Sang Penggerak Itu Bernama Hati

Oleh: Azzam Diponegoro

KIBLAT.NET – Sesungguhnya di dalam tubuh kita ada segumpal daging, yang bilamana daging itu baik maka baiklah seluruh badan kita. Eksistensi hati dalam tubuh kita bagaikan seorang panglima yang mempunyai kewenangan mutlak dalam mengatur seluruh pasukannya. Dialah awal mula kelahiran sebuah tekad dan niat yang akan menjadi pedoman bagi anggota badan yang lain dalam bekerja. Instruksi hati lah yang akan mengarahkan anggota badan yang lain untuk berbuat dan bertindak, entah ke arah yang baik ataupun arah yang buruk, kepada cahaya kebenaran ataupun gulita kebathilan, kepada indahnya kebaikan ataupun tipu daya keburukan.

Sahabat Hudzaifah bin Yaman mengkategorikan hati menjadi empat kategori. Yang pertama adalah hati yang hidup dan bersih, di dalamnya terpancar cahaya keimanan. Cahaya yang menyebabkan sang pemilik akan selalu membuka tangannya kepada kebenaran dan mengunci rapat-rapat pintu rumahnya untuk kebathilan yang hadir. Cahaya yang membawa pemiliknya kepada kesegaraan yang dipenuhi antusiasme terhadap ajakan-ajakan kebaikan dan menolak kemungkaran pada pandangan pertama.

Yang kedua adalah hati yang tertutup, tertutup dari cahaya dakwah sehingga menjadikannya gelap gulita. Pemilik hati ini akan selalu menolak kebenaran dan tak akan menerima apapun kecuali keburukan saja. Inilah hati orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran dikarenakan kesombongan mereka sehingga Allah menghukum mereka dengan “kematian” hati mereka.

Yang ketiga adalah hati yang terbalik. Inilah hati-hati orang munafik, orang yang telah mengetahui esensi sebuah kebenaran tetapi justru mengingkarinya. Telah melihat hakikat kebenaran namun justru berpura-pura buta dan berperilaku seperti orang buta dalam kesehariannya. Mereka merasa telah mampu menipu Allah SWT, padahal mereka tidak sedang menipu siapapun melainkan diri mereka sendiri.

Yang keempat adalah hati yang memiliki dua unsur, yaitu keimanan dan kemunafikan. Hati seperti ini akan bergantung kepada unsur mana yang mendominasi. Jika sang pemilik bergaul dengan orang-orang beriman maka dia akan menghirup dan meresapi wanginya keimanan. Sebaliknya ketika dia berbaur dengan pelaku keburukan maka kulitnya akan melepuh terkena panasnya percikan-percikan api kemungkaran.

Kekuatan Hati dan Pilihan

Pilihan bagi seorang manusia adalah keniscayaan. Tidak ada manusia yang bisa menjalani hidup tanpa pilihan, bahkan kepasrahan dan puncak keputusasaan yang membawa diri seseorang terdiam di tempat tanpa sikap itu pun sebuah pilihan. Ya, kata pilihan mengandung makna absolut; tidak memilih itu pun sebuah pilihan.

Arah pilihan manusia sangat-sangat beragam, namun bisa digeneralisir setidaknya menjadi dua arah. Yaitu baik buruk, benar salah, atau dalam bahasa Al Quran dikenal sebagai al Haq dan al Bathil. Ke arah mana seseorang melangkah ditentukan oleh kondisi hatinya sebagai penggerak dan pemberi inisiatif.

Menurut Ibnu Qoyyim Al Jauziah hati mempunyai dua kekuatan dasar yang akan mempengaruhi sikap dan keputusan seseorang dalam menentukan pilihannya.

Yang pertama adalah quwwatul ilmi (kekuatan untuk mengetahui), untuk mengetahui dan memahami kebenaran serta kemampuan membedakannya dengan kebatilan. Allah SWT menganugerahkan kekuatan ini pada setiap individu dalam taraf yang sama. Anda tentu pernah mendengar kisah tentang senandung suku pedalaman yang belum berperadaban, “matahari terbit dan terbenam, langit membiru lalu gelap, awan pun terkadang menghitam lalu meneteslah hujan, menghijaulah ladang, pasti ada “sesuatu” yang mengatur semua ini”.

Atau kisah seorang yang tinggal di lingkungan modern yang segalanya diukur secara material, merasakan kejenuhan spiritual lalu melakukan perjalanan mencari “sesuatu yang luar biasa” yang bisa memberinya kebahagiaan luar dalam. Begitulah quwwatul ilmi bekerja, dia akan menuntun siapapun, kapanpun, di manapun kepada hakikat dan kebenaran.

Yang kedua adalah quwwatul iradah wal mahabbah (kekuatan untuk menghendaki dan mencintai), yaitu kekuatan yang menuntun seseorang untuk mengikuti dan mencintai kebenaran yang telah diketahuinya. Karena tidak semua orang yang telah mengetahui jalan kebenaran lantas akan berjalan lurus di atasnya. Betapa sering kita mendengar tentang anak seorang ustadz yang menjadi penjahat, dan sebaliknya anak seorang penyamun justru menjadi mubaligh.

Seperti yang disebutkan baginda Rasul SAW dalam sebuah hadits, ada seorang yang beramal sholih semasa hidupnya sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya sehasta, namun dia berbuat keburukan menjelang akhir hidupnya maka masuklah dia ke neraka. Sebaliknya ada seseorang yang berbuat keburukan hingga jarak antara dirinya dengan neraka tinggal sehasta, namun menjelang akhir hayatnya dipenuhinya dengan amal sholih maka masuklah dia ke surga.

Itulah dua kekuatan hati yang akan mempengaruhi arah pilihan seseorang dalam hidupnya. Jika dua kekuatan tadi diarahkan pada kebenaran maka seseorang akan menjadi pribadi yang selalu ke arah kebenaran dalam setiap pilihannya.

Sebaliknya jika diarahkan pada keburukan maka akan terbentuk pribadi yang buruk paradigmanya dalam setiap keadaan. Sebagaimana diterangkan dalam surat Al Fatihah, orang yang tidak mengetahui kebenaran disebut ad dhol (tersesat),sedangkan orang yang mengetahui kebenaran namun tidak mau mengikutinya disebut maghdzub alaihim (dimurkai). Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari kedua sikap tersebut dan senantiasa menjaga kita tetap menapaki shirotul mustaqim. Wallahu a’lam bisshowab

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat