Ghazwatul Hindi, Peta Akhir Zaman di Nusantara (Bag. 1)

Oleh: Fahmi Suwaidi, pengamat dunia Islam

Titik Panas (1)

KIBLAT.NET – Kabar akhir zaman menjadi fenomena yang menarik dan menggelitik. Rasa ingin tahu, berpadu dengan harapan perubahan, membuat umat menanti dan mengikuti isu-isu kajian akhir zaman. Namun selalunya, yang dikaji adalah fenomena yang dikabarkan hadits-hadits Nubuwwah akhir zaman tentang negeri-negeri di Timur Tengah.

Pertanyaannya, bagaimana peta akhir zaman di Nusantara dan kawasan Asia?

Sebuah hadits barangkali membawakan proyeksi masa depan kawasan Asia dan Nusantara. Negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, tetapi belum jelas bagaimana posisinya dalam peristiwa-peristiwa akhir zaman. Inilah haditsnya;

Dari Tsauban maula Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam, dia berkata, telah bersabda Rasululah Shalallahu ‘alaihi wasalam, “Dua kelompok dari umatku yang dijaga oleh Allah dari neraka, kelompok yang memerangi al-Hindi, dan kelompok yang menyertai Isa bin Maryam ‘alaihissalam.”

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa`i (3175), Ahmad (22396), Bukhari dalam Tarikh Kabir (6:72), Ibnu Abi ’Ashim dalam Al-Jihad (288), Al-Baihaqi (18600), Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (2:408), Ibnu ‘Asakir (52:248), Al-Mazi dalam Tahdzibul Kamal (33:152), Thabrani dalam Al-Ausath (6741) dan Musnad Asy-Syaamiyin (1851).

Kedudukan hadits itu dishahihkan As-Suyuthi dalam Al-Jami’ush Shaghir dan Al-Albani dalam  Shahih Al-Jami’ (4012) dan Shahih An-Nasa`i dan Silsilah Ash-Shahihah (4:570). Dishahihkan juga oleh Al-Utaibi dalam Dzahiratul ‘Uqba (26:297).

Dalam hadits tersebut, ada dua kelompok yang disebut Rasulullah SAW akan diselamatkan Allah dari jilatan api neraka. Yang satu sudah jelas, sementara satunya lagi masih misteri. Yang membersamai Nabi Isa bin Maryam pasti sudah mafhum. Tetapi siapakah yang memerangi Al-Hindi?

Untuk memahami siapa kelompok yang beruntung, terbebas dari api neraka karena Ghazwatul Hindi (memerangi al-Hindi), maka tentu harus diketahui dahulu, siapakah Al-Hindi? Inilah uraiannya.

Kajian Lokasi dan Masa

Dalam kajian para ulama di masa lalu, Al-Hindi adalah negeri India. Hal ini ditegaskan oleh Al-Hafizh Ibnu katsir dalam AL-Bidayah wan-Nihayah (6:223) dan Al-Ityubi dalam Dzahirotul ‘Uqba (26:293). Hal itu juga ditunjukkan oleh Imam Nasa`i dan Baihaqi ketika membagi bab itu dengan “Ghazwatul Hind” dan “Bab Perkara yang Datang dalam Perang Hind” dalam kitab hadits mereka.

Namun ada juga yang memaknai Hindi sebagai Basra, sebuah kota di negeri Irak hari ini. Hal itu disebutkan dalam atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al-Jihad (289) dan lafazh baginya dan Ahmad (16820) dan Thabrani dalam Al-Ausath (8479) dan Al-Kabir (3841) dan Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah (6:387);

Dalam atsar itu, Khalid bin Al-Walid berkata, “Ketika aku merebut Syam dengan seluruh isinya, termasuk gandum Butsnah (sebuah kota di dekat Damaskus) dan madu, Umar memerintahkan saya agar pergi ke Al-Hind, dan Al-Hind dalam diri (pemahaman) kami adalah Basra, dan aku karena itu tidak menyukainya.”

Namun riwayat Basra ini lemah, dibicarakan para rijalnya oleh Al-Arnauth dan Musa’id bin Sulaiman Ar-Rasyid, dan Al-Haitsami mengisyaratkan kelemahannya dalam Majma’uz Zawaid (7:308). Dikatakan bahwa rijalnya tsiqah namun sebagiannya lemah.

Lalu, yang kedua, kapankah masa Ghazwatul Hindi terjadi?  Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan kaum Muslimin telah memerangi al-Hind pada masa Mu’awiyah tahun 44 H. Lalu Raja Muhammad bin Subkatikin, penguasa Ghazni, pada tahun 400 juga memerangi negeri Al-Hindi. Ia bertempur, menawan, mengambil budak, mendapat ghanimah dan memasuki Kuil Somnath (di Gujarat).

Namun, mungkin juga maksud Ghazwatul Hind terjadi pada zaman Isa ‘Alaihissalam atau menjelang turunnya beliau. Karena seolah-olah hadits yang menyebutkan keutamaan dua kelompok itu ada di akhir zaman.

Itulah pendapat Syaikh Hasan Abul Asybal Az-Zuhairi dalam Syarah Shahih Muslim (22:74). Beliau berkata, “kelompok yang memerangi Al-Hind” adalah kelompok yang bersama Al-Mahdi yang dinantikan. Sementara kelompok kedua menyertai Isa bin Maryam di Bumi Syam, menghancurkan salib, membunuh babi, menarik jizyah dan berdakwah dengan dakwah Nabi Muhammad SAW.

BACA JUGA  Membaca Langkah Biden di Afghanistan

Az-Zuhaidi menyimpulkan, inilah dua kelompok itu: kelompok yang pergi ke Hindi, dan kelompok yang tetap tinggal di Bumi Syam. Keduanya berdakwah dengan dakwah Nabi Muhammad SAW, pada mereka semua ada penjagaan dari neraka dengan seizin Allah Ta’ala. Kelompok ini ada pada akhir zaman, semasa dengan kelompok yang menyertai Isa bin Maryam ‘Alaihimassalam.

Pendapat ini juga didukung oleh ulama lain yang menafsirkan Ghazwatul Hindi terjadi setelah munculnya Al-Mahdi sebelum muncul Dajjal. Nu’aim bin Hammad dalam Al-Fitan (1236) dan Ishaq bin Rahawaih dalam Al-Musnad (537) meriwayatkan dengan sanad dhaif dari Abu Hurairah RA.

Beliau berkata, Rasulullah SAW menyebut Al-Hind dan bersabda: “Sungguh akan memerangi Al-Hind bagi kalian dua pasukan, Allah memenangkan mereka sampai mereka datang dengan raja-raja mereka dibelenggu dengan rantai, Allah mengampuni dosa-dosa mereka, maka mereka meninggalkan ketika meninggalkan, maka mereka menemukan Ibnu Maryam di Syam.”

Maka menurut Nu’aim, kelompok Ghazwatul Hindi akan bergabung dengan Nabi Isa di Syam setelah mengalahkan musuhnya. Artinya kedua kelompok itu hidup dan bertemu dalam satu masa. Yaitu di akhir zaman.

Dari sisi tempat, ternyata pernah ada perbedaan pendapat tentang lokasi Al-Hindi di masa lalu. Demikian pula tentang waktu terjadinya Ghazwatul Hindi. Ada yang berpendapat sudah terjadi, ada pula yang menafsirkan baru akan terjadi pada akhir zaman kelak.

Teori Kekinian

Tulisan ini mencoba untuk menguraikan kemungkinan berdasarkan dua pendapat. Yaitu bahwa secara tempat Al-Hindi lebih luas maknanya daripada negeri India atau Basra. Sekaligus masa terjadinya Ghazwatul Hindi adalah di akhir zaman, sebelum atau menjelang turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam.

Dari dua pendapat para ulama, India lebih dikuatkan sebagai Al-Hindi. Maka penulis akan berpijak dari pendapat ini, namun dengan makna yang lebih luas. Yaitu, bahwa peperangan Ghazwatul Hindi tidak hanya untuk perang melawan negeri India, tetapi melawan kaum yang disebut dan disifati sebagai Al-Hindi.

Dalam analisis penulis, peperangan kaum Muslimin sangat fokus pada siapa lawan dan bagaimana sifat permusuhannya. Jihad fi sabilillah dalam dalil-dalilnya selalu terkait memerangi orang kafir, musyrik, munafik atau kaum yang menghalangi dakwah dan penerapan syariat Islam. Adapun negerinya, maka di manapun bisa terjadi, sedangkan waktunya terjadi hingga akhir zaman kelak.

Maka jihad Islam terjadi dari pinggiran Madinah sampai padang salju di Azerbaijan. Dari Wina di Eropa sampai Ambon dan Papua. Di mana ada ancaman bahaya bagi Islam dan kaum Muslimin, di manapun dan kapanpun kewajiban jihad berlaku.

Fokus persiapan jihad kaum Muslimin ada pada musuh dan ancaman potensialnya, sebagaimana perintah Allah dalam Quran Surah Al-Anfal ayat 60;

“Dan siapkanlah bagi mereka apa yang kalian mampu dari kekuatan dan dari kuda-kuda perang yang ditambatkan, yang akan menggentarkan musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kalian, dan musuh selain mereka yang kalian belum tahu namun Allah mengetahuinya… “

Jihadis 3
Jihadis tengah berbaris

Orientasi perang umat Islam menyesuaikan dengan ancaman musuh. Jika suatu kaum memusuhi Islam, menghalangi dakwah,  atau menzhalimi kaum Muslimin. Maka mereka adalah musuh yang layak diperangi. Bukan karena bangsa, suku, kekayaan atau bahkan kekafiran.

Bahkan kaum kafir sekalipun, jika tak memusuhi Islam, bisa jadi dzimmi yang dilindungi atau mu’ahid yang berdamai. Tak selalunya kafir menjadi harbi yang harus diperangi.

Maka, pemaknaan Al-Hindi, sebagai pihak yang diperangi Muslim dan ganjaran besar bagi kelompok yang memeranginya, lebih pada sifat permusuhan kaum yang menghuninya. Bukan semata nama negerinya. Karena seiring zaman, nama negeri bisa berubah dan berganti.

BACA JUGA  Kiblatorial: Menakar Revolusi Akhlak HRS

Memadukan dua hal tadi, penulis cenderung untuk berteori. Dan teori bisa benar bisa keliru. Menurut penulis, Al-Hindi adalah kaum kafir, musyrikin yang memusuhi Islam dan kaum Muslimin yang akar aqidahnya berasal dari India, namun telah menyebar dan memerangi kaum Muslimin di kawasan luas yang dipengaruhinya.

Aqidah kufur dan syirik di India ada ribuan macam. Filosofi pagan penyembah banyak dewa dan berhala berkembang dari sana. Lalu menyebar ke berbagai negeri. Jejaknya bisa dikenali dalam batas geografi yang sangat luas, tak hanya menegara namun membenua.

Penyebaran pengaruh aqidah Al-Hindi membentang dari India ke barat hingga Pakistan, namun terhenti karena berbenturan dengan penyebaran Islam. Ke utara ia mewarnai Cina dan Mongolia, sebelum berhenti karena berbenturan dengan Rusia yang Kristen. Lalu ke timur laut mewarnai Korea hingga Jepang.

Dari Jepang ke selatan, mewarnai Taiwan, Vietnam sampai Laut Cina Selatan hingga kepulauan Natuna. Batas timurnya adalah Filipina yang Katholik. Namun sebelum jadi Kristen, Filipina pun dipengaruhi Al-Hindi seperti kawasan lainnya.

Yang paling mewarnai banyak negeri adalah perkembangan ke selatan dan tenggara. Mencelup hampir seluruh kawasan yang dikelilingi Samudera Hindia. Ya, bukankah nama samudera itu menunjukkan pengaruhnya?

Dari India, ideologi Al-Hindi bergerak ke Srilanka. Menyusuri Myanmar, Thailand, Malaysia hingga Nusantara. Ujung selatannya adalah Pulau Nusakambangan di Cilacap. Selepas Nusakambangan, 300 mil kemudian Pulau Natal, wilayah Australia yang Kristen.

Nusantara menjadi satu dari tiga kawasan negeri modern yang mengabadikan jejak Al-Hindi. India, Indocina dan Indonesia. Nama Indocina bahkan telah memudar dari sebutan, berganti Vietnam, Laos dan Kamboja. Maka tinggal dua negara di masa modern yang menggunakan kata Hindi atau Indi sebagai nama, India dan Indonesia.

Titik panas pertempuran

Nah, jika kawasan pengaruh Al-Hindi ini bisa diproyeksikan sebagai medan peperangan Ghazwatul Hindi, di manakah hotspot atau titik-titik panas konfliknya? Beberapa telah terlihat jelas.

Dimulai dari negeri induknya, India ke barat, Kashmir menjadi hotspot utama. Penjajahan politik India atas Kashmir yang penduduknya Muslim telah memicu serangkaian perlawanan sejak akhir 1940-an. Bahkan Mujahidin Kashmir dengan bangga menyebut dirinya, “Kamilah ‘Ishabah Taghzul Hind, kelompok yang disebut Rasulullah dalam hadits beliau akan memerangi Al-Hindi yaitu India.”

Di utara, Muslim Uighur hingga kini terus dizalimi oleh Rejim Komunis Cina. Sejak negeri mereka, Turkistan Timur, diinvasi Cina pada tahun 1884, Muslim Uighur melawan penjajah kafir. Rejimnya berganti-ganti, dari Imperium Manchu, Cina Nasionalis hingga Cina Komunis.

Di sebelah selatan timur, Rejim Myanmar menzhalimi Muslim Rohingya. Mengusir mereka dari kampung halamannya tanpa perlawanan. Muslim Rohingya terlunta-lunta terusir dari negerinya sendiri.

Di sebelahnya, Indocina, belum lama berlalu, sebuah kerajaan Muslim bernama Campa dihapuskan dari muka bumi. Sementara di selatannya, kesultanan Patani dicaplok oleh Kerajaan Siam atau Thailand. Perlawanan Patani masih terus berkecamuk hingga hari ini.

Ke arah timur lagi, di kepulauan Mindanao kaum Muslimin terlibat konflik dengan Rejim Manila. Namun warna aqidahnya berbeda, musuh kaum Muslimin di sana adalah kaum yang tadinya diwarnai Al-Hindi dan Islam namun telah dikristenkan oleh Spanyol sejak abad ke-18 lalu.

Garis merah yang menghubungkan semua hotspot konflik Muslim versus kafir di kawasan itu ada dua. Pertama sejarah pengaruh Al-Hindi dari India di masa lalu. Yang kedua, pengaruh Republik Rakyat Cina pada masa kini. Apakah hubungan Al-Hindi dan Cina?

Bersambung

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat