Invasi Komunis dalam Situasi Krisis, Pelajaran dari Afghanistan

Oleh: Ray Adi Basri, pengamat isu politik Islam

KIBLAT.NET – Malam Jumat tanggal 27 Desember 1979, 700 tentara Soviet berpakaian seragam Afghanistan bergerak menguasai ibukota Kabul. Di antara mereka terdiri dari pasukan khusus dinas rahasia KGB dan GRU, Grup Alpha dan Grup Zenith. Dengan cepat mereka menduduki gedung-gedung penting, militer dan media utama di Kabul, termasuk target utama mereka, Istana Kepresidenan Tajbeg.

Operasi dimulai pada pukul 19:00, ketika Grup Zenith menghancurkan pusat komunikasi Kabul, melumpuhkan komando militer Afghanistan. Limabelas menit kemudian, serangan di Istana Tajbeg dimulai. Sesuai rencana, istana berhasil dikuasai dan Presiden Hafizullah Amin terbunuh.

Tragisnya Amin malah menyangka bahwa serangan dilakukan oleh kelompok oposisi Muslim. Ia sama sekali tak menyangka yang menyerang adalah sekutu komunisnya sendiri. Secara bersamaan, target-target lain diduduki, termasuk Kementerian Dalam Negeri pada pukul 19:15. Operasi selesai sepenuhnya pada pagi hari 28 Desember 1979.

Sebulan sebelumnya, pada tanggal 31 Oktober 1979, para penasehat militer  Soviet yang telah lama didatangkan Rejim komunis mengacaukan pertahanan negeri. Mereka menyuruh militer Afghan agar menyervis tank dan peralatan militer penting lainnya. Ternyata itu tipu daya untuk melumpuhkan militer Afghanistan, invasi terjadi saat tank dan alutsista menjalani pemeliharaan.

Sementara itu, hubungan telekomunikasi ke daerah di luar Kabul diputus, membuat  ibukota terisolir. Mirip tapi lebih parah dibandingkan situasi Jakarta yang diisolasi PSBB Corona hari ini. Dengan situasi keamanan yang memburuk, sejumlah besar Pasukan Lintas Udara Soviet bergabung dengan pasukan darat yang ditempatkan dan mulai mendarat di Kabul pada tanggal 25 Desember.

BACA JUGA  Jejak Dakwah Habib untuk Bangsa

Secara bersamaan, Amin yang ditakut-takuti kudeta oposisi dan serangan Mujahidin memindahkan kantor presiden ke Istana Tajbeg, percaya bahwa lokasi ini lebih aman dari kemungkinan ancaman. Menurut para perwira Soviet,  Jenderal Tukharinov dan Merimsky, Amin sepenuhnya diberitahu tentang gerakan militer Beruang Merah.

Perang Afghan-Soviet

Bahkan Amin sendiri yang meminta tambahan bantuan militer Soviet ke Afghanistan pada 17 Desember. Kedatangan pasukan Soviet dipandu oleh saudara Amin sendiri. Ia dan Jenderal Dmitry Chiangov bertemu dengan komandan Angkatan Darat ke-40 sebelum pasukan Soviet memasuki negara itu, untuk merencanakan rute dan lokasi awal untuk pasukan Soviet.

Setelah berhasil menguasai Kabul, Komando militer Soviet di Termez, Uzbekistan, mengumumkan lewat Radio Kabul bahwa Afghanistan telah dibebaskan dari kekuasaan Amin. Menurut Politbiro partai Komunis Soviet, mereka memenuhi klausul dalam Perjanjian Persahabatan, Kerjasama, dan Tetangga Baik 1978, dan Amin “dieksekusi oleh pengadilan atas kejahatannya” oleh Komite Sentral Revolusioner Afghanistan.

Komunis Vs Komunis

Komite itu kemudian memilih mantan Wakil Perdana Menteri Babrak Karmal sebagai kepala pemerintahan. Sebelumnya Karmal telah diturunkan jabatannya oleh Amin dan “dibuang” ke  Cekoslowakia sebagai  duta besar. Faksi Karmal dalam Partai Komunis Afghanistan disingkirkan oleh Amin. Mereka kemudian meminta bantuan militer Soviet.

Awalnya, komunis berkembang di Afghanistan dalam bentuk Partai Demokrasi Rakyat Afghanistan, People Democratic Party of Afghanistan alias PDPA yang berideologi Marxis. Perkembangan pesatnya terutama saat  sepupu Raja Zahir Syah, Mohammad Daoud Khan, menjabat sebagai Perdana Menteri dari tahun 1954 hingga 1963.

Pada tahun 1967, PDPA, jangan keliru dengan PDIP ya, terpecah menjadi dua faksi saingan, faksi Khalq (Rakyat) yang dipimpin oleh Nur Muhammad Taraki dan faksi Hafizullah Amin dan faksi Parcham (Bendera) yang dipimpin oleh Babrak Karmal.

BACA JUGA  Membaca Langkah Biden di Afghanistan

Mantan Perdana Menteri Daoud merebut kekuasaan dalam kudeta militer pada 17 Juli 1973 setelah pemerintah Raja Zahir Syah diserang tuduhan korupsi dan kondisi ekonomi yang buruk. Daoud mengakhiri rejim monarki. Namun kekuasaannya tidak populer karena penghapusan monarki tidak disetujui secara luas dalam masyarakat Afghan yang konservatif.

Daoud Khan menyebut dirinya sebagai seorang reformis, tetapi sedikit dari reformasinya yang pernah dilaksanakan dan pemerintahannya menjadi semakin represif. Ia bermusuhan dengan tetangga Muslimnya, Pakistan, dan semakin merapat pada adidaya komunis, Uni Soviet.

Pada tanggal 27 April 1978, elemen komunis dalam militer Afghanistan yang ditunggangi PDPA, menggulingkan dan mengeksekusi Daoud bersama keluarganya. Nur Muhammad Taraki, Sekjen PDPA, menjadi Presiden Dewan Revolusi dan Perdana Menteri Republik Demokratik Afghanistan yang baru didirikan. Namun Taraki tewas dibunuh Amin, kameradnya sendiri, dalam intrik politik.

Amin pun berkuasa selama setahun, sepenuhnya menjadi boneka Soviet. Kaum Muslimin Afghanistan melawan dengan gigih rejim komunis. Daripada komunisme kalah, Amin yang dianggap tidak becus mengelola krisis di dalam negeri akhirnya dihabisi dan negerinya diinvasi.

Invasi Saat Krisis

Belajar dari pengalaman Afghanistan, ada sebuah pelajaran besar. Bahwa berkuasanya rejim yang didukung oleh adidaya komunis tak menjamin negeri itu aman dari invasi patronnya. Boneka memang menjalankan perintah majikan, namun jika bonekanya dungu dan tak  mampu mengendalikan negeri, majikan tak segan membantingnya.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat