Editorial: Normalkah New Normal?

KIBLAT.NET – Istilah New Normal sesungguhnya adalah istilah yang berasal dari dunia bisnis dan ekonomi. Istilah ini merujuk pada kondisi finansial setelah krisis keuangan pada 2007-2008, awal dari resesi global 2008-2012. Sejumlah negara mencanangkan rencana untuk keluar dari krisis dan menyebut kondisi itu dengan istilah New Normal.

Setelah pandemi Covid-19 menyebar, istilah New Normal ramai lagi digunakan. Badan Bahasa menerjemahkannya dengan istilah “kenormalan baru”. Jokowi lebih memilih frase “Tatanan Normal Baru”. Para penggemar teori konspirasi kegirangan. Frase ini bunyinya terdengar seperti Novus Ordo Seclorum. Tatanan Dunia Baru ‘akhirnya’ dibawa Jokowi ke Indonesia.

Sementara itu, organisasi kesehatan dunia, WHO juga telah merilis panduan New Normal bagi negara-negara terdampak virus yang bermula dari Wuhan ini. Panduan WHO ada 6 langkah. Tiap langkahnya harus dicapai secara bertahap. Kalau perlu tertib dan berurutan. Mengomentari ini, PM Denmark Mette Frederiksen berkata: “Kita ibarat sedang berjalan di atas seutas tali. Kalau terlalu lama diam kita jatuh, melangkah terlalu cepat juga bisa jatuh.”

6 tahap yang direkomendasikan WHO untuk memberlakukan New Normal adalah berikut; Pertama, penularan virus Wuhan harus sudah dapat dikendalikan. Kedua, kapasitas sistem kesehatan telah tersedia untuk mendeteksi, menguji, mengisolasi dan merawat setiap kasus dan setiap kontak. Tiga, resiko wabah telah diminimalisir dalam pengaturan khusus seperti fasilitas kesehatan dan rumah perawatan. Empat, upaya pencegahan telah dilangsungkan di tempat kerja, sekolah dan tempat penting lainnya. Kelima, resiko dari barang impor dapat dikendalikan. Keenam, masyarakat telah teredukasi, terlibat dan terberdayakan untuk menyesuaikan diri ke dalam kondisi new normal secara penuh.

“Kita ibarat sedang berjalan di atas seutas tali. Kalau terlalu lama diam kita jatuh, melangkah terlalu cepat juga bisa jatuh.”

Melihat 6 tahap anjuran WHO di atas, kita tak perlu banyak berkomentar banyak lagi. Apakah saat ini masyarakat kita telah siap memasuki Tatanan Normal Baru, sementara kemampuan untuk mengetes saja termasuk yang paling buruk di dunia? Kita menempati urutan keempat terburuk dalam pengetesan virus Wuhan di bawah Ethiopia, Nigeria dan Bangladesh.

Lalu, apa sebenarnya yang telah dilakukan Jokowi untuk memasuki New Normal? Di media massa dapat kita lihat bahwa fokus pemerintah dalam tatanan kenormalan diarahkan pada pemulihan ekonomi. Hal ini tercermin pada program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23/2020. PP ini berisi tentang Pelaksanaan Program Pemulihan Ekonomi Nasional dalam Rangka Mendukung Kebijakan Keuangan negara untuk Penanganan Pandemi COVID-19 dan/atau Menghadapi Ancaman yang membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan serta Penyelamatan Ekonomi Nasional.

BACA JUGA  Dugaan Penipuan hingga UU ITE, Yusuf Mansur Bakal Dilaporkan Polisi

Perhatian utama pemerintah Jokowi untuk menyelamatkan ekonomi tentu saja patut diapresiasi jika diiringi dengan upaya peningkatan pelayanan kesehatan yang masif. Tapi jika tidak demikian, hal ini menjadi tanda tanya besar. Jokowi seperti abai terhadap kepentingan bangsa yang paling utama. Yaitu jiwa manusia. Krisis ekonomi sekeras apapun masih bisa dipulihkan, jika bangsa ini memiliki sumber daya manusia yang unggul. Tapi tak ada negara adidaya manapun yang mampu mengembalikan hilangnya nyawa manusia.

Selain fokus pada ekonomi kita juga melihat ada kecenderungan Jokowi melakukan sekuritisasi seperti Cina. Setelah pandemi menghajar Cina, upaya pengintaian besar-besaran (mass surveilans) diterapkan. Seluruh warga Cina diawasi dan dikontrol menggunakan sistem terpadu dari aplikasi media sosial, jaringan seluler, satelit dan CCTV. Sementara di Indonesia, sekuritisasi itu dimulai dari sejumlah rancangan UU yang dipercepat seperti Omnibus Law, UU Darurat Sipil dan Perpres Tugas TNI atasi terorisme.

Fokus untuk melakukan sekuritisasi ini juga ditunjukkan Jokowi saat membuka pusat perbelanjaan di Bekasi. Kala itu, Jokowi mengajak serta Panglima TNI dan Kapolri. Ironisnya, hal ini dijadikan semacam pertunjukan kekuatan oleh Jokowi seusai mengajak masyarakat berdamai dengan virus Wuhan. Di era Tatanan Normal Baru ala Indonesia, nantinya tiap pusat keramaian akan diperintahkan untuk social distancing dengan penjagaan dari aparat TNI-Polri. Tentu saja, tak ada virus yang bakal kabur dengan pentungan dan revolver, bukan?

BACA JUGA  Slamet Maarif: Reuni 212 Tahun Ini Ditunda

Persoalan lainnya, New Normal hanya bisa berlaku jika sudah dilakukan secara bertahap dan tersosialisasi dengan baik, sebagaimana 6 langkah anjuran WHO. Sementara, makna New Normal yang diberikan pemerintah sebatas cuci tangan, pakai masker, jaga jarak dan semacamnya. Pada akhirnya, kita bisa memahami bahwa New Normal adalah bahasa lain dari ‘berdamai dengan virus corona’. Mengangkat bendera putih kepada virus yang tak paham bahasa diplomasi. Istilah yang diucapkan Jokowi pada awal bulan ini, menurut para tenaga kesehatan bisa diartikan dengan penerapan Herd Immunity.

Padahal strategi Herd Immunity untuk mengatasi virus Wuhan ini telah gagal di sejumlah negara. Korsel salah satunya. Negara Gingseng ini kembali memberlakukan lockdown setelah pelonggaran selama 3 pekan yang berujung pada lonjakan kasus infeksi. Ada 250 kasus infeksi yang terlacak dari tempat maksiat publik seperti klub malam dan bar. Perusahaan-perusahaan di Korsel juga disebut gagal dalam menegakkan tindakan pencegahan hanya dengan penggunaan masker dan cuci tangan. Tak hanya di Korsel, di Cina juga ada lonjakan kasus setelah adanya pelonggaran.

Pemberlakuan Tatanan Normal Baru ala Jokowi sekali lagi menunjukkan kegagalan pemerintah dalam memahami krisis akibat virus Corona. Pemberlakukan New Normal setengah porsi ini terlalu terburu-buru karena pemerintah memang tidak mampu. Tidak mampu mengetes kondisi kesehatan warganya, tidak mau menanggung beban kemiskinan masyarakatnya, bahkan barangkali sama sekali tidak terbayang seperti apa jalan keluar dari krisis ini.

 

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat