Rintihan Anak Terduga Teroris di Momen Lebaran: Kasihan Umi, Tidak Ditemani Ayah

KIBLAT.NET, Tasikmalaya – Sekilas tak ada yang berbeda dari Saifan (10). Dalam suasana Idul Fitri tahun ini, menemani ibunya menerima tamu dengan toples makanan berjejer di meja. Tingkahnya diiringi Uqi (5) sang adik yang tak kalah gesit. Dengan rambut ikal sebahu, terlihat lebih lincah keluar-masuk ruang tamu sambil sesekali memanggil ibunya.

Tapi, bagi kedua anak itu, Lebaran kali ini lebih kelam dibanding sebelum-sebelumnya. Mereka harus menemani ibunya tanpa kehadiran sang ayah. Ayah mereka, DN (43) ditangkap Densus 88 sepekan lalu. Seperti biasa, belum bisa ditebak mengapa ayah mereka ditangkap.

Pasca sang ayah direnggut secara tiba-tiba, rumah mereka dikerubungi aparat bersenjata yang melakukan penggledahan. Mereka tak tahu apa penyebab semua ini. Yang jelas, suasana itu pasti cukup menteror dan menimbulkan trauma bagi bocah seusia mereka.

Untung saja mereka belum terbiasa membaca berita internet. Sehari setelah rumah mereka digeledah, beberapa media daring memberitakannya dengan judul bombastis: Dari Rumah Terduga Teroris, Polisi Amankan Sejumlah Senjata Api dan Pelurunya. Terlebih, berita tersebut dipampang di headline.

Tentu saja kabar itu membuat keluarga besar mereka berang. Mereka memiliki video berisi barang-barang yang disita polisi. Hanya senapan angin dan sejumlah peralatan outdoor.

Fitnah itu juga membuat gerah sejumlah aktivis Islam di Tasikmalaya. Melalui ormas Al-Mumtaz, mereka melayangkan somasi kepada media lokal atas berita tersebut. Sekjen Al-Mumtaz, Abu Hazmi menegaskan bahwa berita itu tidak benar. Ia juga menekankan, semua orang wajar mempunyai senapan angin dan alat outdoor.

Berita penangkapan DN sebelum (kiri) dan sesudah (kanan) didatangi Al-Mumtaz

Entah suara ghaib apa yang membisiki wartawan yang menulis berita itu. Tak dapat dibayangkan seandainya kedua bocah tadi membacanya. Tekanan mental akan makin bertubi: ayah ditangkap (dan hingga artikel ini ditulis tidak bisa dihubungi), rumah digeledah petugas bersenjata, lalu tersiar berita bohong memfitnah sang ayah.

Menurut cerita sang nenek, Saifan kini lebih banyak termenung akibat peristwa tersebut. “Dia selalu bilang kasihan kepada Umi, karena tidak ada Abi yang menemaninya,” tutur sang nenek kepada Kiblat.net. Bocah itu juga selalu mengulang doa agar ayahnya senantiasa diberi kesabaran. “Semoga Abi tetap sabar, dan semoga Abi dimasukkan surga,” ujar sang nenek mengisahkan.

Peristiwa penangkapan DN dianggap keluarga terjadi ujug-ujug (tiba-tiba). Pasalnya, selama ini DN tak pernah bertingkah layaknya teroris. Perilakunya baik, tindak-tanduknya santun, sikapnya ramah dan senang membantu warga.

“Saya yakin dia orang baik, bahkan ketika kemarau kemarin dia yang menggerakkan warga untuk bansos air bersih,” tutur mertua DN dengan mata berkaca-kaca.

Kediaman DN

Kisah dua bocah di atas hanya satu dari sekian ragam fragmen kehidupan anak-anak para tersangka teroris. Anak-anak yang terpaksa menjalani hidup tanpa sosok bapak justru pada momen-momen yang mereka membutuhkan kehadirannya.

Di dunia ini, nasib mereka tak seuntung anak-anak tersangka korupsi. Meski sama-sama ayah mereka dianggap pelaku extra ordinary crime, anak-anak tersangka korupsi jarang terlibat langsung dalam penangkapan dan penggeledahan orang tua mereka.

Media pun terbiasa jujur dalam memberitakan kasusnya. Siapa ditangkap, di mana, berapa kerugian negara. Titik. Tak ada bumbu-bumbu pemberitaan palsu yang dibubuhkan untuk mengejar klikbait dan suasana horor.

Pasal-pasal keterlibatan dalam tindak korupsi pun kini sedang dipangkas, membuat hanya orang dengan kriteria tertentu yang bisa dicokok sebagai koruptor. Berbeda dengan pasal sapu jagat terorisme, ibarat hanya menerima kedipan mata dari tersangka teroris saja, seseorang bisa dianggap bermasalah.

Tapi itu dunia. Kelak di akhirat bocah-bocah tersebut pasti akan mendapatkan perlakukan seadil-adilnya dari Tuhan. Tidak ada luka dan kesabaran yang tak dibayar pahala. Sebagaimana tak ada kelaliman sedikitpun yang tak dibalas setimpal.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Hamdan

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat