... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Potret Ulama

Penulis: Azzam Diponegoro

KIBLAT.NET – Kata ulama “mendadak” menjadi kata yang biasa diucapkan dalam keseharian umat Islam di Indonesia. Sebabnya jelas, rentetan peristiwa nasional yang melibatkan umat Islam akhir-akhir ini memang selalu melibatkan kata ulama, tercatat dimulai sejak skandal “dibohongi pakai Al Maidah” oleh Ahok pada 2016, aksi 411, aksi 212, reuni 212, ijtima ulama yang berjilid-jilid, hingga pemutaran film Hayya pada pertengahan September 2019.

Tenarnya istilah ulama di ruang publik umat Islam Indonesia sejatinya bukan tanpa kritik. Tentu ada pihak-pihak yang kurang sreg dengan hal tersebut. Salah satunya Abdul Moqsith Ghazali, dalam postingan facebook-nya pada tanggal 18 November 2016 ia secara tidak langsung menyindir penyematan gelar ulama pada beberapa publik figur.

“Ulama adalah orang yang kaya ilmu, ilmunya itu yang mengantarkannya hanya takut kepada Allah. So, orang berilmu tapi tak takut kepada Allah, ya bukan ulama. Sebaliknya, orang yang takut kepada Allah tapi tak berilmu, ya bukan ulama.”[1]

Abdul Moqsith juga menyoroti fenomena “kelatahan” sebagian umat Islam dalam menyebut seseorang sebagai ulama.

“Para muballigh yang sering kita elu-elukan itu belum tentu ulama. Apalagi muballigh yang hanya tahu satu dua hadits. Seorang kiai belum tentu ulama jika dia tak memiliki kedalaman ilmu pengetahuan. Sebab, jika sebutan kiai bisa diberikan pada siapa saja, maka tidak demikian dengan sebutan ulama.”[2]

Lebih lanjut, Moqsith menekankan bahwa ulama bukanlah perkara main-main yang bisa disematkan secara serampangan kepada siapapun.

“Tak mudah menemukan ulama dengan kriteria itu.Mencari ulama di akhir zaman seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.”[3]

Dan tak lupa, Abdul Moqsith mengutip sebuah hadits yang berbunyi: “Akan datang satu era pada umatku; terjadi surplus para penceramah tapi defisit orang yang dalam ilmu agama.”[4]

Sejatinya tak ada yang salah dengan kritikan Abdul Moqsith. Namun melihat sepak terjangnya, ketika dirinya sudah kadung dipandang sebagai ikon Islam liberal oleh sebagian pihak, rasa-rasanya sulit jika kita menggunakan pendapatnya untuk menasehati banyak pihak.

Oleh karena itu, ada baiknya kita mencari duduk perkara terkait siapa ulama dan bagaimana seharusnya seorang ulama melalui pendapat sosok yang tidak kontroversial dan tentunya dihormati oleh semua pihak terkhusus dalam barisan umat Islam Indonesia.

Salah satunya adalah KH. Hasyim Asy’ari, ulama kelahiran Jombang, Jawa Timur pada 24 Dzulqa’dah 1287 H/14 Februari 1871 M ini termasuk ulama yang cukup aktif dan produktif dalam menuliskan buah pikirannya kedalam sebuah kitab. Salah satu kitab tulisannya adalah Adabul  ‘Alim wa al-Muta’allim yang menjelaskan perihal etika atau adab yang harus dimiliki oleh seorang guru ataupun murid.

Dalam Adabul  ‘Alim wa al-Muta’allim, KH. Hasyim Asy’ari menjelaskan bahwa ulama bukanlah sekedar orang yang memiliki kedalaman ilmu, namun juga harus mempergunakan ilmunya bukan untuk kepentingan duniawi.

BACA JUGA  Memahami New Normal ala Pak Jokowi

“Jadi, tidaklah termasuk di dalamnya mereka (paraulama) yang menggunakan ilmunya demi semata-mata mencari kesenangan-kesenangan duniawi, seperti mencari kedudukan, kekayaan, reputasi, pengaruh, jabatan, dan lain sebagainya.”[5]

Beliau menyebutkan bahwa ulama adalah orang-orang yang senantiasa mengamalkan ilmunya dengan landasan ketakwaan kepada Allah SWT, mengharap ridho-Nya, serta demi mendekatkan diri kepada-Nya. [6]

Dan ketika seorang ulama sudah berlaku seperti itu, maka dia akan mendapatkan keistimewaan yang hanya diberikan kepadanya oleh Allah SWT. Keistimewaan tersebut berupa ditinggikannya derajat dirinya di antara para manusia oleh Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Mujadilah ayat 11,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Hasyim Asy’ari menerangkan bahwa maksud redaksi ayat di atas adalah, “Allah akan mengangkat derajat para ahli ilmu (ulama) yang senantiasa mengamalkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki.”[7]

Tak lupa, KH. Hasyim juga merinci perihal setinggi apa derajat yang akan didapatkan oleh para ulama. Beliau mengutip sebuah hadits yang bersumber dari sahabat Ibnu Abbas RA yang berbunyi: “Perbandingan antara derajat ulama atas orang-orang mukmin yang lain adalah 1 berbanding 700, di mana antara derajat yang satu dengan yang lainnya ditempuh selama 500 tahun.”

KH. Hasyim juga menekankan bahwa derajat ulama sangatlah luhur, sebagaimana bunyi hadits yang sangat terkenal  “ulama adalah pewaris para Nabi”. Terkait hadits tersebut, beliau menjelaskan:

“Kedudukan ulama sebagai pewaris para nabi sebagaimana dinyatakan dalam hadits di atas sangat menjelaskan kepada kita betapa luhurnya derajat mereka di sisi Allah SWT. Bagaimana tidak, mengingat derajat para nabi merupakan derajat paling luhur di sisi Allah SWT. Maka tentunya tidak ada satu pun derajat atau kemuliaan lain setelahnya yang lebih baik daripada derajat dan kemuliaan mereka (ulama) sebagai satu-satunya pewaris nabi.”[8]

Potret Ulama

Abu Hafs Sufyan Al-Jazairy dalam tulisannya yang berjudul Ashnaful Ulama wa Awshofuhum membagi tipe-tipe ulama menjadi tiga, yaitu ulama kondang, ulama pemerintah, dan ulama agama.[9]

Yang dimaksud dengan ulama kondang di sini bukanlah sekedar ulama yang banyak dikenal orang namun lebih kepada perilaku mereka yang senantiasa berusaha untuk mewujudkan apa yang diinginkan oleh orang banyak.

“Dia bekerja keras untuk memenuhi keinginan mereka dan senantiasa berusaha untuk mewujudkan apa yang diinginkan oleh orang banyak.”[10]

Ulama kondang, lanjut Al-Jazairy, dalam dirinya hanya terbersit niatan untuk selalu mendapat pengikut yang menggemarinya sebanyak-banyaknya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat marah para pengikutnya. Pada akhirnya, ia harus menuruti hawa nafsu pengikutnya dan terpaksa menyelisihi dalil-dalil yang ia hafalkan selama ini.[11]

Sungguh merugi ulama yang berlaku demikian. Dikarenakan orang yang bekerja untuk kepuasan manusia pada hakikatnya sedang melakukan perbuatan sia-sia. Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda:

BACA JUGA  Cegah Second Wave, Anies Akan Batasi Arus Balik

“Barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan kemurkaan manusia, maka Allah akan ridha kepadanya dan akan membuat manusia ridha kepadanya. Sedangkan orang yang mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan akan membuat manusia murka kepadanya.” (HR Ibnu Hibban)

Lalu tipe yang kedua adalah ulama pemerintah, mereka selalu taat kepada semua perintah penguasa. Kerja mereka membungkam kritik terhadap penguasa, memperkuat posisi politik, serta menyokong kekuasaannya.

Al-Jazairy mengungkapkan “ciri khas” ulama tipe kedua yaitu senantiasa mengkampanyekan wajibnya mentaati ulil amri versi mereka serta larangan melawannya berdalilkan perkataan salaf. Namun mereka melupakan satu hal, yaitu fakta bahwa para salaf senantiasa berhati-hati ketika mendapuk seorang pemimpin sebagai ulil amri. Tidak serampangan, siapapun yang berkuasa lantas digelari  ulil amri. Mengingat konsekuensi yang berat akan mengiringi gelar tersebut.[12]

Adapun tipe ketiga yaitu ulama agama merupakan ulama yang konsisten dalam mengikuti dalil. Mereka mengamalkan ilmunya demi mencari ridha Allah. Mereka senantiasa berusaha untuk mencari kebenaran.

Al-Jazairy menyebutkan ulama agama setidaknya mempunyai tujuh karakteristik, yaitu[13]:

  1. Merupakan manifestasi sifat ilmu.
  2. Mengamalkan ilmunya.
  3. Mendakwahkan kebenaran seperti yang ia pahami dan ajarkan.
  4. Selalu merasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
  5. Berani menyampaikan kebenaran ketika dibutuhkan.
  6. Tidak melalaikan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar demi tujuan duniawi.
  7. Memimpin dan mengarahkan umat manakala mereka kehilangan pemimpin dan imam.

Ulama agama, tegas Al-Jazairy, mereka senantiasa berupaya menghapus segala bentuk penyimpangan orang-orang yang terlalu berlebihan, serta mematahkan segala argumen orang yang membantah dan menakwilkan secara keliru. Mereka tidak akan sekalipun merasa menderita atas ulah orang-orang yang memusuhi mereka. Karena  mereka telah menyerahkan segala sesuatu yang berkaitan dengan hasil akhir hanya kepada Allah SWT, sang penguasa alam semesta.[14]

Kesimpulan

Baik KH. Hasyim Asy’ari maupun Abu Hafs Sufyan Al-Jazairy telah berikhtiar menyampaikan gambaran yang cukup jelas bagi kita untuk menemukan duduk perkara terkait istilah ulama. Secara umum, kita dapat menyimpulkan bahwa gelar ulama bukanlah hal main-main, yang bisa “seenaknya” kita sematkan kepada siapapun yang nampak berilmu. Namun di tengah kehati-hatian tersebut, kita sebagai seorang mukmin juga tak boleh lupa untuk bersikap hormat terhadap para ulama, mengingat tingginya derajat mereka di sisi Allah SWT.

 

Referensi:

[1] https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10206347785248023&id=1669012426&sfnsn=mo

[2] Ibid

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Asy’ari, KH. M. Hasyim (2007). Etika Pendidikan Islam, Petuah KH. M. Hasyim Asy’ari untuk para guru (kyai) dan murid (santri). Yogyakarta: Tiara Wacana.

[6] Ibid

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] Al-Jazairy, Abu Hafs Sufyan (2011). Potret Ulama: Antara yang Konsisten dan Penjilat. Solo: Jazera.

[10] Ibid

[11] Ibid

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Ibid


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Info Event

Maksimalkan 10 Hari Terakhir Ramadan dengan Zakat Lewat IndonesiaDermawan.id

Maksimalkan 10 Hari Terakhir Ramadan dengan Zakat Lewat IndonesiaDermawan.id

Rabu, 13/05/2020 19:15 0

Indonesia

PKS Tolak TAP MPRS Pelarangan Komunisme Tak Dimasukkan RUU HIP

PKS secara tegas meminta TAP MPRS XXV/1966 dimasukkan sebagai konsideran RUU HIP

Rabu, 13/05/2020 19:09 0

Suara Pembaca

Aksi Galang Sembako untuk Masyarakat Terdampak Covid-19 Bersama Sagacov-19

Sejak Januari lalu, negeri kita mulai sakit. Kian bertambahnya waktu, sakit itu semakin parah dan...

Rabu, 13/05/2020 14:45 0

Suara Pembaca

Pandemi Corona dan Pandemi Kebodohan

Sudah bodoh, tertimpa corona.

Rabu, 13/05/2020 13:34 3

Arab Saudi

Saudi Berlakukan Jam Malam Selama Idul Fitri

KIBLAT. NET,  Riyadh — Kementerian Dalam Negeri Saudi mengumumkan pemberlakuan jam malam di semua wilayah...

Rabu, 13/05/2020 10:44 0

Palestina

Tentara Israel Tewas Terkena Lemparan Batu Pejuang Palestina

KIBLAT. NET,  Tepi Barat — Tentara Israel mengumumkan pada Selasa (12/05/2020)  bahwa satu anggotanya tewas...

Rabu, 13/05/2020 09:07 0

Info Event

Operasi Makan Gratis Bersama GASS di Jakarta

Bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT), Gabungan Artis dan Seniman Sunda (GASS) menyediakan 500 porsi hidangan iftar gratis

Selasa, 12/05/2020 21:16 0

Indonesia

MUI: Status Covid-19 Belum Jelas, Tetap Jaga Diri

MUI meng imbau untuk mengedepankan pendekatan pemeliharaan dan penjagaan diri (hifdzun nafsi)

Selasa, 12/05/2020 20:50 0

Fikih

Sahkah I’tikaf di Rumah Saat Terjadi Pandemi Corona?

Sudah menjadi kebiasaan kaum muslimin memakmurkan bulan Ramadhan dengan amalan kebaikan dan ketakwaan. Tilawah Al-Quran, sedekah, sholat taraweh adalah amalan yang biasa dilakukan untuk memakmurkan bulan Ramadhan, meskipun saat pandemi virus melanda negeri-negeri kaum muslimin. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana dengan itikaf? i'tikaf adalah ibadah yang mensyaratkan masjid sebagai tempatnya, sedangkan di musim pandemi masjid-masjid ditutup sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus.

Selasa, 12/05/2020 14:19 0

Amerika

Gangster Kejam di Meksiko Tewas Kena Corona

Menurut laporan BBC, Escamella dijatuhi hukuman penjara 37 tahun karena perdagangan narkoba dan senjata, serta pembunuhan 12 orang yang dipenggal pada 2008.

Selasa, 12/05/2020 11:11 0

Close