Dakwah Rahasia dan Rumah Arqam bin Abil Arqam Sebagai Pusat Komando

KIBLAT.NET – Setelah melihat beberapa kejadian di beberapa tempat di sudut kota Makkah, ternyata dakwah Islam sudah didengar orang-orang Quraisy pada tahapan ini. Sekalipun dakwah itu masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan perorangan.

Namun, mereka tidak ambil peduli. Muhammad Al-Ghazali menuturkan, kabar tentang dakwah Islam ini sudah mulai menyebar di kalangan orang-orang Quraisy, namun mereka tidak ambil peduli. Sebab, mereka mengira bahwa Muhammad hanya salah seorang di antara mereka yang peduli terhadap urusan agama yang suka berbicara tentang masalah ketuhanan dan hak-haknya.

Seperti yang biasa dilakukan Umayyah bin Ash-Shallat, Qus bin Sa’idah, Amr bin Nufail dan orang-orang yang lain. Tetapi, lama-kelamaan ada pula perasaan khawatir yang mulai menghantui mereka karena pengaruh tindakan beliau. Oleh karena itu mereka mulai menaruh perhatian terhadap dakwah Nabi.

Selama tiga tahun dakwah masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan perorangan. Selama jangka waktu ini telah terbentuk sekelompok orang-orang Mukmin yang senantiasa menguatkan hubungan persaudaraan dan saling bahu membahu. Perjalanan dakwah pada masa ini menyimpan banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik ranum hikmahnya.

Kegigihan Nabi dalam Dakwah

Nabi terus gigih dalam berdakwah sembunyi-sembunyi terutama pada mereka yang bisa diajak bergabung. Ajakan ini disambut dengan tangan terbuka setelah mereka diberikan penjelasan yang memuaskan tentang Islam. Mereka adalah para penolong dan sandaran yang baik bagi Rasulullah dalam memperluas lingkaran dakwah.

Dalam periode genting ini muncullah pelbagai kesulitan dan rintangan dalam aktivitas dakwah Nabi dan sahabat di sekitar beliau. Mereka hanya menyampaikan risalah ini kepada orang yang diyakini aman dari kejahatannya. Ini menunjukkan dakwah berjalan lambat dan penuh kewaspadaan.

Instruksi-instruksi dakwah sulit untuk diterima dan dilaksanakan jika orang yang masuk ke dalam agama ini sudah diwajibkan untuk salat dan mempelajari Al-Quran. Tidak mungkin salat dilakukan di depan kaummnya, demikian pula membaca Al-Quran. Bahkan disebutkan bahwa kaum muslimin saat itu bersembunyi di gang dan lembah jika ingin salat.

  1. Kewaspadaan

Di antara karakter periode ini adalah kerahasiaan dan dilaksanakan secara diam-diam. Instruksi Nabi tentang kewajiban menjaga kerahasiaan  dakwah pada saat itu sangat jelas. Beliau membagi beberapa kelompok, kelompok ini bersembunyi untuk kewaspadaan dan latihan, bukan karena takut atau gentar, sesuai dengan  tuntutan dan perencanaan.

BACA JUGA  Pria Palestina Ini Dipenjara Israel Selama 39 Tahun

Rasul mengumpulkan satu atau dua orang yang masuk Islam kepada seseorang yang kuat dan memiliki kelapangan harta. Orang itu bersandar dengannya dan mendapatkan kelebihan makanan darinya. Nabi juga menjadikan mereka beberapa halaqah. Orang yang telah hafal beberapa ayat Al-Quran bisa mengajari saudaranya yang belum hafal. Dengan demikian, kelompok-kelompok kecil ini menjadi keluarga yang bersaudara  dan kelompok studi.

Rasulullah langsung turun tangan  dalam mendidik para sahabat dalam segala dimensi. Sebagai contoh Fatimah binti Khattab dan suaminya, Said bin Zaid yang merupakan saudara sepupu Umar bin Khattab berada dalam satu keluarga bernama Nu’aim bin Abdillah An-Nahham bin ‘Adi. Guru mereka adalah Khabbab bin Al-Art. Aktivitas mereka dengan Al-Quran tidak terbatas pada mempelajari tajwid, harakat dan makharijul huruf, mengulang-mengulanginya dan membacanya dengan cepat, namun obsesi mereka adalah mempelajari,memahami, mengetahui perintah dan larangannya, kemudian mengamalkannya.

Nabi membuat perencanaan yang matang dan teratur serta mempertimbangkan segala sesuatu yang akan terjadi. Beliau tahu bahwa suatu saat nanti akan turun perintah dakwah terang-terangan. Periode ini akan mencapai klimaks. Jamaah yang beriman dan teratur ini membutuhkan pertemuan dengan Rasulullah yang akan mendidik para sahabat.

Dengan demikian, tempat pertemuan menjadi sebuah kemestian untuk mereka miliki. Rumah Khadijah tidak cukup untuk menampung seluruh pengikut Rasulullah. Oleh karena itu, pilihan Rasul dan sahabatnya jatuh pada rumah Arqam bin Abil Arqam. Nabi mengetahui bahwa situasi saat itu membutuhkan kejelian yang besar dalam kerahasiaan dan keteraturannya. Sang murabbi harus bertemu dengan orang yang dididik di tempat aman dari pandangan masyarakat QUraisy. Sebab itu adalah sarana terbaik dalam pendidikan amal dan teori serta dalam membangun kepemimpinan dakwah.

Di antara yang menunjukkan bahwa Rasulullah mempersiapkan pengikutnya untuk menjadi elemen negara, penggerak dakwah dan pemimpin seluruh bangsa adalah keinginan beliau yang besar terhadap keteraturan dan kerahasiaan yang besar. Seandainya beliau hanya seorang da’i, niscaya beliau tidak membutuhkan semua ini.

BACA JUGA  Netanyahu Perintahkan Pembangunan Rumah di Tepi Barat Dilanjutkan

Seandainya beliau hanya sekadar dakwah, maka tempat terbaik untuk itu adalah Ka’bah yang menjadi pusat pertemuan seluruh kaum Quraisy. Akan tetapi, masalahnya tidak seperti itu. Oleh karena itu, dibutuhkan kerahasiaan yang sempurna tentang pengaturannya, tempat pertemuan dengan para sahabat beliau, bahkan tentang cara mereka sampai ke tempat pertemuan itu.

  1. Rumah Arqam bin Abil Arqam sebagai Pusat Komando

Buku-buku sirah menyebutkan bahwa pemilihan rumah Arqam sebagai pusat komando Rasulullah dilakukan setelah perlawanan pertama yang ditunjukkan oleh Sa’ad bin Abi Waqash. Ibnu Ishaq mengatakan,

“Apabila sahabat-sahabat  Rasulullah mengerjakan shalat, mereka pergi ke gang-gang kota Makkah. Mereka menyembunyikan shalat dari kaum Quraisy. Pada suatu ketika Sa’ad bersama beberapa orang sahabat berada di salah satu gang di kota Makkah. Tetiba beberapa orang musyrik datang pada saat mereka shalat. Orang-orang itu mencela dan mencaci Sa’ad beserta sahabatnya tentang apa yang mereka lakukan. Lalu terjadilah perkelahian. Pada saat itu, Sa’ad memukul seseorang dari kaum musyrik dengan kayu penyangga unta dan membuatnya terluka. Peristiwa ini adalah darah pertama yang tertumpah dalam Islam.”

Rumah Arqam yang tersembunyi menjadi pusat dakwah yang baru sebagai tempat pertemuan seluruh kaum muslimin. Di sana mereka menerima wahyu baru yang diturunkan kepada Rasulullah. Di sana mereka mendengar nasihat beliau. Di sana mereka juga diingatkan tentang Allah dan bacaan Al-Quran. Di sana mereka juga menumpahkan kepada beliau apa yang mereka rasakan dan yang ditemui di lapangan. Di sana beliau mendidik para sahabat seperti Allah mendidik Rasul-Nya. Jamaah ini menjadi penyejuk hati Nabi.

Mengapa rumah Arqam yang dipilih? Materi apa yang diajarkan di sana? Bagaimanakah ciri khas jamaah pertama yang dididik Rasulullah? Dapatkan jawabannya di edisi berikutnya, Insya Allah.

Redaktur : Dhani El_Ashim

Sumber :

  1. Ar-Rahiq Al-Makhtum Bahtsun fis Siratin Nabawiyyati ‘ala Shahibiha Afdhalush Shalati was Sallam, karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
  2. Sirah Nabawiyah, karya Prof. Dr Muhammad Ali Ash-Shallabi

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat