai oleh umat Islam pada tahun 1453 M  namun peradaban Rum kembali ke Eropa dalam bentuk kepausan (papal state) yang membawahi kerajaan-kerajaan Kristen Eropa. Kemudian pada masa berikutnya Rum menguasai dunia dengan kolonialisme.

Pewaris Rum yang paling terkemuka adalah kerajaan Inggris atau Britania Raya. Namun, setelah Perang Dunia II, pamor Inggris memudar. Kepemimpinan peradaban Rum digantikan oleh Amerika Serikat hingga hari ini.

Kini Amerika mulai menunjukkan kelemahan dengan kekalahan di Afghanistan melawan Mujahidin Taliban. Krisis ekonomi yang mulai mencekik, dan kekacauan di dalam negeri akibat aneka kerusakan moral dan budaya. Termasuk kerusuhan terkini akibat rasialisme dan kezhaliman aparat pada warga kulit hitam.

Merujuk karakter Rum yang cepat pulih dari bencana dan kekalahan, bisa jadi Amerika akan pulih kembali kekuatannya. Namun andaikata Amerika Serikat juga runtuh, peran kepemimpinan Rum pasti akan diambil alih oleh bangsa Rum lainnya. Sampai kiamat tiba peradaban Rum akan selalu ada sebagai rival terberat kaum Muslimin.

Penulis mencoba berteori bahwa Rum bukanlah bangsa yang beretnis tunggal. Namun sebuah sistem peradaban dengan ideologi dan kekuasaan yang berbasis pada paganisme Romawi yang dicelup dengan Kristen dan dicirikan kekuatan militer. Adapun pembawa benderanya silih berganti, dari bangsa Roma Italia, Byzantium, Inggris sampai Amerika hari ini.

Asal Rum memang dari Roma, tapi perkembangannya hari ini begitu luas. Yaitu Eropa dan Amerika Serikat. Bahkan Turki modern yang dibajak Mustafa Kemal dari  sisa Khilafah Utsmani pun kini bergabung dengan aliansi militer mereka, yaitu NATO. Bahkan Turki hari ini berdiri di atas wilayah bekas Rum Byzantium.

Dahulu Rasulullah dan para sahabat mengenali Rum pada era kepemimpinan Byzantium. Namun Rasulullah juga menubuwwahkan tentang penaklukan Roma di akhir zaman. Padahal waktu itu Rum barat sudah runtuh sebagai kerajaan besar.

BACA JUGA  Sidang Perdata Yusuf Mansur: Saksi Ungkap Fakta Menarik

Cina Sebagai al-Hindi

Nah, apa hubungan antara peran Amerika sebagai pemimpin Rum dengan Cina dan al-Hindi? Jika kita bisa menerima bahwa pemimpin Rum hari ini adalah Amerika Serikat, bukannya Italia, maka pemimpin Al-Hindi hari ini bisa saja bukan India. Melainkan Cina! Lalu apa bukti-buktinya?

Pertama, secara aqidah Cina menjadi pengusung bendera kekufuran dan syirik dalam level yang “paripurna.” Penafian terhadap tuhan, dalam bentuk atheisme dan komunisme, memang menjadi paham resmi negara. Namun dalam prakteknya, tak semua penduduknya atheis.

Wikipedia mencatat bahwa dari 1,4 miliar lebih penduduknya, hanya sekitar 200 juta orang yang mengaku sebagai atheis. Namun mereka menguasai negeri dengan Rejim Komunis saat ini. Sisanya memeluk aneka keyakinan dengan pemeluk terbanyak Budhisme, Konfusiusme dan Taoisme.

Budhisme dan Taoisme berakar dari India. Sang Budha memang lahir di negeri Hindi. Sementara Laozi, pendiri Taoisme yang didewakan pengikutnya memiliki kemiripan ajaran dengan agama India itu. Bahkan legenda mengisahkan ia pernah berkelana di India.

Dalam tulisan lalu, penulis telah memaparkan analisis bahwa Al-Hindi yang akan diperangi sekelompok Muslim adalah kaum Musyrikin yang akar ideologinya dari India namun telah menyebar ke banyak negeri. Batas utamanya adalah negeri-negeri Kristen (mereka masuk kategori Rum) dan Samudera Hindia maupun Pasifik. Namun penyebaran terluasnya ada di negeri-negeri kawasan Samudera Hindia.

Garis merah yang menghubungkan semua hotspot konflik Muslim versus kafir di kawasan itu ada dua. Pertama, sejarah pengaruh Al-Hindi dari India di masa lalu. Yang kedua, pengaruh Republik Rakyat Cina pada masa kini.

India sebagai cikal bakal peradaban Al-Hindi menjadi bumi yang subur untuk ribuan agama. Beragam dewa, tanda alam seperti Sungai Gangga, bahkan binatang-binatang yang disucikan seperti sapi, menjadi sesembahan penduduk negeri itu.

Hari ini kita mengenal Hindu sebagai agama terbesar di India. Namun, jarang yang tahu bahwa Hinduisme adalah konstruksi resmi administrasi Inggris ketika menjajah negeri itu. padahal itulah pendapat para ilmuwan Barat tentang agama resmi itu.

David N. Lorenzen adalah seorang sarjana studi agama, penulis, dan profesor Sejarah Asia Selatan di Pusat Studi Asia dan Afrika, El Colegio de México. Dalam karyanya yang berjudul Siapa yang Menemukan Hinduisme? (Who Invented Hinduism?) , ia menyimpulkan sebagai berikut:

“Selama dekade terakhir, banyak cendekiawan telah mengajukan klaim bahwa Hinduisme dibangun, diciptakan, atau dibayangkan oleh para sarjana dan administrator kolonial Inggris pada abad ke-19. Hinduisme tidak ada, dalam makna yang berarti, sebelum masa itu.

Di antara para sarjana yang telah mengajukan argumen konstruksionis ini adalah Vasudha Dalmia, Robert Frykenberg, Christopher Fuller, John Hawley, Gerald Larson, Harjot Oberoi, Brian Smith, dan Heinrich von Stietencron. W. C. Smith adalah perintis yang patut dicatat dari para sarjana ini.”

Ketika menjajah India, Kerajaan Inggris menggunakan administrasi modern untuk menentukan identitas penduduk. Sensus dan lembaga kategorisasi lainnya menunjukkan definisi Inggris yang unik tentang Hinduisme. Yaitu penganut agama selain Kristen, Yahudi atau Muslim.

Konsep ini dipertahankan dalam hukum India, bahkan setelah merdeka dari Inggris. Seperti yang diperlihatkan Kind, “Undang-Undang Perkawinan Hindu 1955, bagian 2 (1) mendefinisikan seorang ‘Hindu’ sebagai kategori yang meliputi  tidak hanya semua umat Buddha, Jain, dan Sikh tetapi juga siapa saja yang bukan Muslim, Kristen, Parsee, atau Yahudi.”

BACA JUGA  Sidang Perdata Yusuf Mansur: Saksi Ungkap Fakta Menarik

Dengan paradigma warisan Inggris ini, Budhisme dan Taoisme di Cina pun bisa masuk dalam kategori “Hinduisme.” Secara historis maupun kedekatan semuanya terkait dan banyak kemiripan. Hal ini semakin memerkuat pemetaan Cina sebagai bagian dari peradaban al-Hindi.

Faktor Kekinian

Kedua, tak hanya historis dan ideologis, kondisi kekinian Cina juga menguatkan perannya sebagai bagian utama kekuatan peradaban al-Hindi yang akan berhadapan dan berbenturan dengan Islam. Secara politik dan ekonomi, kini Cina menjadi kekuatan dominan di Asia, Afrika, bahkan dunia. Dalam posisi berpengaruh besar itu, ternyata sikap Cina kepada Islam dan umat Islam cenderung memusuhi.

Jika India menindas Muslim Kashmir, maka Cina menindas Muslim Uighur di dalam negerinya. Tak hanya Uighur, Cina melebarkan front konfliknya dengan Muslim di berbagai negeri lain. Rejim-rejim penindas Muslim di Myanmar dan Thailand, bahkan juga di Indonesia, menjadi klien utama Beijing.

Dukungan Cina terhadap Myanmar, yang melakukan genosida pada Muslim Rohingya, bukan sekedar ekonomi. Melainkan juga militer dan politik internasional. Cina selalu menjadi pembela Myanmar saat menghadapi ancaman sanksi PBB karena pelanggaran HAM berat pada Muslim Rohingya.

Peta relasi dan choke point India-Cina.

Sementara Thailand, tak sekedar memiliki kesamaan agama Budha namun secara etnis memiliki komunitas Cina terbesar di luar Cina Daratan. Meski lebih dikenal sebagai klien Amerika, pengaruh Cina di negeri gajah putih terus membesar dari hari ke hari.

Thailand hingga kini menguasai wilayah Muslim Patani di selatan. Meski tak terlalu besar, api perlawanan Islam terus menyala di kawasan bekas kesultanan Islam itu. Penduduknya tak hanya dicengkeram secara militer, namun juga menghadapi ancaman genosida budaya berupa Siamisasi.

Sementara di Indonesia, siapa ingin jadi penguasa, ia harus menjadikan Cina sebagai patronnya. Dukungan politik Cina bagi penguasa lokal hampir sama kuatnya, bahkan hampir melampaui, dukungan Amerika di masa lalu. Terutama karena stabilitas ekonomi dikendalikan oleh para taipan yang kebanyakan beretnis Cina.

Secara militer, Cina kini masuk ranking pertama di Asia, ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Rusia. Secara umum pengaruh Cina lebih kuat daripada India. India memang asal muasal al-Hindi, namun Cina adalah leader-nya.

Saat ini konflik perbatasan yang menghadapkan militer Cina dan India di dataran Ladakh seolah menjadi perlombaan final. Jika Cina memenangkan konflik itu, secara militer maupun diplomatik, maka posisinya sebagai pemimpin peradaban Hindi semakin jelas.

Yang menarik, dalam konfliknya melawan India, Cina tak segan merangkul Pakistan. Negeri Muslim yang menjadi musuh bebuyutan India. Hal ini menunjukkan karakter lain Cina yang pragmatis dalam menjaga kepentingannya.

Dalam peradaban al-Hindi, posisi Cina dibandingkan India mirip seperti Amerika Serikat dibandingkan Italia dan Vatikan hari ini. Rum memang berasal dari Roma, namun Washington adalah leader-nya hari ini.

Maka tak berlebihan kalau dikatakan, Hindi memang dari India, tetapi leader-nya hari ini adalah Cina. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa Cina dengan sikapnya kepada Muslim, di dalam dan luar negeri, menjadi ancaman terbesar bagi umat Islam di Asia.

Lalu, bagaimana kemungkinan peta konflik masa depan Cina dengan kaum Muslimin di kawasan. Terutama Indonesia yang posisinya unik, sangat dipengaruhi Cina namun berbatasan wilayah dengan Australia yang masuk kategori Rum? Bersambung

 

 


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Kajian StrateGISS: Moslem World After Covid-19

Dalam konteks hubungan antarnegara, pandemic Covid-19 sangat dipengaruhi oleh dua kekuatan dunia yang tengah memanas yakni AS vs China.

Senin, 08/06/2020 10:14 0

India

Kashmir Memanas Usai Tujuh Pejuang Gugur Dibunuh Pasukan India

Setidaknya lima pejuang gugur oleh pasukan India di Shopian, Kashmir. Pembunuhan yang terjadi pada hari Ahad itu memicu protes warga di daerah tersebut

Senin, 08/06/2020 10:08 0

Amerika

Covidiot? Sejumlah Warga AS Meminum Disinfektan untuk Tangkal Corona

Sebuah laporan baru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menunjukkan orang Amerika memasukkan disinfektan rumah tangga termasuk pemutih ke dalam tubuh karena percaya dapat menangkal virus corona

Senin, 08/06/2020 09:34 0

Suriah

Mendagri Turki Kunjungi Provinsi Idlib, Suriah

KIBLAT. NET, Idlib — Menteri Dalam Negeri Turki, Suleiman Soylu, mengunjungi provinsi Idlib, satu-satunya provinsi...

Senin, 08/06/2020 08:25 0

India

India dan China Sepakat Solusi Damai Dalam Sengketa Batas Perbatasan

KIBLAT. NET, New Delhi — Pemerintah India dan China sepakat penyelesaian damai dalam sengketa perbatasan...

Senin, 08/06/2020 07:23 0

Suriah

Warga Suriah Demo Kenaikan Harga, Protes Kehadiran Iran dan Rusia

Para demonstran telah mengangkat papan nama dengan slogan-slogan. Beberapa di antaranya berbunyi "jika sebuah rezim tidak dapat mengendalikan harga, maka ia harus mundur."

Senin, 08/06/2020 05:34 0

Indonesia

Ribuan Santri di Kota Bekasi Ikuti Rapid Test Corona

Menurut Irfan, rapid test massal ini digelar sebagai bentuk kepedulian dan perhatian kepada santri dan bagian dari upaya untuk menekan angka penyebaran virus Covid-19 ketika nanti mereka kembali ke pondok.

Senin, 08/06/2020 00:36 0

Qatar

Menlu Qatar: Kami Semakin Kuat Meski Diblokade Tiga Tahun

Qatar tetap berselisih dengan empat negara kawasan - Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir - sejak 5 Juni 2017.

Sabtu, 06/06/2020 07:35 0

Amerika

Petir Hantam Monumen Washington, 2 Penjaga Terluka Parah

KIBLAT.NET, Washington – Petir menghantam Washington DC pada Kamis (04/06/2020) malam ketika kota itu berada...

Sabtu, 06/06/2020 07:04 0

Singapura

Singapura Kembangkan Alat Pelacak Corona, Akan Dipakaikan ke Semua Warga

"Kami sedang mengembangkan dan akan segera meluncurkan perangkat portabel yang akan ... tidak tergantung pada kepemilikan smartphone," kata menteri luar negeri Vivian Balakrishnan kepada parlemen pada hari Jumat.

Jum'at, 05/06/2020 19:42 0

Close