Tanya Jawab dan Panduan Sholat Idul Fitri Saat Pandemi Corona

KIBLAT.NET – Di tengah Pandemi dan anjuran untuk beribadah di rumah, termasuk di dalamnya adalah sholat idul fitri, ada sebagian masyarakat yang masih kebingungan dan bertanya-tanya tentang bagaimana tata-cara dan aturan sholat Idul Fitri di tengah pandemi.

Pertanyaan: Apakah diperbolehkan sholat Idul Fitri Sendiri?

Jawaban: Sholat Idul Fitri hukumnya sunnah, dan utamanya dilakukan secara berjamaah, karena ini adalah bagian dari menampakkan syiar Islam. Namun keutamaan sholat Idul Fitri secara berjamaah tidak menutup kemungkinan untuk mengerjakaannya secara sendir-sendiri. Hal ini pendapat ulama Syafi’iyah. Imam An-Nawawi berkata:

وَتُشْرَعُ جَمَاعَةً وَلِلْمُنْفَرِدِ

Artinya, “Dan (Sholat id) disyariatkan dikerjakan secara berjamaah atau sendirian.” (Minhajuth Tholibin 141)

Pertanyaan: Bolehkah melaksanakan sholat idul fitri berjamaah di rumah atau di komplek kecil?

Jawaban: Melakukan sholat idul fitri di rumah atau di komplek kecil hukumnya diperbolehkan. Karena tidak ada syarat jumlah tertentu dalam melaksanakan sholat Idul Fitri, oleh karena itu para ulama syafi’iyah menetapkan syara minimal untuk sholat Idul Fitri berjamaah adalah dua orang atau lebih sebagaimana syarat yang ada pada sholat Jamaah. Sebagaimana disebutkan oleh Kiyai Mahfudz Termas.

وَأقَلُّ الجَمَاعَةِ اِثْنَانِ كَمَا مَرَّ

Artinya, “Dan batasan minimal jamaah adalah dua orang sebagaimana yang sudah disebutkan sebelumnya.” (Hasyiyah At-Termasi Alal Manhajil Qowim 4/484)

Pertanyaan: Jika melakukan sholat idul fitri berjamaah di rumah, apakah disyariatkan untuk khutbah?

Jawaban: Pertama, khutbah idul fitri hukumnya sunnah. Sebagaimana disebutkan di dalam Fathul Qarib :

وَيخْطَبُ نَدْبًا بَعْدَهُمَا أَي رَكْعَتَيْنِ

Artinya, “Dan disunnahkan untuk berkhutbah setelah keduanya yaitu setelah sua rekaat (sholat id).” (Fathul Qarib, 19)

Kedua, disunnahkannya khutbah apabila sholat idul fitri dilakukan secara berjamaah. Khatib Asy-Syirbini di dalam Al-Iqna’ berkata:

ويَخْطُبُ بَعْدَهُمَا أَي رَكْعَتَيْنِ خُطْبَتَيْنِ لِجَمَاعَةٍ لَا لِمُنْفَرِدٍ

Artinya, “Dan khutbah setelah dua rekaat (sholat Id) bagi yang melakukannya secara berjamaah dan tidak disyariatkan bagi yang sholat sendiri.” (Al-Iqna’ Fi Halli Alfadzi Abi Syuja’ 1/300)

Pertanyaan: Bagi yang menyelenggarakannya sendiri, apakah disyariatkan khutbah?

Jawaban: Tidak disyariatkan untuk khutbah, karena faidah dari khutbah adalah memberi wasiat kepada jamaah, sedangkan pada sholat sendiri tidak ada jamaahnya. Kiyai Mahfudz Termas berkata:

فَمَنْ يُصَلِّي وَحْدَهُ لَا يُسَنُّ لَهُ أَنْ يَخْطُبَ لِعَدَمِ فَائِدَتِهِ

Artinya, “Barangsiapa yang (sholat id) sendirian, maka tidak disunnahkan baginya khutbah, karena tidak ada faidahnya.” (Hasyiyah At-Termasy Ala Manhajil Qawim 4/484).

Panduan Ibadah Terkait Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19

Berikut ini adalah panduan ibadah sholat idul fitri di masa pandemi Corona.

I. Ketentuan Hukum Idul Fitri

1. Shalat Idul Fitri hukumnya sunnah muakkadah yang menjadi salah satu syi’ar keagamaan (syi’ar min sya’air al-Islam ).

2. Shalat idul fitri disunnahkan bagi setiap muslim, baik laki laki maupun perempuan, merdeka maupun hamba sahaya, dewasa maupun anak-anak, sedang di kediaman maupun sedang bepergian (musafir), secara berjamaah maupun secara sendiri.

3. Shalat idul fitri sangat disunnahkan untuk dilaksanakan secara berjama’ah di tanah lapang, masjid, mushalla dan tempat lainnya.

4. Shalat Idul Fitri berjamaah boleh dilaksanakan di rumah.

5. Pada malam idul fitri, umat Islam disunnahkan untuk menghidupkan malam idul fitri dengan takbir, tahmid, tasbih, serta aktifitas ibadah.

BACA JUGA  Slamet Maarif: Reuni 212 Tahun Ini Ditunda

II. Ketentuan Pelaksanaan Idul Fitri di Kawasan COVID-19

1. Jika umat Islam berada di kawasan COVID-19 yang sudah terkendali pada saat 1 Syawal 1441 H, yang salah satunya ditandai dengan angka penularan menunjukkan kecenderungan menurun dan kebijakan pelonggaran aktifitas sosial yang memungkinkan terjadinya kerumunan berdasarkan ahli yang kredibel dan amanah, maka shalat idul fitri dilaksanakan dengan cara berjamaah di tanah lapang, masjid, mushalla, atau tempat lain.

2. Jika umat Islam berada di kawasan terkendali atau kawasan yang bebas COVID-19 dan diyakini tidak terdapat penularan (seperti di kawasan pedesaan atau perumahan terbatas yang homogen, tidak ada yang terkena COVID-19, dan tidak ada keluar masuk orang), shalat idul fitri dapat dilaksanakan dengan cara berjamaah di tanah lapang/masjid/mushalla/tempat lain.

3. Shalat Idul Fitri boleh dilaksanakan di rumah dengan berjamaah bersama anggota keluarga atau secara sendiri (munfarid), terutama jika ia berada di kawasan penyebaran COVID-19 yang belum terkendali.

4. Pelaksanaan shalat idul fitri, baik di masjid maupun di rumah harus tetap melaksanakan protokol kesehatan dan mencegah terjadinya potensi penularan.

III. Panduan Kaifiat (tata cara) Shalat Idul Fitri Berjamaah

Kaifiat shalat idul fitri secara berjamaah adalah sebagai berikut:

1. Sebelum shalat, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan takbir, tahmid, dan tasbih.

2. Shalat dimulai dengan menyeru “ash-shalâta jâmi‘ah“, tanpa azan dan iqamah.

3. Memulai dengan niat shalat idul fitri. Niat sholat wajib diucapkan di dalam hati saat takbiratul ihram. Dan sunnah untuk dilafalkan sebelum takbiratul ihram, yang jika dilafalkan berbunyi;

 أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ  رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًا\إِمَامًا)  لله تعالى

 “Aku berniat shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.”

4. Membaca takbiratul ihram (الله أكبر) sambil mengangkat kedua tangan.

5. Membaca takbir sebanyak 7 (tujuh) kali (di luar takbiratul ihram) dan di antara tiap takbir itu dianjurkan membaca:

 سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

6. Membaca surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah yang pendek dari Alquran.

7. Ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti shalat biasa.

8. Pada rakaat kedua sebelum membaca al-Fatihah, disunnahkan takbir sebanyak 5 (lima) kali sambil mengangkat tangan, di luar takbir saat berdiri (takbir qiyam), dan di antara tiap takbir disunnahkan membaca:

   سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ.

9. Membaca Surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah yang pendek dari Alquran.

10. Ruku’, sujud, dan seterusnya hingga salam.

11. Setelah salam, disunnahkan mendengarkan khutbah Idul Fitri.

IV. Panduan Kaifiat (tata cara) Khutbah Idul Fitri

1. Khutbah ‘Id hukumnya sunnah yang merupakan kesempuranaan shalat idul fitri.

2. Khutbah ‘Id dilaksanakan dengan dua khutbah, dilaksanakan dengan berdiri dan di antara keduanya dipisahkan dengan duduk sejenak.

3. Khutbah pertama dimulai dengan takbir sebanyak sembilan kali, sedangkan pada khutbah kedua dimulai dengan takbir tujuh kali.

4. Khutbah pertama dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Membaca takbir sebanyak sembilan kali

b. Memuji Allah dengan sekurang-kurangnya membaca الحمد لله

c. Membaca shalawat nabi Saw., antara lain dengan membaca اللهم صل على سيدنا محمد

BACA JUGA  Kiblatorial: Menakar Revolusi Akhlak HRS

d. Berwasiat tentang takwa.

e. Membaca ayat Al-Qur’an

5. Khutbah kedua dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Membaca takbir sebanyak tujuh kali

b. Memuji Allah dengan sekurang-kurangnya membaca الحمد لله

c. Membaca shalawat nabi saw, antara lain dengan membaca اللهم صل على سيدنا محمد

d. Berwasiat tentang takwa.

e. Mendoakan kaum muslimin

V. Ketentuan Shalat Idul Fitri Di Rumah

1. Shalat Idul Fitri yang dilaksanakan di rumah dapat dilakukan secara berjamaah dan dapat dilakukan secara sendiri.

2. Jika shalat Idul fitri dilaksanakan secara berjamaah, maka ketentuannya sebagai berikut:

a. Jumlah jamaah yang shalat minimal 4 orang, satu orang imam dan 3 orang makmum. [1]

b. Kaifiat shalatnya mengikuti ketentuan poin III (Panduan Kaifiat Shalat Idul Fitri Berjamaah). Usai shalat Id, khatib melaksanakan khutbah dengan mengikuti ketentuan poin IV (Panduan Kaifiat Khutbah).

c. Jika jumlah jamaah kurang dari empat orang atau jika dalam pelaksanaan shalat jamaah di rumah tidak ada yang berkemampuan untuk khutbah, maka shalat idul fitri boleh dilakukan berjamaah tanpa khutbah.

3. Jika shalat Idul fitri dilaksanakan secara sendiri (munfarid), maka ketentuannya sebagai berikut:

a. Berniat niat shalat idul fitri secara sendiri.

b. Dilaksanakan dengan bacaan pelan (sirr).

c. Tata cara pelaksanaannya mengacu poin III (Panduan Kaifiat Shalat Idul Fitri Berjamaah).

d. Tidak ada khutbah.

VI. Panduan Takbir Idul Fitri

1. Setiap muslim dalam kondisi apapun disunnahkan untuk menghidupkan malam idul fitri dengan takbir, tahmid, tahlil menyeru keagungan Allah SWT.

2. Waktu pelaksanaan takbir mulai dari tenggelamnya matahari di akhir ramadhan hingga jelang dilaksanakannya shalat Idul Fitri.

3. Disunnahkan membaca takbir di rumah, di masjid, di pasar, di kendaraan, di jalan, di rumah sakit, di kantor, dan di tempat-tempat umum sebagai syiar keagamaan.

4. Pelaksanaan takbir bisa dilaksanakan sendiri atau bersama-sama, dengan cara jahr (suara keras) atau sirr (pelan).

5. Dalam situasi pandemi yang belum terkendali, takbir bisa dilaksakan di rumah, di masjid oleh pengurus takmir, di jalan oleh petugas atau jamaah secara terbatas, dan juga melalui media televisi, radio, media sosial, dan media digital lainnya.

6. Umat Islam, pemerintah, dan masyarakat perlu menggemakan takbir, tahmid, dan tahlil saat malam idul Fitri sebagai tanda syukur sekaligus doa agar wabah COVID-19 segera diangkat oleh Allah SWT.

VII. Amaliah Sunnah Idul Fitri

Pada hari Idul Fitri disunnahkan beberapa amaliah sebagai berikut:

1. Mandi dan memotong kuku

2. Memakai pakaian terbaik dan wangi-wangian

3. Makan sebelum melaksanakan sholat Idul Fitri

4. Mengumandangkan takbir hingga menjelang shalat.

5. Melewati jalan yang berbeda antara pergi dan pulang

6. Saling mengucapkan selamat (tahniah al-id) antara lain dengan mengucapkan  (taqabbalullah minna wa minkum) تقبل الله منا و منكم

[1] Di dalam Hasyiyah At-Termasi dijelaskan bahwa batasan minimal jamaah dalam sholat id adalah dua orang (satu imam dan satu makmum).

Penulis: Miftahul Ihsan

Editor: Arju

Sumber:

1. Fatwa MUI, Nomor 28 tahun 2020, panduan ibadah idul fitri saat pademi covid-19

2. Fathul Qarib Al-Mujib Syarh Taqrib :Ibnul Qasim

3. Al-Iqna’ Fi Halli Alfadzi Abi Syuja

4. Minhajuth Thalibin

5. Hasyiyah At-Termasi

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat