Malcolm X: Figur Perlawanan Rasisme di AS

“Ada puluhan ribu jemaah haji dari seluruh dunia. Mereka semua berkulit berwarna, dari mata-biru berambut pirang hingga orang Afrika berkulit hitam, tetapi semua berpartisipasi dalam ritual yang sama, menampilkan semangat persatuan dan persaudaraan yang bertentangan dengan pengalamanku selama di Amerika membuatku percaya tak mungkin kulit putih dan bukan-putih bisa bersama.

Amerika perlu memahami Islam, karena ini adalah agama yang dapat menghapuskan masalah ras dari masyarakatnya.” (George Breitman : 1990)

Malcolm X, figur perlawanan rasisme kulit hitam di Amerika adalah sosok Muslim.

Masih dari surat yang sama, Malcolm X mengungkapkan konsepsi Islam memerangi rasialisme. Menurutnya, “Islam yang sejati memerangi rasisme, karena semua warna kulit dan ras menerima prinsip relijius (Islam) dan hanya tunduk pada satu Tuhan, Allah, sehingga secara otomatis menerima satu sama lain sebagai saudara laki-laki dan perempuan, tanpa melihat perbedaan corak.” (George Breitman : 1990)

Sepulangnya dari ibadah haji, di Chicago, ia berpidato mengemukakan penyesalannya:

“Di masa lalu, Aku telah mengizinkan diriku untuk terbiasa mendakwa semua kulit putih, dan generalisasi ini telah membuat sebagian orang kulit putih terluka, padahal mereka tidak layak menerimanya. Karena Aku diberkahi kelahiran kembali secara spiritual yang kudapatkan dari ibadah hajiku di Kota Suci Mekkah, aku tidak lagi memukul rata mendakwa ras apapun.” (George Breitman : 1990)

Malcolm X atau El Hajj Malik al-Shabazz, begitu namanya setelah berhaji, telah mendapatkan hidayah cahaya Islam dalam memandang persoalan rasialisme. Ia tak lagi merendahkan ras manapun demi melakukan perlawanan terhadap diskriminasi rasial warga kulit hitam.

Dalam suratnya dari Lagos, Nigeria, pada 10 Mei 1964, Malcolm X menulis; “Qur’an memerintahkan Muslim di seluruh dunia untuk berpihak pada hak manusia yang sedang dilanggar, apapun agama korbannya. Islam adalah agama yang mempedulikan hak azasi manusia dari segala jenis manusia, terlepas dari ras, warna, atau kredo. Islam memperhatikan semua sebagai bagian dari sebuah keluarga manusia.” (George Breitman : 1990)

Hari-hari berikutnya, Malcolm X menyerang sistem kapitalis sebagai sistem yang menyebabkan rasialisme. “Anda tak mungkin memiliki kapitalisme tanpa rasialisme,” demikian jelas Malcolm X pada wawancara di bulan Mei 1964.

Di kesempatan yang sama ia juga menyebutkan bahwa, “Anda tak bisa menjalankan sistem kapitalistik kecuali Anda pemangsa, dan anda harus menghisap darah orang lain untuk menjadi kapitalis. Tunjukkan padaku kapitalis, akan Aku tunjukkan penghisap darah.” (George Breitman : 1990)

BACA JUGA  Menlu Saudi: Biden Akan Membuat Hubungan Saudi-AS Semakin Baik

Hingga wafatnya Malcolm X dalam tragedi penembakan dirinya di tahun 1965, ia memang tak menjelaskan secara rinci dan sistematis bagaimana sistem kapitalistik itu menghasilkan rasialisme. Namun jika hal ini terjawab ketika kita menelaah penjelasan Michael C. Dawson dan Megan Ming dalam Black Politics and the Neoliberal Racial Order (2015).

Neoliberalisme melahirkan rasialisme

Pembingkaian warga kult hitam sebagai kaum miskin, tidak terdidik, dan erat dengan perilaku kriminal bukan tanpa sebab. Konstitusi AS memang menjamin hak dan perlakuan yang sama pada setiap warganya. Oleh sebab itu tak mengherankan jika sebagian figur publik kulit hitam seperti Barrack Obama atau rapper Jay-Z melihat kemiskinan yang melanda warga kulit hitam sebagai kegagalan individu dan budaya yang buruk. (Michael C. Dawson & Megan Ming: 2015)

Negara dengan sistem ekonomi neoliberalnya tidak mereka lihat sebagai satu sistem yang berdampak pada rasialisme di AS. Ideologi neoliberal yang menekankan ‘kebaikan’ pasar bebas dan konsumerisme, mengalihkan perhatian kita dari malapetaka yang disebabkan oleh keterkaitan antara paham supremasi kulit putih dan struktur ekonomi kapitalis. (Michael C. Dawson & Megan Ming: 2015)

Neoliberalisme telah memfasilitasi lahirnya dua elemen andalannya: kebijakan pemberantasan kriminalitas berdasarkan ras dan eksploitasi ekonomi. Sistem peradilan kriminal di AS secara signifikan telah membentuk berkembangnya tata rasial di Amerika. Di masa lalu, elit kulit putih memiliki otortias untuk membentuk hukum kriminal.

Hukum ‘Kejahatan negro’ seperti hukum jam malam, kontak kerja yang tak adil hingga mangkir dari pekerjaan telah menempatkan orang kulit hitam dalam kendali negara. Penjara segera dipenuhi orang kulit hitam. Seringkali mereka ditangkap berbulan-bulan tanpa proses peradilan atau mendapatkan bantuan hukum. (Michael C. Dawson & Megan Ming: 2015)

Populasi penjara yang membengkak membuat para tahanan menjadi pemasukan bagi pemerintah di negara bagian Selatan AS. Para tahanan ini disewakan kepada perusahaan swasta dan terlibat dalam pekerjaan seperti pembangunan jalur rel hingga pertambangan dan perkebunan.  (Michael C. Dawson & Megan Ming: 2015)

Di masa kini, di bawah slogan ‘hukum dan ketertiban’, kriminalisasi warna kulit hitam menjadi hal yang rutin. Orang kulit hitam lebih sering dihentikan aparat kepolisian di jalan. Menurut statsitik tahun 2011, di New York, kota yang penduduknya relative beragam, mengungkapkan bahwa 87% individu yang dihentikan dan ditanyai polisi adalah orang kulit hitam atau orang latin. (Michael C. Dawson & Megan Ming: 2015)

BACA JUGA  Innalilahi, Syekh Ali Jaber Meninggal Dunia

Studi Pew Center on the States tahun 2008 menunjukkan satu dari 15 pria kulit hitam dan 1 dari 30 orang latin di penjara. Statistik lainnya menunjukkan 1 dari 3 pria kulit hitam merasa mereka dapat dipenjara. Pemenjaraan massal ini tentu ada kaitannya. Penjara menjadi lahan basah bisnis. Kunci kebijakan dari sistem neoliberal adalah membuat penjara lebih berorientasi pada pasar (market-based). (Michael C. Dawson & Megan Ming: 2015)

Serangan rasisme terhadap orang kulit hitam di Amerika semakin meningkat di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Penjara menjadi rekanan perusahaan Fortune 500 seperti IBM, AT&T dan Bank of America untuk mempekerjakan para tahanan. Mereka menjadi buruh yang dibayar semurah mungkin. Di dalam penjara sendiri, semua hal dapat dieksploitasi menjadi keuntungan. Penyediaan makan, matras, selimut hingga layanan telepon dilepas pada penawar tertinggi. (Michael C. Dawson & Megan Ming: 2015)

Bahkan di AS, penjara pun diserahkan pada pihak swasta. Penjara swasta ini diperdagangkan sahamnya di Wall Street. Corrections Corporation of America (CCA), sekarang menjadi Corecivic, adalah penjara dengan nilai lebih dari 2 milliar dollar AS. (Michael C. Dawson & Megan Ming: 2015)

Laporan tahunan CCA tahun 2010 memberi jaminan pada pemegang saham mereka bahwa, “Kami percaya kami telah sukses dalam meningkatkan jumlah penhuni dalam pelayanan kami dan terus mengejar jumlah yang dituju untuk meningkatkan hunian dan pemasukan.” (Michael C. Dawson & Megan Ming: 2015)

Ideologi neoliberal menurut Michael C. Dawson, professor ilmu politik dari University of Chicago, telah menyediakan aturan yang (sekilas tampak) ‘raceless’, dikombinasikan dengan tingkat pengangguran yang massif dan penahanan terhadap warga miskin kulit hitam. (Michael C. Dawson & Megan Ming: 2015)

Rasialisme, kini, 55 tahun setelah wafatnya Malcolm X, hidup dalam jubah yang relatif aman. Terjaga dalam sistem yang disokong ideologi kapitalistik. Sehingga amat sulit menyingkirkan rasialisme di AS jika hanya berharap pada kesadaran individu, tanpa menyadari bahwa eksploitasi demi keuntungan finansial sebenarnya sedang berlansung mulus.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat