... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Integritas Seorang Pemimpin

Oleh: Enzen Okta Rifai (Alumnus International University of Africa, Republik Sudan)

“Sudah puluhan tahun kami tinggal di perkampungan ini. Ketika mendengar raja sedang marah lantas berbuat tidak adil kepada rakyat, sudah terbiasa kami menghadapi tanah-tanah yang kering, tanaman tidak subur, dan ternak tidak menghasilkan apa-apa.”

KIBLAT.NET – Kata-kata di atas disampaikan oleh seorang nenek penduduk desa di saat negerinya dipimpin oleh seorang raja di negeri Persia, sebelum masa kenabian Muhammad Saw. Peristiwanya sederhana, ketika sang raja sedang menyamar dan singgah di suatu rumah penduduk, ia pun dijamu oleh seorang gadis dengan minuman susu hasil perahan sapi di kandangnya.

Raja itu terus menguping tentang pembicaraan rumah-tangga itu mengenai sosok pemimpinnya. Sampai kemudian ketika datang waktu sore, dan anaknya tidak mendapatkan setetes pun dari susu perahan, ia pun menggerutu pada ibunya, “Bu, mungkin saat ini raja punya niat jahat terhadap rakyat, karena sore ini sapi-sapi di kandang tidak menghasilkan susu sama sekali.”

“Sabarlah, Nak, kalau sore ini tidak mengeluarkan susu, kita cobalah esok hari.”

Ucapan dari rakyat kecil itu langsung mengena di hati raja yang sedang menyamar itu. Dia memang pernah merencanakan memungut cukai pajak bagi para pemilik sapi di desa-desa. Namun setelah mendengar keluhan gadis itu kepada ibunya, sang raja langsung menyadari kekhilafannya. Betapa besar pengaruh dari keputusan yang diambilnya, bahkan dari sesuatu yang sekadar dia rencanakan terhadap rakyatnya.

Dia mengumpulkan para ajudan dan menteri-menterinya agar segera membatalkan rencana pungutan cukai bagi rakyat kecil. Hingga tersiarlah kabar pada keesokan harinya, penduduk desa itu dapat memerah susu sapi dengan kandungan susu yang melimpah.

Ruh Seorang Pemimpin

Menurut Rhenald Kasali, seorang akademisi dan Guru Besar UI, setiap perubahan di negeri manapun, membutuhkan peran pemimpin dan kepemimpinan. Ibarat kendaraan mobil, antara roda yang berputar dengan as atau sumbunya. Roda adalah rakyat dan kita semua, sedangkan pemimpin adalah as atau sumbunya. Kalau pemimpin atau as bergerak sedikit saja, maka roda akan bergerak jauh lebih banyak. Pemimpin yang adil, seperti itulah dia mesti memberi contoh kepada rakyatnya.

BACA JUGA  Peradaban Sedekah

Bila dia mau bergerak sedikit di jalan kebaikan dan kebenaran, dengan sendirinya gerakan rakyat akan meniru jauh lebih banyak. Tapi sebaliknya, bila sang pemimpin memberi contoh sedikit saja dalam hal keburukan, hedonisme, boros, dusta dan kebohongan, maka berhati-hatilah, karena dengan sendirinya jutaan rakyat akan menirunya.

Karena itu pemimpin harus serba ekstra hati-hati dalam membuat keputusan yang akan melapangkan kehidupan rakyat, atau justru akan menyempitkan hidup mereka. Dan kalaupun ada pemimpin yang menuntut rakyat agar menempuh jalan yang benar, justru perubahan moral itu harus dimulai dari pemimpinnya sendiri. Karena tidak mungkin bayangan itu lurus, jika benda aslinya bengkok. Di hadapan pemimpinnya, rakyat bukan hanya berharap tetapi juga bercermin, baik melalui sikap dan karakternya maupun kebijakan yang diputuskannya.

Oleh karena itu, segala ujian dan cobaan begitu berat dihadapi pemimpin. Bagaikan filosofi pasar, semakin laris suatu barang dipasarkan, semakin besar peluang berduyun-duyun barang komoditas didatangkan, baik yang masih segar maupun yang berbau busuk. Tidak sedikit barang-barang busuk itu dikemas dengan menarik, dan dengan label yang menggiurkan. Tak jarang pula dibungkus dengan pengawet yang sangat membahayakan bagi kesehatan umat. Karenanya dua tipologi pemimpin semakin mengemuka dalam ungkapan berikut ini:

“Jika anda pemimpin amanah dan jujur, maka orang-orang jahat dan munafik akan kehilangan marketnya. Dagangan mereka menjadi tidak laku dan dijauhi pembeli. Tetapi jika anda pemimpin munafik, maka rakyat yang jujur dan kreatif akan meninggalkan anda, dan mereka enggan menawarkan hasil kreasinya kepada anda.”

Universalitas Keadilan

Kedua tipologi pemimpin di atas dapat menjelaskan kepada kita bahwa hakikat manusia lebih cenderung bersahabat dengan orang yang sepaham dan sependirian dengannya. Jika pemimpin itu korup, maka dia pun akan dikerubungi oleh mereka yang sukanya menjilat, penipu dan komprador yang berebut ingin memanfaatkan peluang korupsinya. Tapi jika pemimpin itu kredibel dan amanah, senantiasa yang mengunjunginya dari kalangan orang-orang baik dan bijak. Hingga karya dan kreasi orang cerdas dan jujur akan memperoleh peluang pasar yang menguntungkan.

BACA JUGA  Solidaritas Muslim Berbagi Mushaf dan Sembako kepada 150 Muallaf Bukit Menoreh

Dengan ini semakin kentara garis pemisah antara keduanya. Karena jika pemimpin itu menuruti petuah orang-orang yang tidak kredibel, dukun, “orang pintar” dan sejenisnya, niscaya dia akan berkorban untuk sesuatu yang diharamkan oleh Allah Swt. Tetapi, jika dia akrab dengan orang-orang cerdas dan berilmu, arif dan bijak (soleh), maka kedekatan dengan Allah akan terjaga dengan baik. Selain itu, jika sang pemimpin loyal kepada rakyatnya, maka para menteri dan segenap kaki-tangannya senantiasa terdorong untuk bersikap loyal kepada kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Khalifah Abu Bakar r.a. pernah tersinggung ketika seorang nenek pengemis Yahudi disuapi roti yang kurang halus. Seketika ia pun bertanya, “Mengapa roti ini rasanya berbeda dengan roti yang saya makan beberapa waktu lalu?”

“Orang yang menyuapi nenek sudah tidak ada,” jawab Abu Bakar sedih.

“Jadi, siapakah yang menyuapi saya waktu itu?”

“Muhammad Rasulullah.”

Dengan pandangan menerawang nenek tua itu membayangkan Muhammad, sosok pemimpin adil yang selama ini dihujat dan dicaci-maki olehnya. Dalam batinnya sang nenek menangis dan menyadari kekhilafannya, hingga kemudian menyatakan ke-Islamannya.

Kini pertanyaannya adalah, mengapa kemakmuran dan kesejahteraan belum juga kunjung tiba di negeri yang kita cintai ini. Selayaknya kita bersikap jujur dan legowo, lantas berkaca pada diri sendiri, apakah kita ini sudah tergolong hamba yang bertauhid dan bertaqwa kepada Allah. Satu-satunya Yang layak disembah dan dimintai pertolongan. Ataukah ketuhanan kita masih diselubungi mitos-mitos, dicampuri vested interest yang menempatkan Allah di posisi ke sekian, setelah urusan harta, pangkat dan jabatan, sambil bersandar pada benda pusaka, kuburan keramat, bukit-bukit peziarahan yang tak layak dijadikan pegangan.

Bukankah seseorang telah membuat pengakuan tanpa bukti, jika di satu sisi dia menyatakan Islam secara “kaffah”, namun di sisi lain dia berpegang pada petuah-petuah orang yang secara keilmuwan tak layak dijadikan pegangan kebenaran dan kebaikan?


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Potret Ulama

Kata ulama “mendadak” menjadi kata yang biasa diucapkan dalam keseharian umat Islam di Indonesia. Sebabnya jelas, rentetan peristiwa nasional yang melibatkan umat Islam akhir-akhir ini memang selalu melibatkan kata ulama, tercatat dimulai sejak skandal “dibohongi pakai Al Maidah” oleh Ahok pada 2016, aksi 411, aksi 212, reuni 212, ijtima ulama yang berjilid-jilid, hingga pemutaran film Hayya pada pertengahan September 2019.

Rabu, 13/05/2020 23:00 0

Indonesia

PKS Tolak TAP MPRS Pelarangan Komunisme Tak Dimasukkan RUU HIP

PKS secara tegas meminta TAP MPRS XXV/1966 dimasukkan sebagai konsideran RUU HIP

Rabu, 13/05/2020 19:09 0

Suara Pembaca

Aksi Galang Sembako untuk Masyarakat Terdampak Covid-19 Bersama Sagacov-19

Sejak Januari lalu, negeri kita mulai sakit. Kian bertambahnya waktu, sakit itu semakin parah dan...

Rabu, 13/05/2020 14:45 0

Arab Saudi

Saudi Berlakukan Jam Malam Selama Idul Fitri

KIBLAT. NET,  Riyadh — Kementerian Dalam Negeri Saudi mengumumkan pemberlakuan jam malam di semua wilayah...

Rabu, 13/05/2020 10:44 0

Palestina

Tentara Israel Tewas Terkena Lemparan Batu Pejuang Palestina

KIBLAT. NET,  Tepi Barat — Tentara Israel mengumumkan pada Selasa (12/05/2020)  bahwa satu anggotanya tewas...

Rabu, 13/05/2020 09:07 0

Indonesia

MUI: Status Covid-19 Belum Jelas, Tetap Jaga Diri

MUI meng imbau untuk mengedepankan pendekatan pemeliharaan dan penjagaan diri (hifdzun nafsi)

Selasa, 12/05/2020 20:50 0

Fikih

Sahkah I’tikaf di Rumah Saat Terjadi Pandemi Corona?

Sudah menjadi kebiasaan kaum muslimin memakmurkan bulan Ramadhan dengan amalan kebaikan dan ketakwaan. Tilawah Al-Quran, sedekah, sholat taraweh adalah amalan yang biasa dilakukan untuk memakmurkan bulan Ramadhan, meskipun saat pandemi virus melanda negeri-negeri kaum muslimin. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana dengan itikaf? i'tikaf adalah ibadah yang mensyaratkan masjid sebagai tempatnya, sedangkan di musim pandemi masjid-masjid ditutup sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus.

Selasa, 12/05/2020 14:19 0

Amerika

Gangster Kejam di Meksiko Tewas Kena Corona

Menurut laporan BBC, Escamella dijatuhi hukuman penjara 37 tahun karena perdagangan narkoba dan senjata, serta pembunuhan 12 orang yang dipenggal pada 2008.

Selasa, 12/05/2020 11:11 0

Afrika

Nama Hijrahnya “Aisyah”, Masuk Islam saat Ditahan Jihadis Somalia

Wanita muda Italia Silvia Romano, yang baru-baru ini dibebaskan setelah ditahan selama 18 bulan oleh Gerakan Pemuda Mujahidin (Al-Syabaab) di wilayah antara Kenya dan Somalia.

Selasa, 12/05/2020 10:35 0

China

Soal Pelarungan Jenazah ABK, China Anggap Laporan Media Tidak Sesuai Fakta

Pemerintah China berjanji akan serius menindaklanjuti laporan mengenai pelarungan jenazah tiga anak buah kapal asal Indonesia dan dugaan eksploitasi terhadap ABK lainnya yang bekerja pada kapal pencari ikan berbendera China.

Selasa, 12/05/2020 10:14 0

Close