Malcolm X: Figur Perlawanan Rasisme di AS

Oleh: Beggy Rizkiansyah, kolumnis Kiblatnet

KIBLAT.NET – Jika saja peristiwa ini terjadi di negara yang kerap dituding terbelakang seperti Eropa timur atau Afrika, mungkin reaksi masyarakat global tidak akan seramai ini. Tetapi ini terjadi di Amerika Serikat. Negeri yang selalu mendapuk sebagai proyek percontohan demokrasi dan tempat bagi multi-etnis, yang selalu bersikeras mengekspor demokrasinya ke berbagai belahan dunia.

Tetapi faktanya dapat kita lihat secara telanjang. George Floyd, warga kulit hitam tewas menyedihkan setelah dianiaya oleh polisi kulit putih. Pria malang itu tercekik tak bisa bernafas diinjak oleh lutut polisi tersebut saat ditangkap. Video Floyd yang tengah memohon, merobek-robek rasa kemanusiaan siapapun, kecuali satu orang. Polisi yang menindih badannya.

Kematian Floyd memicu kerusuhan dan demontrasi besar-besaran di sejumlah wilayah AS. Mereka muak atas perilaku rasis yang kerap dipertontonkan aparat. Floyd bukan korban pertama dan kasus yang unik. Racial profiling ala kepolisian AS sudah lama dikecam. Eric Garner adalah korban yang mendahului Floyd. Kematiannya mendorong aksi demontrasi Black Lives Matter. Kasus kematian Garner yang juga mengiba dengan kata “I can’t breathe” nyatanya terjadi dibawah administrasi presiden kulit hitam pertama, Barrack Obama.

Hal ini membuktikan dua hal. Pertama, kasus rasialisme di AS bukan hal sepele. Ia mendarah daging sejak era perang kemerdekaan dalam semua lapisan masyarakat Amerika. Dari pejabat tinggi hingga level presiden, hingga petugas patroli di lapisan paling bawah. Tak ada yang menolak untuk berkata bahwa Donald Trump  presiden bermasalah. Tetapi masyarakat AS sebagiannya juga mengidap rasialisme akut.

Rasisme adalah potret kebobrokan sistem dalam negeri tersebut. Bukan saja tidak mampu menjamin hak hidup setara dan layak bagi warga kulit hitam, tetapi bahkan sistem politik demokrasi di AS mampu mengangkat seorang rasialis seperti Trump sebagai presiden.

Oleh sebab itu persoalan rasialisme di AS bukan sekedar hubungan antar warga, tetapi juga persoalan sistem yang akut. Kebobrokan di AS bukan saja berkutat seputar sistem peradilan saja. Tetapi berakar pada sistem ekonomi AS yang kapitalistik. Ikon pergerakan kulit hitam AS yang juga seorang tokoh muslim kelas dunia, Malcolm X menunjukkan hal ini.

Malcolm X menyebutkan bahwa hampir semua negara kolonialis berpaham ekonomi kapitalis. Dalam sebuah kesempatan di bulan Mei tahun 1964, Malcolm X menyebutkan bahwa,

BACA JUGA  Din Syamsuddin Nilai Pemanggilan Anies Oleh Polisi Tak Wajar

“Hampir semua negara penjajah besar adalah negara kapitalis, dan benteng terakhir kapitalisme saat ini adalah Amerika. Mustahil bagi orang kulit putih untuk percaya pada kapitalisme dan tidak bersikap rasis. Anda tak mungkin memiliki kapitalisme tanpa rasialisme.” (George Breitman : 1990)

Malcolm X dan perlawanan orang kulit hitam

Malcolm X mengetahui betul penderitaan warga kulit hitam di AS. Ia hidup dari lembah kemiskinan dan berakhir di penjara, seperti banyak warga kulit hitam lainnya. (Alex Haley: 1992)  Pada masanya hidup, rasialisme di AS menjadi begitu nyata sehingga ada pemisahan rasial di ruang publik.

Di penjara, Malcolm X mengenal Islam lewat pergerakan kulit hitam, Nation of Islam. Ia menjadi figur sentral dalam Nation of Islam. (Alex Haley: 1992)  Organisasi itu menjadi jalur Malcolm X mengenal Islam, meski bukan seluruhnya memberi gambaran yang benar tentang Islam. Nation of Islam mengkultuskan pemimpinnya, Elijah Muhammad. Namun sosok Elijah Muhammad menjadi mentor bagi Malcolm X.

Malcolm X.

Segera setelah keluar dari penjara, Malcolm X menjadi aktivis kulit hitam di AS. Pidato dan pernyataannya begitu menghentak. Retorikanya memukau. Ia menjadi corong bagi warga kulit hitam dan menyerang secara frontal diskriminasi rasial di AS.

Dalam pidatonya pada 10 November di Detroit, AS, Malcolm X menariknya menyebut betapa berpengaruhnya Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955. Konferensi itu menurut Malcolm adalah simbol persatuan kulit berwarna melawan hegemoni kulit putih.

“Di Bandung, kurasa tahun 1954 (Malcolm X keliru dalam mengingat tahunnya-pen), adalah pertemuan persatuan pertama selama berabad-abad dari orang kulit hitam. Dan ketika kamu mempelajari apa yang terjadi di konferensi Bandung, sesungguhnya (konferensi ) itu menjadi model untuk prosedur yang sama bagi kamu dan saya yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah kita. Di Bandung, semua negara berkumpul bersama, negara (berkulit) gelap dari Afrika dan Asia. Beberapa dari mereka orang Budha, beberapa Konfusianis, beberapa ateis. Terlepas dari perbedaan agama mereka, mereka berkumpul bersama.” (George Breitman : 1990)

Malcolm kemudian melanjutkan bahwa yang paling penting di KAA Bandung tidak boleh ada orang kulit putih. Malcolm menunjuk bahwa kulit putih memiliki teknologi senjata nuklir, tetapi para peserta KAA punya persatuan. Tentu saja Malcolm keliru. KAA tidak dimaksudkan sebagai pertemuan anti orang kulit putih. Serangan Malcolm pada kulit putih adalah bagian dari pemahamannya kala itu. Bahwa cara menentang diskriminasi rasial terhadap orang kulit hitam adalah dengan melawan kulit putih. Sebab hal ini menjadi bagian dari ‘ajaran Islam’ (yang keliru) dari Nation of Islam.

Terlepas dari kekeliruannya, Malcolm menunjukkan hipokritnya masayarakat AS saat itu. Perlawanan kulit hitam selalu disalahkan apabila terjadi lewat kekerasan. Padahal itu juga dilakukan orang kulit putih. Orang kulit putih menyuruh orang kulit hitam untuk berperang, di Jerman, Jepang, Korea.

BACA JUGA  Dugaan Penipuan hingga UU ITE, Yusuf Mansur Bakal Dilaporkan Polisi

“Kamu berdarah untuk orang kulit putih, tetapi jika kamu melihat gerejamu sendiri dibom, dan gadis kecil kulit hitam terbunuh, kamu tidak berdarah. Kamu berdarah ketika orang kulit putih menyuruhmu berdarah; kamu menggigit ketika mereka menyuruhmu menggigit; kamu menggonggong ketika orang kulit putih menyuruhmu menggonggong. Saya benci mengatakan ini tentang kita, tetapi ini kenyataan. Bagaimana kamu bisa tidak melakukan kekerasan di Missisippi, padahal kamu melakukan kekerasan di Korea?”

“Bagaimana kamu membenarkan tidak melakukan kekerasan di Missisippi dan Alabama, ketika gerejamu di bom, dan gadis kecilmu dibunuh, dan saat yang sama kamu pergi (berperang) dengan kekerasan melawan Hitler, dan Tojo, dan orang lain yang kamu tak kenal?” (George Breitman : 1990)

Bagaimana pun, Malcolm X membangkitkan kesadaran warga kulit hitam di AS. Islam dijadikan sebagai jalan untuk melakukan perlawanan dan penindasan terhadap rasialisme. Al-Qur’an menurutnya tidak mengajarkan orang untuk menjadi pasif.

“Tidak ada dalam kitab suci kita, Qur’an, yang mengajarkan kita untuk menderita secara damai. Agama kita mengajarkan kita untuk menjadi cerdas. Menjadi damai, menjadi sopan, patuhi hukum dan hormati orang lain; tapi jika seseorang menyakitimu, kirim dia ke pemakaman.” (George Breitman : 1990)

Titik Balik Malcolm X

Cara pandang Maclom X terhadap rasialisme berubah selepas ia melakukan ibadah haji di Mekkah. Malcolm yang juga berpisah dari Elijah Muhammad mengemukakan betapa kagumnya ia akan Islam yang sebenarnya yang tergambar dari ibadah haji. Dalam suratnya dari Jeddah, Arab Saudi, pada  20 April 1964, ia menumpahkan kekagumannya:

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat